Memburu Taufiq dari Gribig Polisi menangkap Taufiq Ahmad, seorang aktivis Islam di Kudus, atas dugaan terlibat jaringan terorisme. Ada dua nama Taufiq, benarkah ini yang dicari? |
PAGI itu, Taufiq Ahmad memacu sepeda motornya dengan hati berbunga. Maklum, bersama istrinya Alifah dan seorang putrinya yang masih balita, Ahad 30 November lalu itu, Taufiq baru saja mengambil tagihan usaha sablonan dari rumah seorang koleganya.
Tiba-tiba dua orang memanggil-manggil namanya. Merasa tak mengenali mereka, Taufiq acuh saja. Tapi, sesampainya di Jalan Raya Besito, Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kudus, Jawa Tengah, motor Taufiq terhenti saat dua pria bertubuh kekar dan berambut panjang itu memepet, lalu menyeretnya ke mobil Kijang biru metalik yang mengikuti di belakang mereka. Pria berusia 40 tahun itu berontak, namun tiada guna. Dua pria itu lalu mengaku sebagai aparat kepolisian. "Lo, memangnya saya salah apa, kok diperlakukan begini," protes Taufiq.
Beberapa hari kemudian barulah diketahui bahwa Taufiq Ahmad ditangkap dan ditahan di Markas Besar Polisi di Jakarta, setelah Wakil Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Soenarko, menggelar jumpa pers tentang penangkapan itu.
Direktur VI Antiteror Markas Besar Kepolisian, Brigjen Pranowo Dahlan, juga membenarkan anggotanya telah menangkap Taufiq Ahmad karena dugaan terlibat dalam aksi terorisme. Cuma, polisi masih belum memutuskan Taufiq sebagai tersangka sebelum pemeriksaan 7 kali 24 jam sesuai dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang terorisme. "Dia sekarang sedang kami periksa," kata Pranowo kepada Koran Tempo.
Sejauh ini polisi mempercayai Taufiq Ahmad sebagai orang penting jaringan kelompok Sri Rejeki Semarang, yang pada Juli lalu dibekuk polisi karena ketahuan menyimpan amunisi dan bom hampir satu ton di rumah kontrakan mereka di Semarang. Mereka adalah Siswanto alias Antok, Mahmudi Hariono alias Yusuf, Heru, dan Luluk
Menurut Direktur Reserse Kriminal Polda Jawa Tengah, Komisaris Besar Rusbagyo Ishak, Taufiqlah yang mengurus kartu tanda penduduk (KTP) asli tapi palsu kelompok Sri Rejeki. "Jadi ada kaitan erat antara Taufiq dan kelompok Sri Rejeki," kata Rusbagyo.
Hampir setengah tahun polisi memburu Taufiq, sejak pemimpin kelompok Sri Rejeki, Mustofa, menyebut-nyebut nama itu. Mustofa sendiri kini ditahan di Polda Metro Jaya. "Dalam BAP Mustofa, ia mengakui Taufiqlah yang membuatkan KTP palsu untuk mereka," kata Rusbagyo kepada Sohirin dari TEMPO.
Menurut polisi, salah seorang anggota kelompok Sri Rejeki, Antok, sangat akrab dengan Taufiq, karena pernah bekerja di bengkel elektronik milik Taufiq di Kudus. Tapi, menurut Tamrin, adik Taufiq, kakaknya sama sekali tak aktif di organisasi kecuali Muhammadiyah. Cuma diakui, kakaknya memang pernah belajar di Pondok Pesantren Ngruki, Surakarta, dan lulus tahun 1980-an.
Tak satu pun keluarga Taufiq percaya bahwa saudaranya itu terlibat jaringan teroris, seperti yang disangkakan polisi. Yang mereka akui, selama menjadi khatib Jumat, Taufiq memang kritis menyoroti kezaliman, khususnya korupsi. "Saya kira Taufiq hanya dikait-kaitkan," ujar Tamrin.
Ayah Taufiq, Ahmad Husein (almarhum), memang pernah aktif di DI-TII bersama H. Falech, orang tua Abu Rusdan (Toriquddin), yang kini ditahan dengan kasus sama. Apakah karena itu Taufiq ditangkap? Yang jelas, saat Abu Rusdan ditangkap pada Februari lalu, ia baru pulang dari rumah Taufiq di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kudus. "Kak Taufiq kenal Abu Rusdan, tapi tidak akrab," ujar Tamrin.
Yang menarik, seorang perwira di Polres Kudus menyebutkan, polisi sempat dibingungkan adanya dua nama Taufiq di Desa Gribig. Pertama Taufiq Rozak dan satunya Taufiq Ahmad. Taufiq Rozak memang membuka bengkel elektronik di Jalan Jepara, Desa Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. Namanya "Kondang Jaya Grup". Setelah nama Taufiq menjadi sorotan, bengkel itu berganti nama, "Maju Jaya". Taufiq Rozak asli Magelang dan memiliki dua istri.
Taufiq Rozak, menurut perwira itu, menghilang dari rumahnya sejak enam bulan lalu. Hal ini diketahui karena sumber TEMPO itu pernah memperbaiki kipas angin di bengkel Taufiq Rozak, namun tak pernah selesai karena pemilik bengkel kabur. "Kalau tahu dia Taufiq, sudah saya tangkap," ujarnya.
Adapun Taufiq Ahmad sehari-hari dikenal sebagai mubalig dan khatib salat Jumat di sejumlah masjid Muhammadiyah di Jepara dan Kudus. Ia juga pengurus Warga Qiroatul Quran (WQQ), sebuah kumpulan warga Muhammadiyah yang mendalami bacaan dan lagu Quran.
Taufiq ini mempunyai empat anak. Bersama keluarganya, ia tinggal di rumah mertuanya, Solichin, di Desa Gribig, Kudus. Di rumah sederhana yang temboknya tampak kusam itu, Taufiq membuka usaha sablon. Sedangkan istrinya menjual madu dan es batu. "Suami kami tidak pernah buka bengkel elektronik," ucap Ny. Alifah.
Lalu, yang terlibat teroris, Taufiq yang mana? Adi Prasetya, Bandelan Amaruddin (Kudus)
|