Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 41/XXXII/08 - 14 Desember 2003
   
Luar Negeri

Si Bengal Hidupkan Partai Buruh

Pemimpin baru Partai Buruh terpilih. Muda, cerdas, ceplas-ceplos, meski gampang terpancing emosi. Warna baru setelah era Kim Beazley dan Simon Crean.

MARK Latham berusaha berbicara dengan para petinggi Partai Buruh tanpa henti, bahkan hingga menit-menit terakhir menjelang pemungutan suara, Selasa lalu. Saking seriusnya, dia sudah di tempat pemungutan suara satu jam sebelumnya, dan masih sempat melobi. Upayanya tak sia-sia. Juru bicara urusan keuangan Partai Buruh itu mendapat kesempatan emas, memimpin Partai Buruh dan—kalau berhasil—membawanya menuju kursi pemerintahan.

Bukan pekerjaan mudah. Karena itu, politikus berusia 42 tahun itu harus langsung bekerja keras. Tanpa jeda istirahat. Tugas utamanya adalah membawa kejayaan Buruh dalam pemilu tahun depan. Dia harus menyatukan partainya setelah setahun belakangan tercabik-cabik.

Selama ini, hanya dua pemimpin yang berhasil membawa Partai Buruh dari oposisi ke posisi pemerintah, Gough Whitlam dan Bob Hawk. Pesaing Latham, Kim Beazley, telah dua kali kalah dari John Howard. Simon Crean sendiri, yang meng- undurkan diri dua pekan lalu, selalu jauh di bawah Howard dalam setiap jajak pendapat.

Wajar kalau orang memilih sosok kontroversial Latham, yang diharapkan bisa menghilangkan wajah lesu Buruh. Ayah dua anak itu punya modal, yakni gayanya yang cenderung bebas dan tak konvensional. Tapi modal yang sama sebenarnya bisa juga menjadi kelemahan yang berpotensi membahayakan Partai. Aktivis Buruh kelahiran Sydney itu selalu berani dan ceplas-ceplos dalam mengeluarkan ide. Buruknya, ia gampang gusar dan meledak. "Risikonya, ini bisa menjadi kepemimpinan yang asal tabrak," ujar ahli strategi Macquarie Bank, Richard Gibbs. Ditambah lagi, Latham dikenal dekat dengan citra "larrikin" (perusuh). "Saya suka sisi urakan Aus-tralia, tetapi tanpa kekasaran," ujar Latham. Sebuah peristiwa tak akan pernah hilang dari ingatan warga Australia: dia mematahkan lengan sopir taksi dalam perang mulut soal tarif.

Phillip Adams dari The Australian menganggap Latham, yang lulus pendidikan ekonomi dari Universitas Sydney, sebagai bom dibandingkan dengan Beazley, yang punya sebutan The Bomber. "Kalau kita berdiri di sebelahnya dan mendengar detak jarum jam, itu bukan dari arlojinya," paparnya.

Tak mengherankan, pemerintah Howard lumayan gentar. Mereka terbiasa dengan Crean atau Beazley, yang tidak semuda dan segarang Latham. "Tiba-tiba, semua mimpi buruk mereka (pemerintah Howard) mungkin menjadi kenyataan," tulis seorang pengamat politik Alan Ramsey.

Perdana Menteri Howard dan Menteri Luar Negeri Alexander Downer langsung menyerang Latham dalam pertemuan parlemen pekan lalu. Latham dianggap membahayakan Australia. Howard mengkritik Latham karena pernyataan kerasnya soal Presiden George Bush yang dia anggap sebagai orang yang berbahaya dan presiden terburuk dalam sejarah Amerika. Downer menyerang dari sisi lain. Ia mengingatkan kembali pernyataan Latham tahun lalu, yang mengkiritik Indonesia yang dianggap membiarkan para penyelundup imigran gelap beroperasi; hal yang tidak baik untuk berhubungan dengan tetangga.

Namun, tak peduli seberapa pun buruk atau baik Latham, pendukung Buruh tampaknya mulai bersatu di belakangnya. Para tetua Buruh pun ikut menyokong. Setidaknya sebulan sekali Latham makan siang dengan mantan perdana menteri Paul Keating. Demikian pula Whitlam, yang tak menutupi kekagumannya pada pria muda yang lahir dari keluarga pekerja itu. Latham juga telah merangkul Beazley, Crean, dan para pendukungnya.

Semua itu dipandang sangat menentukan demi kemenangan dalam pemilu tahun depan. "Pemilu sudah hampir di depan mata," ujar Presiden Partai Buruh, Greg Sword. "Tak ada pilihan lain bagi Buruh," Sword menambahkan soal bersatunya para pemimpin Buruh.

Peluang Latham? Masih harus dilihat. Tapi, yang pasti, "Dia bukanlah Simon the Dead atau Kim the Wimp," tulis Ramsey sambil menyentil Crean dan Beazley. Si Anak Bengal pun mulai gencar berjualan—pilihannya, isu pendidikan.

Purwani Diyah Prabandari (The Age, SMH, ABC Online)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data