Rastafarian Benjamin Zephaniah |

Menolak gelar demi harga diri nenek moyang. Itulah yang dilakukan Rastafarian Benjamin Zephaniah, penyair Inggris. Gelar "The Order of British Empire" yang dihadiahkan Ratu Elizabeth II ditolaknya mentah-mentah. "Ini mengingatkan mimpi buruk tentang penderitaan nenek moyang saya yang dijajah majikan kulit putih," alasannya. Lantaran bersikukuh dengan prinsipnya itu, Zephaniah urung berdiri di sebelah David Beckham, pemain bola kondang, yang menerima gelar serupa. "Saya merasa alergi dengan sesuatu yang berbau kerajaan," katanya.
Muntahan kekesalan juga disemburkan Zephaniah ke mana-mana. Salah satunya mengenai Tony Blair. Zephaniah tak setuju dengan kebijakan Perdana Menteri Inggris itu dalam perang Irak. Zephaniah bahkan menulis artikel yang menyerang Blair. Tapi justru Blairlah yang mengusulkan agar kerajaan memberikan gelar itu kepada Zephaniah. Yang juga menolak gelar kehormatan itu adalah aktris kondang Helen Mirren dan sutradara Ken Loach. Namun hanya Zephaniah yang lantang menjelaskan keberatannya.
Wiranto Arismunandar
Usia 70 tahun memang teramat istimewa. Perlu dirayakan. Itu juga yang dilakukan Wiranto Arismunandar, bekas Rektor Institut Teknologi Bandung yang pernah menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di masa Soeharto. Tapi, beda dengan orang biasa, ulang tahunnya yang dirayakan Sabtu pekan silam di Bandung diisi dengan seminar tentang motor bakar dan propulsi, ilmu yang jadi jagoannya. Lalu, dilanjutkan dengan malam kesenian dan peluncuran buku.
Lagi-lagi buku yang diluncurkannya beda, bukan biografi sebagaimana yang umumnya dilakukan oleh orang yang pernah mengecap posisi penting di negeri ini. Yang diluncurkan sejenis buku rampai tentang bagaimana dirinya membangun kampus ITB. "Saya berharap buku ini bisa dijadikan bahan untuk berbagi pengalaman," kata pria yang masih aktif di kampus ganesha itu. Pengalaman ini tentu untuk kalangan terbatas. Padahal, banyak orang yang kepingin tahu persoalan yang lain. Salah satunya, tentang berbagai demonstrasi yang pecah saat dia menjadi rektor dan juga ketika dia menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat pecah reformasi. "Mungkin lain waktu akan saya tulis," janjinya.
|