Senjata dan Bingkisan untuk Irak Amerika dan sekutunya harus menghadapi serangan gerilya yang kian gencar. Segala senjata pun dicoba, dari senjata berat hingga paket makanan. |
Sebuah buldoser bersiap di depan rumah Aziz Abdel-Wahhab di Hawija. "Rumah ini jantung terorisme," ujar Letnan Satu Steve Brignolu, anggota Brigade Airborne 173. "Dan kalau kalian melindungi terorisme, kami akan menyingkirkan kalian dari komunitas," ia menambahkan. Di rumah itu memang sebelumnya ditemukan bahan peledak. Buldoser pun bergerak. Di antara barisan penduduk yang dikumpulkan di jalanan dekat rumah Aziz, muncul istri Aziz, Bushra, yang panik menyaksikan tempat berlindung keluarganya akan diratakan dengan tanah.
Dia mulai buka mulut. Anaknya, Adel, memang selalu pulang ke rumahnya. "Tapi mungkin dia sekarang di rumah kakaknya," ujarnya. Mayor Andrew Rohling, komandan unit, mulai melunak. "Oke, saya tidak akan menghancurkan seluruh rumah. Hanya bagian depan, sebagai unjuk kekuatan," ujarnya. Tembok depan pun hancur. Adel kemudian tertangkap tanpa perlawanan. "Para petani biasa menyimpan senjata di rumah selama perang. Hanya satu Kalashnikov milik saya," katanya.
Pasukan Amerika Serikat seperti telah kehabisan akal untuk menghentikan semua serangan terhadap kepentingannya, yang kian meluas. Sebenarnya Presiden Bush telah mengumumkan bahwa operasi militer besar usai pada awal Mei lalu. Namun, meski ada upaya pembersihan sisa-sisa pendukung Saddam Hussein, aksi perlawanan bukannya habis. Mereka kian berani. Serangan bertambah gencar.
Sekarang ini, pasukan Amerika dan sekutunya setidaknya menghadapi 30 serangan setiap hari. Luas daerah panas kian meluas, tidak hanya di Segitiga Sunni, tapi juga jauh di bagian utara, selatan, dan barat Irak. Segitiga Sunni adalah kawasan yang dihuni oleh muslim Sunni dan orang-orang sesuku Saddam Hussein—mantan Presiden Irak. Sedangkan daerah selatan adalah kawasan muslim Syiah dan bagian utara didominasi Kurdi.
Selama operasi militer berlangsung, setidaknya 441 anggota pasukan Amerika tewas—187 di antaranya setelah Bush mengumumkan usainya pertempuran besar. Inggris kehilangan 52 tentara, Italia kehilangan 17, dan Spanyol 8 orang. Dalam beberapa serangan terpisah belum lama ini, dua orang Korea dan dua orang Jepang juga tewas. Denmark, Ukraina, Kolombia, dan Polandia masing-masing kehilangan satu tentara. Kebanyakan korban dari negara di luar Amerika dan Inggris baru jatuh belakangan. "Ada lompatan kemunduran, lonjakan kematian tragis, dan kian banyaknya individu di Irak yang berharap membalikkan jam ke waktu lalu," ujar juru bicara Perdana Menteri Inggris Tony Blair.
Presiden George Bush pun gusar. Ia memanggil pemimpin pemerintahan Amerika di Irak, Paul Bremer, ke Gedung Putih untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Harap maklum, Bush ingin sekali pasukan Amerika ditarik sebelum pemilihan umum November mendatang. Apalagi, bulan lalu, pemerintah Bush juga telah berjanji bahwa transisi kekuasaan akan dilakukan akhir Juni mendatang. Bagaimana transisi bisa berjalan baik kalau hingga sekarang keamanan masih jauh dari rakyat Irak?
Belum lagi ada masalah lain, yakni pemimpin kelompok Syiah, Ayatullah Ali al-Husseini al-Sistani, masih menentang rencana transisi kekuasaan pada Juni mendatang. Bukan menentang transisinya, mereka menginginkan adanya pemilihan langsung untuk anggota legislatif. Sebab, dalam kesepakatan Amerika dengan Dewan Pemerintahan Irak (IGC), akan ada pemilihan legislatif lewat kaukus regional. Kemudian anggota legislatif itu akan memilih pemerintahan sementara.
Berbagai upaya penyapuan lawan pun dilakukan. Amerika meminta semua negara yang terlibat di Irak bertahan. Negara-negara itu memenuhinya meski tekanan di dalam negeri masing-masing sangat kuat. "Koalisi—berarti Amerika, Inggris, Spanyol, atau Jepang—tidak akan syok dan tidak terintimidasi untuk menyingkir dari Irak," ujar juru bicara Tony Blair. Jepang akan tetap mengirimkan tentara nontempur ke Irak. Demikian juga Korea Selatan. Sedangkan Italia dan Spanyol mempertahankan tentaranya.
