Menunggu Panser van Bandung |
PRAJURIT TNI boleh saja gagah-gagah, tapi peralatannya menyedihkan. Di Aceh mereka bertempur memakai kendaraan tua yang menyebalkan. Sering ngadat, onderdil susah didapat, suka bikin gara-gara lagi. Itulah yang dialami korps kavaleri TNI di Aceh sejak penerapan darurat militer hampir tujuh bulan lalu. Bahkan, gara-gara as roda belakang patah, dua pekan lalu, sebuah kendaraan angkut pasukan Saracen milik TNI terguling ke jurang Desa Jambi, Kecamatan Sungai Daulat, Kabupaten Aceh Singkil. Akibatnya, seorang juru kamera Indosiar tewas, seorang reporter dan enam prajurit terluka.
Kecelakaan itu mengherankan. Soalnya, kendaraan buatan Inggris yang mirip kepala buaya itu dikenal cukup tangguh di medan off road. Apalagi ia punya tiga pasang roda kekar antiselip. Begitulah, faktor usia tampaknya sudah tak bisa ditutup-tutupi lagi. Menurut juru bicara Kodam Iskandar Muda, Letkol CHB Firdaus, kendaraan itu sudah cukup uzur. "Panser itu memang buatan tahun 1960-an," ujarnya. Di beberapa negara, kendaraan lapis baja semacam ini sudah banyak yang masuk museum.
Tak ada dana menjadi alasan mengapa kendaraan tempur tua masih dioperasikan. Tengoklah kekuatan kavaleri TNI. Untuk negara dengan luas daratan 1,9 juta kilometer persegi, Indonesia hanya dikawal 275 tank AMX-13 buatan Prancis, 50 tank Scorpion buatan Inggris, dan 30 tank PT-76/2000 buatan Uni Soviet. Repotnya, kondisi PT-76/2000 sudah tak memadai lagi gara-gara bagian turret (menara putar) mulai seret. Harap dimaklumi, tank ini dibeli pada zaman Orde Lama.
Kendaraan tempur lainnya adalah 78 panser Saladin buatan Inggris, 55 Ferret, dan 28 Commando Scout buatan Amerika Serikat. Adapun kendaraan angkut pasukan yang dimiliki adalah 200 AMX-VCI MICV dan 50 AMX-10PS buatan Prancis, 55 Saracen—14 telah dimodernkan—buatan Inggris, 58 V-150 Commando buatan Amerika Serikat, serta 130 BTR-40S dan BTR-50 buatan Uni Soviet. Yang lumayan baru, setahun yang lalu TNI membeli beberapa puluh panser BMP-2 dan kendaraan angkut pasukan amfibi BTR-80A produksi Rusia.
Repotnya, tak hanya soal anggaran yang mencekik. Sejak diterapkan darurat militer di Aceh, Inggris melarang TNI memakai mesin perang buatan mereka, terutama Scorpion, untuk menggempur Gerakan Aceh Merdeka. Walhasil, tampilnya tank-tank itu di Aceh jadi kurang optimal. "Kami hanya bisa memakai sebagai pengangkut pasukan," kata Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin. Sedangkan beberapa tank berkanon terpaksa ditarik.
Nah, untuk memperkuat daya tempur pasukannya di Aceh sekaligus mengganti mesin perang yang sudah uzur, TNI melakukan inovasi. PT Pindad di Bandung yang ketiban sampur menyiapkan 40 kendaraan pengangkut pasukan. Kendaraan bernama Panser APR (Angkut Personel Ringan) itu diasembling dari kendaraan bermesin Isuzu, dengan bodi terbuat dari pelat baja antipeluru, dilengkapi persenjataan seperti granat perisai untuk menghalau musuh, granat tajam, dan granat luncur.
Panser made in Pindad ini didesain sangat sederhana, menyerupai truk. Semua kontrol alat-alat komunikasi dan persenjataannya menggunakan bahasa Indonesia sehingga mudah dioperasikan siapa pun. Tempat duduk kendaraan berkapasitas 10 penumpang ini juga didesain sesuai dengan postur prajurit TNI sehingga lebih nyaman. "Desain tempat duduk yang pas dengan tubuh sangat penting karena mengakibatkan kondisi tempurnya pas," kata Sena Maulana, desainer panser itu.
Menurut desainer dari Divisi Kendaraan Tempur PT Pindad itu, 60 persen komponen panser van Bandung ini masih didatangkan dari luar negeri. Pelat baja antipeluru untuk bodi didatangkan dari Australia, sedangkan alat komunikasi didatangkan dari AS. Tapi mesin, sistem persenjataan, dan beberapa komponen lainnya, termasuk ban, asli buatan dalam negeri.
Panser asembling ini jauh lebih murah daripada panser asli buatan pabrik dengan tipe dan kemampuan yang sama. Soalnya, panser ini hanya Rp 500 juta per unit, sedangkan panser buatan Singapura bisa mencapai Rp 3 miliar, dan buatan Inggris, Prancis, atau AS bisa mencapai Rp 6-10 miliar per buah. Saat ini Pindad sudah menyelesaikan 10 dari 40 unit panser pesanan. Sepuluh unit yang telah selesai akan segera dikirim ke Mabes TNI karena akan segera digunakan di Aceh. "Sisanya pada akhir Desember 2003 ini bisa dikirimkan," kata Sena optimistis.
Menurut Sena, kendaraan yang dirancangnya itu sangat andal untuk medan tempur paling berat. Setelah diuji di medan off road Bungbulang, Garut Selatan, hasilnya sangat memuaskan. "Kalau panser ini nanti digunakan di Aceh, tidak ada masalah," ujar Sena. Soalnya, panser 4 roda itu bisa melaju dengan kecepatan 100-120 kilometer per jam di medan berat datar, dan bisa menaiki medan terjal dengan kemiringan 30 derajat.
Mari kita buktikan, Bung!
Hanibal W.Y. Wijayanta dan Rinny Sri Hartini
|