Bayang Al-Qaidah di Istanbul Polisi Turki menangkap aktor serangan bom jibaku. Keterlibatan Al-Qaidah semakin ditelisik. |
POLISI Turki bak memperoleh durian runtuh. Di tengah kesibukan memburu pelaku gelombang bom jibaku di Istanbul, pemerintah Suriah menyerahkan 22 warga Turki yang diduga terlibat pengeboman, Ahad,30 November. Mereka diduga kabur dari Turki setelah pengeboman terhadap dua sinagoga, Bank HSBC, dan Konsulat Inggris.
"Paket" dari Suriah ini membuka jalan bagi pencarian dalang pengeboman yang menewaskan 61 orang dan melukai sekitar 700 lainnya itu. Sebab, di dalam rombongan itu terdapat Hilmi Tuglaoglu, yang dikenal dekat dengan Azad Ekinci, tersangka utama pengeboman.
Polisi menyatakan, adalah Ekinci yang merancang penge-boman terhadap sinagoga. Ia menggunakan identitas palsu dan membayar tunai pembelian truk bermuatan bom. Tapi kini Ekinci raib. Polisi Turki menduga ia kabur ke Iran.
Sehari setelah menerima "paket" Suriah, polisi Turki menangkap seorang pria yang mengaku sebagai otak serangan bom jibaku terhadap Sinagoga Beth Israel di Istanbul. Semula, polisi tak mengumumkan nama lelaki itu. Tapi media massa Turki melansir namanya sebagai Yusuf Polat, 29 tahun.
Polat tertangkap di Gurbulak, kota di sebelah timur Turki yang berbatasan dengan Iran. Saat itu polisi menerima kabar: seorang lelaki menggunakan dokumen palsu untuk menyeberang perbatasan. Lelaki itu ternyata Polat, yang di- duga oleh polisi sebagai pemain lapangan bom jibaku di Sinagoga Beth Israel.
Menurut Wakil Kepala Polisi Istanbul, Halil Yilmaz, Polat terlihat mondar-mandir di sinagoga pada 15 November, beberapa saat sebelum bom meledak. "Dialah yang memberi perintah memulai serangan," kata Yilmaz. Ketika polisi menggerebek rumah Polat di Istanbul, mereka menemukan perangkat dan pembuat bom.
Keterlibatan Polat juga terlacak dari rekaman telepon seluler pascabayar milik Mesuk Cabuk, satu di antara eksekutor peledakan bom, setelah Polat memberi perintah terakhir kepada Cabuk lewat telepon. Polat pula yang memutuskan pengalihan sasaran serangan dari pintu depan sinagoga ke pintu belakang, karena gerbang belakang itu lebih mudah diserang.
Yang menarik, sebagian besar orang yang diduga terlibat pengeboman berasal dari kota yang sama, yakni Bingol. Termasuk eksekutor bom di Sinagoga Beth Israel, Mesuk Cabuk, 29 tahun, dan Gokhan Elaltintas, 22 tahun. Bingol terletak di tenggara Turki, berbatasan dengan Irak, yang merupakan permukiman mayoritas etnis Kurdi.
Di antara etnis Kurdi itulah menetap sekitar 20 ribu anggota kelompok Hizbullah Turki. Ironisnya, militer Turki pernah memanfaatkan kelompok Hizbullah ini pada 1980-an untuk menindas kelompok separatis Kurdi.
Di Kota Bingol pula Azad Ekinci lahir. Menurut sumber intelijen Turki, Ekinci aktif dalam kelompok Hizbullah dari 1997 hingga 2000. Ia hengkang dari Hizbullah karena konflik internal, dan bergabung dengan kelompok Gerakan Islam. Intelijen Turki mencatat kunjungan Ekinci ke Afganistan delapan kali, ke Pakistan tiga kali, ke Bosnia dan Chechnya dua kali.
Meski Ekinci keluar dari kelompok Hizbullah, polisi Turki yakin pelaku pengeboman adalah anggota kelompok Hizbullah dan Beyyiat el-Imam. Dua kelompok ini diduga punya hubungan dengan Ansar al-Islam, kelompok perlawanan Irak yang dicap Amerika Serikat sebagai bagian dari jaringan Al-Qaidah.
Media Turki, yang umumnya menyuarakan kepentingan kelompok sekuler, juga melaporkan bahwa Yusuf Polat mengaku sebagai satu dari sepuluh orang sel Al-Qaidah di Turki. Mereka mengutip sumber intelijen Turki yang menyebutkan beberapa anggota sel Al-Qaidah veteran Afganistan mendapat perintah me- lakukan serangan pada Juni silam. Tapi Gubernur Istanbul, Muammer Guler, membantah dugaan itu.
Guler malah menyebut nama Illyas Kuncak, yang memimpin pengeboman terhadap Bank HSBC dan Konsulat Inggris. Kuncak, 47 tahun, lahir di Ankara, ibu kota Turki. Sedangkan eksekutor pengeboman adalah Feridun Ugurlu dan Mevlut Ugur. Ugurlu dipercaya juga pernah bertempur di Afganistan dan Chechnya. Kini semua mata kembali diarahkan ke Al-Qaidah dan Usamah bin Ladin, yang dengan mudah menjadi kambing hitam setiap kali terjadi serangan bom.
Raihul Fadjri (The Independent, Guardian, Washington Post)
|