Latvia yang Istimewa Latvia membuat kejutan dengan lolos ke putaran final Euro 2004 di Portugal. |
Ribuan orang berpesta di jalanan dan kafe-kafe di jantung Kota Riga, ibu kota Latvia, Kamis tiga pekan lalu. Malam dingin, tapi kegembiraan sangat menghangatkan Riga. Sorak dan tari digelar sampai pagi, sampanye dan bir serta anggur ditenggak sampai mabuk. Mereka merayakan lolosnya tim sepak bola negara pecahan Uni Soviet itu ke putaran final Euro 2004 di Portugal. Inilah untuk pertama kalinya Latvia lolos ke putaran final.
Bahagia menelan negeri itu. Sementara orang-orang di Indonesia malam-malam bulan puasa itu berteriak "sahur... sahur," di Riga sepanjang malam itu orang asyik memekik "Maris... Maris." Maris bukan berarti sahur dalam bahasa Latvia. Maris yang dimaksud adalah Maris Verpakovskis, penyerang gesit yang menjadi pahlawan Latvia di dua pertandingan babak playoff. "Maris selalu mencetak gol dan Latvia tak akan sukses tanpa dia," ujar Anna, seorang perempuan Riga yang ikut larut dalam pesta.
Kegembiraan tak hanya dirasakan warga Latvia. Presiden wanita Vaira Vike-Freiberga dan Perdana Menteri Einars Repse juga larut dalam suka ria. Kado istimewa itu datang sehari setelah warga Latvia merayakan kemerdekaan. "Ini bukan cuma momen bersejarah bagi Latvia, tapi juga kado istimewa ulang tahun kemerdekaan kami," kata Repse.
Warga Latvia memang layak berpesta. Beberapa menit sebelumnya, kesebelasan mereka menahan Turki 2-2 dalam pertandingan kedua babak playoff di Istanbul. Sampai 13 menit menjelang bubar, Latvia masih ketinggalan 1-2, dan Maris muncul sebagai pahlawan untuk menyamakan kedudukan. Hasil imbang itu lebih dari cukup bagi Latvia untuk merebut satu tiket ke putaran final karena dalam pertandingan pertama di Riga mereka menang 1-0. Gol tunggal itu, lagi-lagi, dijaringkan oleh Maris.
Maris, 24 tahun, kini menjadi buah bibir di Latvia. Kiprahnya di tim nasional memang sangat menonjol. Ia juga menjadi penentu langkah Latvia ke babak playoff setelah mengalahkan Swedia 1-0 pada pertandingan terakhir penyisihan grup di Stockholm pada 11 Oktober silam. Kemenangan itu membawa Latvia ke peringkat kedua klasemen Grup 4 dengan nilai 16 dan menyingkirkan pesaing terberatnya, Polandia.
Meskipun hanya bermain di liga lokal, Maris bukan tak dilirik orang luar. Aksinya yang menawan sempat membuat klub divisi utama Inggris, Wolverhampton Wanderers, jatuh hati. Agustus lalu, Maris sempat berlatih di markas Wolverhampton selama dua pekan, tapi dipulangkan lagi. "Mereka belum siap membeli saya," kata pemain yang menjaringkan enam gol di penyisihan dan playoff itu.
Namun kekuatan Latvia tak hanya Maris seorang. Sosok lain yang punya andil besar dalam meloloskan Latvia adalah pelatih Aleksandrs Starkovs. Ia dijuluki sebagai guru sepak bola Latvia karena pelatih klub Skonto Riga inilah yang membangkitkan kejayaan sepak bola negeri berpenduduk 3,2 juta jiwa itu setelah berpisah dari Uni Soviet pada 1991. Seusai menyingkirkan Turki, pelatih 48 tahun itu mengaku tak pernah membayangkan timnya bisa lolos. "Pengalaman ini rasanya seperti dongeng," tuturnya.
Sepak terjang tim dari negeri kecil di tepi Laut Baltik itu memang fenomenal. Mereka hanya diperkuat dua pemain yang punya pengalaman berlaga dalam kompetisi yang ketat di Liga Primer Inggris, yaitu Igors Stepanovs dan Imant Bleidelis. Stepanovs, bek berusia 27 tahun, hanya pemain cadangan di Arsenal. Bleidelis, gelandang 26 tahun, bahkan tak pernah dimainkan Southampton musim ini.
Starkovs tak punya banyak pilihan. Apalagi, sebelum babak penyisihan bergulir, pemain paling berbakat negeri itu, Marian Pahars, menolak bergabung. Pemain Southampton itu sudah setahun lebih absen karena cedera dan sedang menjalani pemulihan. Starkovs akhirnya memboyong sembilan pemain Skonto ke tim nasional, termasuk Maris.
Perjalanan Latvia menuju Portugal sangat berliku. Mereka bersaing dengan dua tim yang tampil di putaran final Piala Dunia 2002, Swedia dan Polandia. Mereka juga harus menyingkirkan Hungaria dan tim lemah San Marino. Tapi keyakinan Starkovs berkembang setelah pada pertandingan perdana penyisihan Grup 4 anak asuhnya menahan Swedia imbang tanpa gol di Riga pada 7 September 2002. Pasukannya semakin pede ketika dalam pertandingan kedua menggasak tim tangguh lainnya, Polandia, 1-0 di Warsawa sebulan kemudian.
Alhasil, Latvia tampil menjadi runner-up Grup 4 dan harus menghadapi runner-up Grup 7, yaitu Turki. Dan pesta di Riga tadi menandai sejarah baru negeri itu di pentas Eropa.
Di Euro 2004 di Portugal nanti, akankah Latvia menjadi penggembira di Grup D, yang penuh "jawara" bola? Jawabannya banyak bergantung pada Maris Verpakovskis. Jadi, ayo Maris, ayo Latvia.
Sapto Yunus
|