Kuli di Balik Layar Dunia Sebagian besar penggarapan film animasi impor yang beredar dan digemari bocah di Tanah Air dilakukan di Indonesia. Animator Indonesia kebagian peran tak sepele, yaitu sebagai in-betweener. |
I Ketut Arthayasa mungkin nama yang sama sekali asing bagi pencinta film animasi dunia. Di bawah bayangan raksasa film animasi Hollywood dan Jepang, nama seniman Bali ini nyaris "enggak bunyi". Tapi jangan kaget: banyak film animasi yang digemari bocah di seluruh dunia pernah lahir dari tangannya. Sebut saja Pokemon dan Inuyasha dari Jepang. Atau Conan, Aladdin, dan A Little Mermaid produksi Hollywood. Atau Ramayana, yang sangat populer di India.
Hampir semua gambar yang menghidupkan film itu dihasilkan Ketut dan rekan-rekannya di sebuah bengkel kerja di Jalan Trijata 67, Denpasar, Bali. "Saya tidak tahu berapa karya yang sudah kami hasilkan," kata Ketut, merendah, kepada Alit Kertaraharja dari Tempo News Room. Kini, bersama beberapa rekannya, Ketut sedang menggerakkan perusahaan baru setelah perusahaan tempatnya dulu bekerja, PT Marsajuwita Indah Animation, tutup buku.
Tak berlebihan jika Ketut lupa jumlah film animasi yang pernah digambarnya. Hampir semuanya produk impor, memang. Tapi, para animator Indonesialah yang sebagian besar menggarapnya. Film animasi Jungle Book, misalnya, lebih dari 70 persen gambarnya digarap oleh animator Bali. Karena itu, Ketut tak sendirian. Ada nama lain seperti Maria Tjhin dari Castle Animation, yang menggarap Petualangan Carlos, produksi Spanyol.
Adalah para animator kita yang tergabung dalam Asiana Wang Animation yang menggarap gambar-gambar untuk film animasijangan kagetDoraemon, Sailormoon, bahkan Johnny Quest. Sayangnya, perusahaan yang juga pernah menggarap sejumlah film animasi produksi Warner Bros itu kini hanya tinggal nama. Sebaliknya, Ketut, Maria, dan para rekan animator mereka tetap bekerjadan tetap di belakang layar. Nama mereka tak pernah tampil dalam kreditasi film.
Ketut dan kawan-kawan memang bukan kreator tokoh animasi yang digilai bocah dunia itu. Namun, di tangan merekalah para tokoh itu menjadi hidup, lewat adegan demi adegan yang mereka gambar secara kreatif. Dalam bekerja, mereka biasanya menerima pesanan dari perusahaan film animasi atau produser film Hollywood dan Jepang. Mekanismenya tak ruwet- ruwet amat.
Sejumlah perusahaanTrans Art, Tatsunoko, dan Walt Disneylebih dulu telah menciptakan cerita dan karakter tokoh animasi. Tiap adegan kunci dalam alur kisah telah digambar oleh animator perusahaan pemesan. Produk gambar ini lazim disebut key drawing atau key animation. Misalnya adegan memukul mulai dari tangan terkepal hingga bogem mentah itu mendarat di pipi.
Nah, animator kita tinggal mengisi "gambar-gambar antara" yang menghidupkan tiap-tiap adegan. Jumlahnya rata-rata bisa mencapai 25 gambar per satu detik. Satu menit tayangan bisa menuntut sekitar 1.500 gambar. Hitung saja berapa gambar yang harus mereka buat untuk sebuah film animasi berdurasi 30 menit.
Dalam dunia film animasi dua dimensi ( two-D), pekerjaan ini dikenal dengan istilah in-between. Maria Tjhin lebih senang memakai istilah sederhana: "pekerjaan kasar" alias "kuli". Itu lantaran keseluruhan ide cerita dan karakter tokoh animasi memang bukan lahir dari tangan in-betweener. Meski bukan penggagas utama film animasi, pekerjaan in-betweener tetap tak bisa disepelekan.
Ibarat membangun rumah, in-betweener adalah tukang atau kuli bangunan andalan yang mengerjakan penyusunan bata dengan semen, hingga pengecatan dinding. "Tapi mereka tukang yang sangat diandalkan arsitek atau kontraktornya," kata Adez, juga seorang animator. "Kalau enggak ada mereka, ya, rumah enggak bakalan selesai."
Bahwa perusahaan film animasi Hollywood dan Jepang melirik animator Indonesia untuk menggarap gambar in-between, tentulah karena kualitas karya mereka yang memang tak kalah dan mampu bersaing. Namun Gotot Prakosa, yang menjadi Ketua Panitia Festival Film Animasi beberapa waktu lalu, menduga ada alasan khusus lain.
Dosen Institut Kesenian Jakarta itu menyebut bayaran animator kita yang relatif rendah dibandingkan dengan animator asing. Mereka biasa dibayar per paket dan menerima honor per bulan. "Orang kita kan senangnya gajian tiap bulan," tutur Gotot, tanpa menjelaskan jumlah rupiahnya. Dengan para animator asing, proses negosiasi bisa panjang dan alot.
Tapi Gotot juga tidak menafikan kemampuan fantasi dan kualitas gambar para animator kita, yang turut mendorong perusahaan film animasi dunia gemar memberikan order. Pendapat Gotot ini dibenarkan Adez. Animator yang nama aslinya Deswara Aulia ini baru saja membuktikan, animator di Tanah Air tak kalah bersaing dengan negara lain.
Adez dan tujuh rekannya yang tergabung dalam Dimentia Animation baru saja menerima kontrak penggarapan film animasi panjang untuk layar lebar bertajuk Tripping the Rift. Film animasi tontonan dewasa ini semacam pelesetan dari film Star Wars nan termasyhur itu. Dimentia bersama beberapa perusahaan animasi dari Kanada dan India menerima tawaran dari Science Fiction Channel, Amerika Serikat. Masing-masing mendapat pesanan menggarap adegan-adegan terpisah.
Dimentia mendapat tawaran ini melalui jalan cukup berliku. Sebelum menggarap sebuah adegan animasi dalam film Janus Prajurit Terakhir, nama Adez dan kawan-kawan berhasil menembus komunitas animator dunia lantaran prestasi mereka di ajang internasional. Mereka terpilih menduduki peringkat ke-9 dalam kompetisi yang diikuti komunitas animator dunia pada 2001. Sembilan nama lain dalam kotak 10 besar didominasi animator Hollywood.
Setelah menjuarai kompetisi sejenis sebagai juara ketiga pada 2002, dan kompetisi se-Asia di Taiwan pada 2003, Dimentia digaet Science Fiction Channel untuk masuk dalam overall team penggarapan film Tripping the Rift. Pekerjaannya bukan hanya sebagai in-betweener, tapi lebih mendekati penggarapan film animasi penuh. Untuk film 3 dimensi (three-D) itu, Dimentia mengerjakan tahap modelling, tekstur, dan penganimasian.
Tentu ada pembagian kerja yang berbeda dengan perusahaan dari negara lain. Adez mengaku, untuk film panjang 3D ini Dimentia dibayar Rp 500 juta lebih. Tapi jelas bukan hanya imbalan menggiurkan yang layak disyukuri. Hampir dapat dipastikan, nama Dimentia akan tampil dalam kreditasi film ini kelak. Pasalnya, mereka bukan lagi menjadi "kuli" (baca: in-betweener), tapi sudah sebagai subkontraktor.
Telni Rusmitantri
|