Selain itu, Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld dan Menteri Luar Negeri AS Colin Powell telah meminta agar negara-negara anggota NATO turun membantu mereka di Irak. Sejumlah 18 dari 26 negara anggota NATO, termasuk tujuh yang akan menjadi anggota musim semi mendatang, telah mengirim tentara ke Irak meski jumlahnya tidak begitu besar.
Sementara itu, di lapangan yang kian keras, pasukan Amerika memutuskan untuk menggunakan pendekatan yang lebih agresif. Taktik pencarian gerilyawan yang lebih intensif, penggerebekan dengan kekerasan, blokade kota, operasi pengepungan besar-besaran, penyiksaan, penghinaan, serta pembunuhan terhadap warga sipil kian buruk. Seperti yang terjadi di Hawija, Selasa lalu, yang justru menyuburkan kebencian.
Pengalaman buruk dialami Shouk, warga Samarra. Sekitar 20 tentara Amerika memasuki rumah dan menyeretnya bersama dua anak lelakinya ke luar rumah. Kepala mereka ditutup dengan kantong, sementara tangan mereka diikat. "Mereka tidak menemukan apa-apa, kemudian pergi begitu saja," ujar Shouk geram.
Pasukan sekutu, terutama Amerika, juga sering tak membiarkan orang berbicara menentang mereka. Seorang tentara Amerika mengikat tangan warga Bagdad dan menyumpal mulutnya hanya karena dia berbicara menentang pendudukan Amerika. "Pria ini ditahan karena membuat pernyatan antikoalisi," demikian penjelasan seorang tentara.
Lebih luas lagi, Amerika mendukung kebijakan IGC untuk membungkam media yang dianggap menghasut rakyat agar mengangkat senjata. Beberapa pekan lalu, IGC memerintahkan agar aparat keamanan menggerebek kantor stasiun televisi Al-Arabiya, yang sering diserang Washington bersama Al-Jazeera. Sepekan sebelum penutupan, Al-Arabiya menyiarkan suara Saddam yang menyerukan perlawanan terhadap pasukan pendudukan.
Seorang koresponden Al-Arabiya menyatakan mereka dilarang bersiaran soal Irak. Kalau mereka melanggar, denda US$ 1.000 atau sekitar Rp 8,5 juta dan penjara selama setahun akan dijatuhkan. "Menghasut untuk membunuh atau melakukan kekerasan adalah pelanggaran hukum dilihat dari undang-undang mana pun di seluruh dunia," ujar Jalal Talabani, Presiden IGC, membela diri. Amerika mendukung langkah ini.
Sebenarnya hal itu bukan kebijakan baru. Sejak September lalu, tiga koran di Mosul dan 11 di Bagdad telah ditutup. Sedangkan stasiun televisi Al-Jazeera menyatakan bahwa reporter dan juru kameranya telah 18 kali ditahan sejak Maret lalu.
Untuk mengimbangi berita negatif yang dianggap menghasut, sebuah televisi yang didanai Washington siap bersiaran bulan ini.
Di sisi lain, Amerika berencana membentuk batalion paramiliter untuk membantu pasukan Amerika dan sekutunya dalam menghadapi gencarnya serangan gerilya lawan. Sekitar 850 orang akan direkrut dari lima partai politik utama: Kongres Nasional Irak, Inisiatif Nasional Irak, Majelis Agung Revolusi Islam di Irak, Partai Demokratik Kurdi, dan Uni Patriotik Kurdi. Mereka akan beroperasi di bawah Korps Pertahanan Sipil.
Kebijakan itu rupanya masih diperdebatkan. Ghazi Yawqar, anggota IGC yang independen, menyebut rencana itu sebagai sebuah blunder. "Kita seharusnya membubarkan milisi, bukan mencari cara melegalkan mereka," ujarnya. Ini ungkapan yang sangat bisa diterima karena milisi dari berbagai kelompok suku ataupun agama berkeliaran di Irak. Mereka menambah ruwetnya konflik.
Langkah lain yang tak ketinggalan adalah sentuhan kemanusiaan. "Ini adalah hadiah Ramadan dari Bremer (Paul Bremer) untuk rakyat Samarra," ujar Adnan Maher, Kepala Dewan Kota, sambil menunjukkan sebuah tas plastik kuning yang berisi sekitar 3 kilogram beras, miju-miju, terigu, dan gula. Maher membagi-bagikan sekitar 3.000 tas plastik kepada warga Samarra pada akhir Ramadan lalu. "Kami mencoba memenangi hati dan pikiran rakyat," ujar Kapten David Johnson, yang membantu pembagian itu.
Purwani Diyah Prabandari (Al-Jazeera, Islam Online, AP, Guardian)
|