Membaca Marx dan Para Pengikutnya Inilah buku yang menguliti Marxisme dan pemikiran-pemikiran turunannya. Tak melulu puja-puji, tapi juga kritik keras terhadap pemikiran filsuf Jerman itu. |
Kaum Marxis; Ide-Ide Dasar dan Sejarah Perkembangan
Judul asli: The Marxists
Penulis: C. Wright Mills
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003, xii + 485 hlm.
Membaca Marx, menelaah ide-ide dasar dan sejarah perkembangan kaum Marxis, sekarang ini bukanlah sesuatu yang hina, dosa, atau terlarang. Ketika rezim Orde Baru (1966-1998) masih kuat menggenggam Republik, membaca Marx merupakan tabu politik. Bahkan memikirkan, hanya dalam benak sekalipun, konsep, ideologi, dan cita-cita dasar Marxisme saja adalah tindakan subversif yang dianggap merongrong ideologi negara.
Kini zaman berubah. Reformasi muncul dan Marxisme serta pemikiran turunannya dikaji secara bebas dan mendalam. Buku Kaum Marxis; Ide-Ide Dasar dan Sejarah Perkembangan (The Marxists, 1977) karya Charles Wright Mills ini patut kita apresiasi secara positif sebagai upaya pengkajian tersebut. Buku penting dan istimewa yang ditulis sosiolog Amerika ini menambah manfaat intelektual serta memperluas perspektif pandangan ilmiah kita akan kritik-nalar terhadap ajaran Marx itu sendiri.
Buku ini berisi tentang pemikiran beberapa tokoh "kiri" yang mendukung pemikiran Marx, tetapi sekaligus melakukan revisi atas ajaran Marx yang disesuaikan dengan filsafat, politik gerakan, dan kondisi masyarakat tempat para pemikir itu melakukan aktivitas intelektual dan sosialnya. Untuk mengetahui kesalahan Marx dan para pengikutnya, kita perlu mempelajari apa isi ajaran mereka (kaum Marxis). Karena itu, sangat relevan bila buku yang membahas pemikiran Marxis seperti yang terdapat dalam buku Trotsky, Lenin, Stalin, Mao Tse-tung, Khrushchev, Luxemburg, dan "Che" Guevara dibeberkan secara terbuka dalam rangka proses pembelajaran secara detail bagaimana sejarah dan ide dasar ajaran Marx sesungguhnya.
Karl Heinrich Marx adalah ilmuwan sosial dan revolusioner Jerman yang analisisnya tentang masyarakat kapitalis telah menjadi basis teoretis untuk pergerakan politik Marxisme. Kontribusi utama Marx terletak pada penekanannya terhadap peran faktor ekonomi—berubahnya cara masyarakat dalam mereproduksi alat-alat subsistensi mereka—dalam membentuk sejarah. Perspektif ini punya pengaruh yang amat besar terhadap seluruh jajaran ilmu sosial pada umumnya.
Marx dilahirkan di Kota Trier di Distrik Moselle, Prussian Rhineland, pada 5 Mei 1818. Marx mengasimilasi sejumlah gagasan romantik dan sosialis awal dari Baron von Westphalen, yang anaknya dinikahi Marx pada 1835. Pada tahun ini juga Marx lulus sekolah menengah dan masuk ke University of Bonn, yang selanjutnya ia pindah ke University of Berlin pada tahun berikutnya. Di universitas ini, Marx menjadi pengikut filsafat Hegelianisme. Marx memperoleh gelar doktornya pada 1841 dengan tesis tentang filsafat pasca-Aristotelian Yunani.
Pengaruh Marx, yang dianggap tidak signifikan semasa hidupnya, menjadi sangat berpengaruh setelah ia meninggal dunia (1883). Pengaruh ini pertama kali dibuktikan dengan berkembangnya Partai Sosial Demokratik di Jerman, yang kemudian mendunia seiring dengan suksesnya revolusi Bolsheviks di Rusia pada 1917.
Paradoksnya, kendati inti pemikiran Marx adalah antisipasi bahwa suatu revolusi proletariat yang menjadi transisi menuju sosialisme akan lebih dulu terjadi di negara industri, ternyata Marxisme justru sangat berkembang di negara Dunia Ketiga seperti Rusia atau Cina. Apa yang terjadi di negeri ini bergeser dari perhitungan Marx karena problem kedua negara adalah perekonomian agraris, sedangkan menurut Marx tahap awal perkembangan perekonomian adalah industri.
Nilai intelektual Marxisme tidak hanya menjadi sejarah. Hingga kini paham ini masih relevan untuk dikaji. Kita tidak dapat memahami sejarah keberadaan bangsa besar tanpa terlebih dulu memahami gagasan Marx. Eksistensi gagasan itu sedemikian pentingnya dalam skala global sehingga, terhadap bangsa-bangsa tempat gagasan Marx kurang berperan penting, kita terdorong untuk bertanya, mengapa demikian?
Selanjutnya, apa yang menjadi inti gagasan dan ajaran Marx? Mengapa ide-idenya memiliki daya tarik sedemikian kuat dan luas yang mengubah dunia? Memang, ide-ide ini kurang diminati sebagian besar masyarakat kapitalis maju yang cenderung tidak pernah mengalami kelaparan dan penderitaan akibat kemiskinan dan kebodohan. Bagi mereka, seperti sering ditegaskan, Marxisme pada dasarnya merupakan politik "kelaparan". Pesan ideologis ini melandasi Marxisme sebagai kekuatan politik dan intelektual, dulu dan kini. Dalam Marxisme, sarana dan tujuan, teori dan ideologi, berkaitan sangat erat, bahkan bercampur-aduk. Ketiganya (sarana, tujuan, dan teori) bisa diubah menjadi Pesan Ideologis Marxisme: "Kalian tidak perlu lagi menjadi miskin."
Buku Kaum Marxis; Ide-Ide Dasar dan Sejarah Perkembangan ini merupakan buku primer tentang Marxisme yang ditulis dan diperuntukkan baik bagi mereka yang belum memahami filsafat ini maupun bagi mereka yang sudah akrab dengan Marxisme tetapi masih menganggapnya semata-mata sebagai sebuah ideologi dan bukan praktek kehidupan. Buku ini memikat, dan dari segi bahasa renyah untuk dinikmati.
Syafruddin Azhar (editor buku pada penerbit Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta)
|