Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 41/XXXII/08 - 14 Desember 2003
   
Layar

Hidup di Jalur Idealisme

Industri film animasi Indonesia jalan di tempat. Ada yang bertahan dari sebuah "kamar kos".

BAYANGKAN sebuah "pabrik" film kartun di Indonesia. Lengkap dengan studio besar, seperangkat mesin animasi (animation stand), ratusan meja gambar, puluhan komputer dan mesin scanner. Di sana ratusan animator sibuk bergiat, mulai dari membuat gambar kunci hingga melukis setiap gerak. Dinding ditempeli sketsa aneka karakter—sebagian sudah sangat akrab sebagai pesohor kartun Disney.

Berlebihankah bayangan ini? Tak juga. Setidaknya, sekitar lima tahun lalu, kesibukan layaknya studio kartun kelas dunia ini menjadi pemandangan lazim di studio film kartun milik PT Asiana Wang Animation di Kawasan Industri Cikarang, Bekasi. Bekerja sama dengan Wang Film Production, Taiwan, mereka mengerjakan belasan film kartun—bahkan layar lebar— pesanan Warner Bros hingga Walt Disney, sejak 1996. Tenaga animator sepenuhnya orang Indonesia.

Sayangnya, ketika TEMPO mengunjungi "pabrik" itu beberapa bulan silam, kesibukannya jauh berkurang. Dari 300-an animatornya, saat itu hanya tersisa sekitar 70. Itu pun hanya menempati sepertiga ruangan "pabrik" seluas empat hektare itu. Di atas puluhan meja gambar, debu mulai menebal…. Dan kini, studio itu praktis berhenti berproduksi.

Semua karyawannya dirumahkan, karena Asiana Wang tak kuat menanggung tingginya biaya produksi, sementara pemasaran seret. "Saat ini kami bertahan hanya dengan sekitar sepuluh animator saja," kata Ammarsjah, direktur PT Asiana. Mereka tinggal menggarap animasi berdurasi pendek pesanan perusahaan iklan lokal.

Menghidupkan industri film animasi Indonesia kayaknya ibarat si pungguk merindukan bulan. Hampir setengah abad sejak berkembang pada 1950-an, produksi animasi Indonesia kini mentok. Jangankan memproduksi animasi layar lebar yang dipertontonkan di bioskop-bioskop nasional, untuk menembus tayangan berkala di televisi swasta nasional saja susahnya bukan kepalang. Kendala utamanya klasik belaka: fulus.

Perihal tenaga bertalenta dan kreatif, "Boleh diadu dengan animator mana pun di dunia," ujar Ammarsjah. Buktinya, mereka dipakai menggarap film animasi kelas dunia. Asiana, misalnya, pernah mengerjakan serial kartun Ace Ventura: Pet Detective. Juga serial Chuckle Wood Creeters yang pernah diputar di SCTV. "Mereka beli langsung dari Amerika, tanpa tahu serial itu kita yang bikin, ha-ha-ha...," kata Bambang Gunawan, Direktur Kreatif Asiana.

Atau sebut saja film layar lebar sekelas Jungle Book produksi Walt Disney, yang 70 persen digarap oleh animator dari Bali (baca Kuli di Balik Layar Dunia). Ketut Artyasa, sang animator, bahkan juga membidani kartun ternama dari Pokemon, Conan, Aladin, hingga The Little Mermaid, walau sebatas terlibat dalam tahap produksi—tanpa ikut membuat story board pada praproduksi, misalnya.

Merekalah yang dikenal sebagai in-betweener atau penggambar proses "in-between". Tapi justru di tahap inilah dibutuhkan banyak animator. Pengalaman sebagai in-betweener itu dianggap sebagai bekal ketika Asiana mulai memproduksi film animasi sendiri pada 2001. Itu berarti mereka memulai dari menulis skenario, merancang karakter dan tokoh cerita, hingga menyelesaikan story board-nya.

Mereka pula yang menggarap proses produksinya, mulai dari membuat lay out, gerakan kunci, mengisi bingkai gerak (in-between), perwarnaan, hingga perangkaian gambar sesuai dengan cerita. "Kami bahkan menyelesaikan pascaproduksinya sendiri, seperti men-dubbing dan memindahkannya ke format broadcast," ujar Bambang Gunawan, yang akrab dipanggil Bambi.

