Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 41/XXXII/08 - 14 Desember 2003
   
Layar

Bertualang di Kota Para Roh

Spirited Away, film animasi Jepang, meraih Academy Award dan melibas film animasi Disney yang selama ini merajai animasi dunia. Kekuatannya, film ini berangkat dari dunia folklor.




INILAH kota para roh. Di situlah tinggal roh manusia dan demit aneka satwa, mulai dari siput, cumi-cumi, laba-laba, serangga, semut, yang bercampur baur dengan capung. Penguasa kota itu adalah penyihir Yu Baaba, nenek tua bersayap. Ia adalah pemilik sebuah tempat pemandian supermewah dengan kamar-kamar luks, dilengkapi lift. Karena pengaruh kekuatan mantranya, para roh itu menjadi lupa nama aslinya dan tunduk pada kemauan Yu Baaba.

Inilah karya Hayao Miyazaki yang menggegerkan dunia. Sebuah film animasi pemenang Academy Award 2003 kategori animasi yang seolah mengejek kelompok raksasa Disney, yang selama ini sudah merajai pasaran animasi dunia. Film Spirited Away ini—yang ditonton anak-anak Indonesia berkali-kali melalui DVD—akhirnya mengukuhkan bahwa Jepang akan memasuki pasar animasi dunia dan bersaing ketat dengan Hollywood.

Adakah yang bisa dipelajari dari kisah sukses Spirited yang mengejutkan ini? Dengarkan kisah antropolog James Danandjaja, yang meneliti folklor Jepang pada 1995. Setelah keluar-masuk pedalaman Kyoto dan Osaka, mengikuti festival rakyat di musim semi dan gugur, antropolog Universitas Indonesia ini menulis, "… Tak seperti berbagai makhluk alam gaib di kota-kota Eropa yang sudah menjadi jinak, karena sudah berada dalam buku dongeng untuk menghibur anak-anak, di Jepang makhluk alam gaib masih diyakini keberadaannya…."

Kesan ahli folklor itu akan membantu kita me- mahami kekuatan film animasi Jepang, yang banyak mengolah khazanah sastra lisan Jepang, termasuk film Spirited Away karya Hayao Miyazaki. Jalan cerita film ini sesungguhnya sangat sederhana, yakni tentang seorang gadis cilik yang terperangkap dalam dunia antah berantah, dunia para hantu, yang topografinya di atas kabut, di atas laut.

Kisah petualangan gadis yang tersesat, dalam dunia Barat, telah begitu populer, misalnya lewat Alice in Wonderland. Namun Hayao Miyazaki, maestro animasi Jepang itu, seolah tahu betul akan kekayaan folklor negerinya, hingga percaya diri tak akan mengulang fantasi Barat itu. Film ini dimulai dengan sebuah mobil yang tersesat ke hutan. Di dalamnya Chihiro, se-orang gadis kecil berumur 10 tahun, bersama orang tuanya. Sang ayah langsung menancap gas sehingga Chihiro terpental-pental di jok belakang. Mobil itu baru berhenti ketika terhentak oleh sebuah terowongan di mukanya.

Akio, sang ayah, mengajak keluarganya melongok terowongan gelap itu. Ia takjub ketika sampai ujung dan mendapatkan sebuah kota tanpa penghuni sama sekali. Begitu indah dengan gaya arsitek Jepang era restorasi Meiji (Miyazaki terinspirasi model kota itu dari Edo Tokyo Tatemonoen, sebuah taman di Jepang yang dibangun 120 tahun lalu). Sampai di salah satu sudut kota itu, di sebuah kios kosong, mereka me- nemukan makanan lezat yang mengepul hangat. Air liur kedua orang tua Chihiro menetes. Mereka langsung menggasak dan akibatnya berubah menjadi babi.

Dan di situlah mereka menyadari bahwa mereka berada di kota para roh yang dikuasai nenek bersayap bernama Yu Baaba.

Dalam folklor Jepang, menurut James Danandjaja, banyak hewan seperti rase, rubah, dan rakun yang dianggap memiliki kemampuan gaib. Roh para binatang ini dianggap mampu menyirep siapa saja. Folklor Jepang, juga, menurut James, banyak meyakini bahwa kehidupan di dunia roh tak banyak beda dengan kehidupan masyarakat normal. Di alam gaib itu ada rumah, toko, kendaraan, konflik, dan cinta.

