Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 41/XXXII/08 - 14 Desember 2003
   
Olahraga

Bidikan Emas Sang Gembala

Pemanah putri Rina Dewi Puspitasari meraih emas pertama SEA Games 2003. Awal kebangkitan panahan Indonesia?

TERIAKAN Donald Pandiangan menghangatkan sore yang dingin di National Sport Training Center, Hanoi, Vietnam. Kegembiraannya tumpah begitu anak panah yang dilesatkan Rina Dewi Puspitasari menancap tepat di dalam bulatan berwarna kuning di tengah papan. Pelatih pahanan itu langsung berteriak, "Ten...!" Benar saja. Rabu pekan silam, anak asuhnya meraih skor sempurna 10 di babak final panahan nomor perseorangan putri SEA Games 2003. Ia sukses mengalahkan pesaing terberatnya, Mon Redee dari Malaysia, dengan skor 110-107.

Rina, 18 tahun, pun tak kuasa menahan haru. Matanya berkaca-kaca ketika diserbu rekan-rekannya. Peluk cium mengiringi keberhasilannya meraih medali emas pertama untuk kontingen Indonesia. Kebahagiaan gadis ini semakin lengkap karena ia juga menjadi atlet pertama yang meraih emas di pesta olahraga bangsa-bangsa Asia Tenggara itu. Emas itu direbut dua hari sebelum SEA Games 2003 secara resmi dibuka. Selain mendapat sekeping emas, Indonesia merebut perunggu melalui pemanah senior Rusena Gelanteh, yang mengalahkan Fairus Hanisah binti Che dari Malaysia dengan skor 103-101 dalam perebutan tempat ketiga.

Di tengah hujan sanjungan, Rina hampir tidak bisa berkata-kata. Dari mulut remaja bertubuh bongsor asal Bojonegoro, Jawa Timur, ini hanya meluncur sebaris kalimat. "Saya senang bisa menyumbangkan emas bagi Indonesia," tutur siswa kelas 3 SMA Ragunan, Jakarta, itu sembari ngeloyor ke ruang pemeriksaan doping.

Medali emas itu terasa semakin berharga karena dalam partai beregu tim panahan putri Indonesia gagal menjadi juara. Rina bersama dua pemanah lainnya, Rusena dan Eniwati, hanya kebagian perunggu setelah kalah dari Filipina di semifinal. Para pemanah putra juga gagal mengikuti jejak Rina. Kuswantoro di- kalahkan Loh Wen Liang dari Singapura dengan skor 106-107 di babak perempat final perseorangan putra. Tim putra, yang terdiri atas Kuswantoro, Syafrudin Mawi, dan Permadi Sandra Wibowo, pun hanya mendapat perak setelah kalah dari Malaysia dengan skor 232-236 di babak final, Jumat pekan silam.

Jangan heran jika hadiah segera membanjiri Rina. Komandan kontingen Indonesia, Djoko Pramono, merogoh kocek US$ 100 dan Ketua Persatuan Panahan Indonesia (Perpani), Subowo, langsung memberikan bonus spontan US$ 200. Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Agum Gumelar, juga menitipkan bonus US$ 200. Jadi, dalam sekejap, Rina mengantongi US$ 500 atau sekitar Rp 4,25 juta. Ini belum termasuk hadiah yang dijanjikan KONI sebesar Rp 30 juta lebih bagi atlet peraih emas.

Kegemilangan tak diraih Rina dengan mudah. Ia harus melewati perjuangan keras sejak babak kualifikasi. Namun, berbekal rasa percaya diri yang tinggi, ia mencetak prestasi fenomenal. Ia dua kali memecahkan rekor SEA Games di babak penyisihan. Rekor pertama dibuat di jarak 60 meter, yang dipertandingkan pada hari pertama, Senin pekan silam. Ia membuat skor 344 atau unggul lima poin dari rekor lama milik pemanah senior Indonesia, Purnama Pandiangan, yang dibuat dalam SEA Games 1991 di Manila, Filipina.

Sehari kemudian, Rina membuat skor total 1.332 dari empat jarak, masing-masing 70 meter (skor 312), 60 meter (344), 50 meter (330), dan 30 meter (346). Total nilai yang ia kumpulkan melampaui rekor pemanah senior Indonesia lainnya, Nurfitriyana Lantang, dengan skor 1.305. Rekor itu dicetak Nurfitriyana dalam SEA Games 1989 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Kelihaian Rina membidik sasaran telah diasah sejak ia menjalani masa kecil di Desa Banjarejo, Kecamatan Kota, Bojonegoro. Ia merupakan anak kedelapan dari pasangan Sudirman dan Katemu, yang sehari-hari hidup sederhana di tepi aliran Bengawan Solo. Menurut Berthon Silalahi, kakak ipar Rina, adiknya sudah belajar memanah sejak duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar. Awalnya, Rina tertarik ajakan kakaknya, Sri Endah Agustina, yang lebih dulu mengenal panahan. Saat itu Tina, de- mikian sang kakak akrab disapa, sudah menjuarai sejumlah turnamen bersama pemanah Bojonegoro lainnya, Wulan Budi. Dua atlet itulah yang mengajari Rina menarik busur dan anak panah. "Mungkin karena melihat piala dan medali kakaknya yang banyak, Rina tertarik," kata Berthon.