Tidak sia-sia, Asiana berhasil memproduksi film kartun bertema cerita rakyat dan sejarah, di antaranya Anoman dan Hikayat Sunan Kalijaga. "Tapi ternyata butuh biaya sangat besar," kata Ammarsjah. Untuk satu episode animasi kualitas kelas B—satu detik gerakan dengan 15 bingkai gambar—berdurasi 26 menit dibutuhkan dana sekitar Rp 200 juta. Untuk layar lebar, dana itu bisa membengkak lima kali.

Ini tak sebanding dengan harga jualnya. Stasiun televisi swasta, sebagai sasaran pasar utamanya, lebih memilih membeli film kartun dari luar yang jauh lebih murah. Untuk satu episode film kualitas kelas A—gerakannya paling halus, dengan 25 bingkai per detik—berdurasi setengah jam, mereka cukup merogoh kocek US$ 2.000 atau sekitar Rp 17 juta.

Kebuntuan pasar inilah yang juga dirasakan Red Rocket Animation, produsen film kartun dari Bandung. Garapan Red Rocket berhasil menembus RCTI dengan menggandeng produsen susu Dancow-Nestle pada 2002. Mereka membuat serial kartun 13 episode dengan cara membeli jam tayang di stasiun komersial. "Kami berhasil menggeser rating Doraemon saat itu," ujar Poppy Palele, Produser Eksekutif Red Rocket.

Menurut Poppy, mentoknya industri film animasi Indonesia disebabkan kurangnya dukungan. "Sekolah khusus animasi, misalnya, belum ada hingga kini," katanya. Di Fakultas Seni Rupa ITB, contohnya, hanya ada studi komunikasi visual. Sedangkan di luar negeri, menurut Poppy, ada jurusan khusus yang memperdalam animasi, yang harus ditempuh dalam tiga tahun. "Itu pun biasanya sang animator dianggap belum matang," ia menambahkan.

Hal senada diutarakan Bambi, yang menganggap meskipun Indonesia kebanjiran animator andal, hingga kini belum ada sutradara film animasi yang mampu mengelola semua proses. Toh, situasi lesu darah ini tidak membuat semangat para animator surut. Red Rocket, misalnya, hingga kini mampu bertahan lebih dari sepuluh tahun.

Poppy mengaku, meskipun permintaan kurang, pihaknya tetap memproduksi animasi. "Bisnis di dunia animasi mustahil bisa bertahan hanya karena tergiur uang," katanya. "Kita butuh idealisme." Kini, selain banyak ikut festival film animasi, Red Rocket sibuk menerima pesanan dari luar negeri.

Langkah ini pula yang ditempuh Studio Kasatmata dari Yogyakarta. Mereka berhasil memproduksi karya-karya bermutu hanya dari kamar kontrakan seluas 12 meter persegi. Di ruang yang mirip kamar kos mahasiswa itu sembilan animator mereka bekerja dengan enam komputer. Produk andalan mereka, Loud Me Loud dan Kelolodhen, menjadi langganan penghargaan di berbagai festival, di antaranya di Festival Film Animasi beberapa waktu lalu.

Kasatmata sendiri berangkat dari coba-coba. Berawal dari sekumpulan mahasiswa—kebanyakan dari Universitas Gadjah Mada—mereka bergerilya menelurkan film animasi. Ketika membuat Loud Me Loud, misalnya, mereka meminjam Laboraturium Komputer Fakultas Arsitektur UGM pada malam hari. "Sebab, kalau siang, dipakai mahasiswa, ha-ha-ha…," ujar Keliek Wicaksono, animator Kasatmata.

Kini mereka sibuk menggarap film animasi layar lebar pesanan sutradara Garin Nugroho, berjudul Homeland. Sesuai dengan judulnya, film ini sarat dengan idealisme kecintaan pada tanah air. Pesanan ini membuat mereka bertahan, mampu mengontrak rumah dan membeli seperangkat komputer.

Endah W.S., Bobby Gunawan, Heru C. Nugroho


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data