Imajinasi Hayao Miyazaki secara kocak dan fantastis mampu menggambarkan bagaimana sebuah industri pemandian di dunia arwah itu beroperasi sehari-hari. Aneka tamu, roh makhluk aneh-aneh, monster ganjil berdatangan, berendam dalam air panas. Ada tamu monster-monster yang royal, suka membagi uang, ada pelayan-pelayan yang curang. Atas bantuan Haku, roh sungai, bersosok pemuda tampan—yang mampu berubah wujud menjadi naga—Chihiro bekerja di situ. Sebagai satu-satunya manusia yang bekerja di situ, Chihiro mulanya dibenci—karena dianggap mencemari "kemurnian" dunia roh.

Menarik untuk mencermati bagaimana Miyasaki tampaknya mengambil unsur topeng tradisi Jepang untuk tokoh-tokoh ciptaannya. Misalnya tokoh "tanpa wajah" sosok berkerudung hitam, bertopeng pucat putih; dari tangannya bisa keluar bungkahan-bungkahan emas. Dalam sebuah wawancara, Miyasaki mengatakan ia banyak meminjam karakter topeng kertas yang digunakan di sebuah kuil Shinto, bernama Kuil Kasuga. "Dewa-dewa di Jepang tidak memiliki paras, mereka bisa bersemayam di pohon, di karang, atau pilar. Saya mencoba memvisualisasinya," katanya.

Jepang lebih banyak memiliki legenda dari negara mana pun di Eropa. Itu disebabkan dalam waktu yang lama Jepang mengucilkan diri dari negara lain. Bahkan pemandian umum, sebuah tempat relaksasi yang sampai kini banyak disukai masyarakat Jepang, juga banyak memiliki kisah legenda. "Bagi saya, pemandian umum merupakan lokasi misterius. Pertama kali saya masuk ke sana, ada pintu kecil di samping bath tub, saya selalu membayangkan apa yang ada di balik pintu itu," ungkap Miyasaki kepada majalah Animage.

Animasi memungkinkan eksplorasi tak terbatas; pencapaian fantasi yang lebih dibandingkan dengan film biasa. Dan Miyazaki berhasil menunjukkannya. Lihatlah bagaimana dalam Spirited Away , huruf-huruf Kan-ji lepas dan beterbangan dari kertas, atau ribuan burung kertas melayang di udara mengejar Naga dan men- cabik-cabik tubuhnya hingga berdarah. Lebih dari 3.000 film animasi diproduksi setiap tahunnya di Jepang. Seperti komik, animasi menjadi kultur sehari-hari. Di mana-mana terdapat gerai film animasi. Penikmat animasi bukan hanya anak kecil tapi juga orang dewasa, karena animasi kini menjadi tontonan semua usia. Film animasi pornografi Jepang (hentai) atau underground anime, yang banyak mengeksplorasi erotisme dan sisi-sisi suram realitas sosial, juga populer.

Animasi pertama Jepang yang masuk ke Amerika adalah Tetsuwan Atom pada tahun 1960-an. Film itu disulihsuarakan ke dalam bahasa Inggris dan diberi judul Astro Boy. Sejak itu produksi animasi Jepang akrab di serial TV Amerika dan Asia. Pokemon dan Doraemon adalah contoh. Japanimation boom, demikian orang Amerika menyebut maraknya animasi Jepang di TV. Sebuah boom yang sampai menimbulkan generasi baru bocah anime otaku—fans fanatik di Amerika dan Eropa. Inilah generasi yang tak bisa dipisahkan dengan kisah-kisah samurai, ninja, dan robot ala Jepang.