Melihat kesungguhan Rina, Tina kemudian mengenalkannya kepada I Nyoman Budiana, tokoh panahan di sana. Menurut Berthon, Nyoman dan Bupati Bojonegoro, H.M. Santoso, adalah dua orang yang berjasa melahirkan atlet-atlet muda berbakat di Bojonegoro. Nyoman menggembleng pemanah-pemanah muda Bojonegoro di tanah kosong miliknya di Desa Banjarejo. Setelah beberapa bulan berlatih, Rina mengikuti kejuaraan nasional junior di Semarang pada 1997. Saat itu Rina baru naik ke kelas 5 SD. Sejak saat itu pula puluhan kejuaraan diikutinya.

Itu sebabnya masyarakat Bojonegoro ikut bergembira ketika Rina berhasil meraih medali emas di pesta olahraga Asia Tenggara. Begitu pula ayah dan ibunya. Mereka langsung mengajak anak-anaknya melakukan sujud syukur. Nyonya Katemu tak menyangka anaknya yang ketika kecil bertugas menggembalakan kambing milik orang tuanya itu berhasil merebut emas. "Saya hanya bisa menangis," tutur sang ibu, yang sehari-hari berjualan di warung kecil di depan rumahnya.

Katemu pun terpaksa menutup warungnya karena ratusan tetangganya berbondong-bondong datang setelah menyaksikan penampilan Rina di televisi. Mereka memberikan ucapan selamat kepada ayah dan ibu Rina. Tamu yang hadir umumnya bertanya apakah Rina nanti akan mendapat hadiah atau bonus uang. "Saya bilang tidak tahu. Kalau ia mendapat hadiah, biar ditabung karena kami sudah tidak mampu membiayai sekolahnya," kata Katemu.

Sekarang Rina memang masih belajar di SMA Ragunan. Di sekolah khusus atlet ini pula bakat gadis Bojonegoro ini semakin terasah. Yang memboyong Rina masuk ke sekolah itu tak lain dari Donald Pandiangan, pelatihnya sekarang. "Robin Hood" Indonesia itu sangat terkesan melihat penampilan Rina dalam pekan olahraga pelajar nasional di Surabaya pada 1999. Kebetulan tahun itu Perpani Cabang Bojonegoro mengontrak Donald selama setahun untuk mengasah kemampuan Rina dan kawan-kawan. Setelah kontraknya habis, Donald membawa Rina untuk bersekolah di SMU Ragunan pada 2001.

Prestasinya terus meroket sejak masuk pemusatan latihan nasional pada Mei 2003. Hanya dalam waktu tujuh bulan, Rina sudah memecahkan rekor nasional milik seniornya, Lilies Handayani, dalam kejuaraan Asia di Yangoon, Myanmar, awal November silam. Di kejuaraan yang dijadikan kualifikasi Olimpiade 2004 itu, Rina membuat skor total 1.333 sekaligus tampil sebagai juara. Tiket ke Olimpiade pun ia kantongi. Rekor lama milik Lilies adalah 1.303, yang dibuat dalam kejuaraan Tour de Nation di Jerman Barat pada Juni 1988.

Menurut Donald, Rina berhasil karena memiliki semangat juang dan komitmen tinggi terhadap cabang yang ia tekuni. Rina juga memiliki teknik yang lumayan. Hanya, masih banyak yang harus ia benahi jika ingin berprestasi dalam Olimpiade, di antaranya kehalusan jari saat melepas tali, kepadatan otot bahu, serta kekuatan fisik. "Mentalnya bagus. Cuma, kalau bertanding, harus lebih gembira. Kalau bermain lepas, akan sangat bagus," kata Donald.

Rasa percaya diri itu rupanya datang dari sang ayah. Sebelum anaknya bertolak ke Hanoi, Sudirman membisikkan nasihat agar Rina selalu percaya diri. "Saya memberikan bekal kepada Rina agar selalu ingat bahwa ia ditugasi oleh seluruh rakyat Indonesia," ujar Sudirman, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang kayu.

Prestasi Rina seperti oasis di tengah terpuruknya prestasi panahan Indonesia. Betapa tidak. Sejak trio "Srikandi" Lilies Handayani, Nurfitriyana, dan Kusumawardhani merebut perak dalam Olimpiade 1988 di Seoul, prestasi panahan terus melorot. Siapa tahu keberhasilan Rina bisa mendongkrak lagi prestasi Srikandi-Srikandi kita pada Olimpiade nanti.

Sapto Yunus, Dwidjo U. Maksum (Bojonegoro), Yudono (Hanoi)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data