Berharap Merpati Melambaikan Zaitun Perjanjian Jenewa banyak dikecam. Dikhawatirkan bakal prematur sebelum terwujud. |
SUHU musim dingin yang membekap Jenewa, Senin pekan silam, tak menyurutkan niat 300-an warga Palestina dan Israel yang berbondong-bondong terbang ke sana. Sebagian mencarter pesawat dari Tel Aviv, sebagian lagi berangkat dari Amman. Mereka berkumpul di sebuah panggung dengan sebatang daun zaitun lambang perdamaian tertancap di tengahnya.
Mereka menyambut Perjanjian Jenewa (Geneva Accord), yang Oktober lalu dideklarasikan secara simbolis oleh mantan Menteri Kehakiman Israel, Yossi Beilin, dan mantan Menteri Penerangan Palestina, Yasser Abed Rabbo. "Dokumen ini lebih menjanjikan harapan perdamaian dibanding dokumen lain," ujar mantan Presiden AS, Jimmy Carter. Ia hadir di Jenewa bersama mantan Presiden Republik Afrika Selatan, Nelson Mandela.
Carter dan Mandela boleh optimistis. Namun, resep damai setebal 40 halaman itu—yang disambut baik para pemimpin dunia—ternyata juga menuai kecaman dari Israel dan kalangan militan Palestina. Bahkan pada hari yang sama kekerasan terus berkecamuk di Ramallah. Tak kurang dari 30 pemuda Palestina ditangkap, empat lainnya tewas diberondong tentara Israel yang menggerebek kawasan Tepi Barat itu.
Sejak semula Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon, mengecam perjanjian damai yang dianggap tak menguntungkan Israel itu. "Ini tak lebih dari tindakan subversif. Isinya sekadar diplomasi partikelir yang hanya menguntungkan Palestina," ujarnya. Perjanjian itu memang hanya menyisakan 25 persen kawasan Tepi Barat untuk permukiman Yahudi, sementara sebagian besar menjadi wilayah Palestina. Bahkan perjanjian ini juga menjanjikan pengakuan atas kedaulatan Palestina dengan ibu kota Yerusalem Timur.
Tak pelak, Deputi Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert, sangat berang ketika konco kentalnya, Amerika Serikat, mendukung perjanjian tersebut. Apalagi setelah Menteri Luar Negeri AS, Colin Powell, memberi semangat dengan mengirim surat kepada kedua penggagasnya dan bersedia menerima mereka di Washington, Jumat pekan silam. "Amerika Serikat tidak punya alasan menolak sebuah gagasan damai," kata Powell menanggapi keberangan Olmert.
Di pihak lain, meski mendukung inisiatif perdamaian, Yasser Arafat memilih pasif. Bahkan, minggu lalu, sejumlah warga Palestina yang tinggal di kamp pengungsi Jalur Gaza turun ke jalan memprotes perjanjian yang tak memungkinkan mereka pulang ke tanah asal di Israel. "Hak pulang kampung" bagi jutaan pengungsi Palestina itu tentu saja tak mungkin terlaksana. Kini di Israel bermukim sekitar satu juta orang Arab-Palestina di tengah sekitar lima juta orang Yahudi.
Meski kedua penggagas perdamaian itu yakin resep mereka bisa jadi pelengkap bagi Peta Perdamaian (Road Map), banyak pengamat Timur Tengah khawatir perjanjian itu bakal berakhir seperti halnya kesepakatan Camp David dan Oslo. Sebab, menurut The Economist, isinya tak jauh beda dengan yang pernah ditawarkan oleh mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, kepada Yasser Arafat. Juga dengan Peta Perdamaian yang antara lain disponsori PBB, AS, Rusia, dan Inggris.
Toh, Arafat dan Sharon masih berusaha menaati butir-butir Peta Perdamaian. Sharon, misalnya, menaruh harapan besar pada Perdana Menteri Palestina, Ahmed Qurei, untuk bersama-sama melangsungkan kembali perundingan yang terputus. Diam-diam ia minta Qurei memerangi kelompok militan Hamas dan Jihad Islami. Juga mengisyaratkan akan mengevakuasi permukiman Yahudi—yang memungkinkan terwujudnya batas baru antara kedua negara, sementara Palestina bisa jadi akan mendapat kurang dari setengah kawasan Tepi Barat.
Qurei sendiri, setelah mendapat hasil pertemuan berbagai faksi Palestina di Kairo pekan lalu, segera minta agar mereka menyetujui gencatan senjata—sebelum kelak ia bertemu Sharon. Di lain pihak, ia juga mendesak agar Israel menghentikan berbagai agresi dan pembangunan pagar permukiman Yahudi di Tepi Barat. Repotnya, sikap Sharon tetap saja mengeras. "Tak satu pun kesepakatan yang menguntungkan Palestina bisa lolos, walaupun hanya soal membongkar pagar," katanya ketus.
Kalau kedua belah pihak tetap ngotot, sementara upaya perdamaian—meski diusahakan kalangan partikelir—malah ditentang, kapan merpati putih melenggang terbang melambaikan daun zaitun nan segar?
EWS (The Guardian, NY Times, The Economist, Reuters)
|