Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 41/XXXII/08 - 14 Desember 2003
   
Layar

Pergulatan Mencari Karakter

Pada 1958, seorang siswa SMA di Jepang menangis menonton film kartun Hakujaden (Legenda Ular Putih). Tragedi siluman berparas cantik itu menyentuh emosinya. Sejak saat itu ia bertekad menjadi pencipta komik, membuat animasi yang tak bakal dilupakan anak-anak. Sempat ia menjadi penulis naskah drama absurd—sesuatu yang berkonotasi intelektual dan pada 1970-an sedang in di kalangan dramawan Jepang. Tapi ia merasa tak cocok.

Itulah Hayao Miyazaki, yang filmnya, Spirited Away, meraih Oscar 2003. Lahir pada 5 Januari 1941 di Akebono-Cho, Tokyo, ayahnya adalah direktur perusahaan yang membuat kemudi bagi bomber-bomber Jepang, sehingga Miyazaki kecil pintar menggambar pesawat. Lulus Fakultas Ekonomi Universitas Gakushuin, pada 1963, ia lalu menjadi animator.

Para jagoan animasi Hollywood seperti Rony Bancroft, sutradara Mulan, atau Kirk Wise, Beauty and the Beast, mengakui karya-karya Miyazaki memiliki kedalaman tersendiri dibanding animasi Jepang lain. Ramai-ramai aktris Gillian Anderson (X-Files), Minnie Deriver (Good Will Hunting) mengisi suara untuk filmnya: Princess Monokoke adalah bukti dari itu. Film yang DVD-nya sudah beredar di Jakarta ini berkisah tentang seorang gadis yang diasuh dua serigala putih.

John Lasseter, su-tradara Toy Story, mengaku sangat "berutang" pada film-film Miyazaki. "Saat kami bekerja dan tiba-tiba ide macet, saya selalu mengambil salah satu film Miyazaki, menontonnya, dan pasti menemukan solusinya," demikian ia menulis. Satu di antara kekhasan Miyazaki, menurut para pengamat, adalah kemampuannya menjangkau dunia batin.

Dalam istilah Paul Dini, sutradara dan produser seri Batman dan Superman, film Miyazaki mampu mentransendensi tindakan-tindakan lahiriah para tokohnya. Kini Miyazaki memimpin studio Ghibli—disebut-sebut sebagai studio animasi terbaik di Jepang. Lebih dari 80 animator, rata-rata anak muda 18-25 tahun, bekerja di bawah bimbingannya.

Miyazaki gigih berpendapat, animasi Jepang mampu memiliki style berbeda dari Walt Disney. Hal-hal dasar seperti gerak, misalnya, mendapat perhatian seriusnya. Selama ini Walt Disney menganggap gerak-gerik tokoh kartun lebih cocok bila sedikit didramatisasi, seperti gerak-gerik pemain teater. Lihatlah Putri Salju, Cinderella, atau Peter Pan: gesturkulasinya seperti penari balet dan cenderung musikal. Sebaliknya, Miyazaki tertarik mengembangkan gerak-gerik natural, tak dilebih-lebihkan, realistis.

Yang ingin ditonjolkan Miyazaki adalah karakter. Untuk melukiskan pesona seorang tokoh, animasi Walt Disney butuh banyak visualisasi ekspresi muka—mata, mulut, hidung, alis—atau tangan. Miyazaki lebih cenderung menampilkan satu gerakan, tapi yang mampu menyinarkan seluruh pesona itu. Baginya, Walt Disney terlalu ekspresionis, terlalu eksesif, dan cerewet.

Kepada para animatornya, Miyazaki selalu menekankan, bahkan "figuran" yang muncul sekelebat pun harus tampil karakternya. Ada yang menuding sikap "irit" gerak itu siasat menekan biaya produksi. Mungkin benar. Tapi ingatlah seorang samurai dalam Seven Samurai Akira Kurosawa, yang perangainya diam, dingin, tenang, tapi terpancar kegaharannya. Miyazaki, agaknya, mencari ekspresi yang tumbuh dari irama tubuh manusia Jepang sendiri.

"Mengapa lelaki berkulit putih di atas pohon, tidak berdiri di tanah saja?" ia bertanya, seperti diceritakan wartawan majalah Anime, ketika Miyazaki menonton satu film animasi Hollywood. Miyazaki berusaha sekeras mungkin menghindari nuansa rasisme, sesuatu yang menurut dia sering tak sadar ada dalam film.

Kini industri animasi menjadi tulang pungung dunia permainan elektronik (game), sesuatu yang menurut dia wajar. Tapi ia prihatin, makin lama bahasa game cenderung ke tema kekerasan. "Salah satu bagian paling sulit saat membuat film adalah menentukan mengapa seorang tokoh menjadi bajingan," katanya. Sementara itu, dalam dunia game, gambarannya selalu hitam-putih.

Ada satu adegan Legenda Ular Putih yang terekam terus di benaknya. "Mengapa kamu mencintai manusia?" tanya Raja Naga ke Siluman Ular Putih. "Manusia memiliki jiwa, itu yang tidak kita punyai." Jawaban siluman ayu itu, seperti dikatakan Miyazaki dalam pidatonya di Nagoya Cinema Festival 1988, tentu meleset. Kenyataannya, banyak manusia justru tak memiliki belas kasihan.

Miyazaki masih sering ingat kejadian di malam buta Juli 1945, saat Utsonomiya, kotanya, dibombardir pesawat-pesawat Sekutu. Ia, beserta ibunya yang menggendong adik bayinya, tunggang-langgang. Itulah sebabnya filmnya sering menampilkan dunia makhluk halus lebih welas asih daripada dunia kita.

Seno Joko Suyono


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data