Beberapa pengamat melihat unsur menarik anime terletak pada variatifnya tema dan ekspresi visual naturalnya yang kaya. "Dibandingkan dengan karakter jagoan Amerika yang lebih menekankan sifat-sifat soliter dan pemberontak, tokoh-tokoh Jepang selalu memiliki keterikatan dengan keluarga atau klan," kata Patrick Drazen, penulis buku Anime Explosion, kepada majalah National Geographic, September lalu. Seorang pengamat lain menyatakan bahwa animasi Jepang rata-rata menampilkan teknologi secara simpatik, sementara kebanyakan animasi Amerika merefleksikan sikap kritis, tak jarang mencacinya. Pengamat lain melihat kematian sebagai sesuatu yang dihindari oleh film kartun anak Amerika—kecuali pada film The Lion King—sementara animasi Jepang tidak memiliki tabu itu.

Semua keunikan dan sukses animasi Jepang itu se-olah mencapai puncak pengakuan ketika Spirited Away meraih Academy Award setelah menyabet kemenangan di tiga festival film bergengsi di Eropa, yakni Festival Film Berlin, Cannes, dan Venesia. Kemenangan itu sekaligus membuka mata bahwa animasi Jepang memiliki akar yang berbeda dengan Walt Disney. Titik tolak mereka sama-sama berasal dari komik. Namun, di Jepang, komik—yang disebut manga—telah mulai ada sejak abad ke-12.

Lewat medium seni cukil kayu, manga pada zaman awalnya banyak berbicara tentang folk, fabel, aneka binatang, pelbagai macam makhluk setengah hewan. Tradisi Shinto dan Zen sangat memperkaya fauna ganjil itu. Tiap kuil, festival arak-arakan, persembahan khusus, memiliki khazanah mitologinya sendiri-sendiri. Kisah demikian juga dikembangkan oleh teater Noh, Bunraku, atau Kabuki.

Naskah Spirited Away bertolak dari buku anak-anak berjudul Kiriono Mukouno Fushigina Machi (Kota Misterius di Atas Kabut) karya Sachiko Kashiwaba tahun 1980. Film Miyasaki tak berniat didaktis. Meski mempertahankan nilai Timur, seperti kelakuan sang bocah yang menunduk setengah membungkuk bila bertemu dengan orang yang dihormati, filmnya tak bergerak sebagai medium nasihat. Ia juga tak jatuh kepada kecenderungan melodrama atau keinginan mendramatisir cinta antara Chihiro dan Haku. Cinta Chihiro secara elegan cukup dikatakan mampu membuka ingatan sang naga akan nama aslinya yang membebaskan dirinya dari sihir. Berbeda dengan kebanyakan animasi Amerika yang cenderung berakhir dengan kemenangan sang baik, film Spirited Away berakhir dengan pengandaian dunia "kejahatan" tak bisa dilenyapkan. Kebaikan dan keburukan adalah dua dunia yang tak bisa dipisahkan.

Sinema Jepang pernah memunculkan sutradara sekelas Ozu, yang diakui secara orisinal menyajikan visi sinema berdasarkan prinsip Zen. Ia memiliki pendekatan yang khas, mulai dari angle kamera sampai ritme dan tempo film. Kita ingat Akira Kurosawa juga pernah membuat film dahsyat Roshomon. Roshomon diambil dari cerita pendek novelis termasyhur Jepang Ryonusuke Katagawa. Cerita ini sesungguhnya berkisah tentang seorang yang tersesat di dunia hantu menakutkan yang disebut Kappa.

Kappa adalah semacam monster yang dipercaya mirip anak kecil buruk muka, memiliki moncong seperti burung, tubuhnya telanjang bulat, kulitnya bersisik kehijau-hijauan, baunya amis, jari-jari tangan dan kakinya ada selaput seperti katak. Pada punggungnya terdapat batok seperti kura-kura. Ia hidup di air, tapi pada malam hari, ia naik ke daratan berusaha menculik manusia atau binatang seperti sapi atau kuda. Sendi-sendi kakinya lentur bergerak lincah ke segala arah. Bila mendapat mangsa, ia akan menyeret "tangkapannya" itu ke sungai, mencabik-cabik, menghisap duburnya. Menurut James Danandjaja, banyak keluarga di Jepang, terutama di pedesaan, yang pada masa kecilnya mengaku pernah melihat Kappa.

Kita menyaksikan bagimana kisah takhayul di tangan Kurosawa mampu menjadi film yang berbobot. Dan kini Hayao Miyazaki, dari dunia animasi, menambah deretan panjang kisah keberhasilan itu.

Seno Joko Suyono


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data