Pandemi AIDS: Siapkah Kita? |
Baby Jim Aditya
Aktivis masalah-masalah terkait HIV/AIDS, Ketua Klub Partisipasi Kemanusiaan (Partisan Club)
Sungguh terlalu banyak persoalan di dalam kehidupan kita di Indonesia saat ini, sehingga kita tidak sempat lagi memikirkan apa yang akan menjadi rencana ke depan, masalah mana yang harus lebih dulu diselesaikan, dan bagaimana mengurai benang kusut masalah di negeri ini. Dengan deraan persoalan yang terus-menerus mengepung alam kesadaran, tanpa kita sempat mencerna dan berbuat sesuatu, ternyata Desember sudah datang lagi. Bagi kebanyakan warga dunia, tanggal 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Bagaimana dengan kita?
Di antara begitu banyak persoalan yang memusingkan dari hari ke hari, kita juga harus berlapang dada menerima kenyataan bahwa epidemi AIDS di negeri ini sudah sedemikian membuncah. Dari prediksi 90 ribu-120 ribu kasus infeksi HIV/AIDS pada 2002, diperkirakan akhir tahun ini jumlahnya meningkat menjadi 130 ribu-150 ribu kasus. Dari angka ini, diperkirakan 80 ribu kasus merupakan infeksi baru yang terjadi tahun ini dan 68 ribu kasus di antaranya berasal dari kalangan pecandu narkotik dan obat berbahaya (narkoba) yang menggunakan jarum suntik tidak steril secara bergantian. Departemen Kesehatan sendiri memperkirakan jumlah orang Indonesia yang rawan tertular HIV karena perilaku mereka atau pasangannya mencapai 12 juta-19 juta orang. Sungguh suatu jumlah yang tidak main-main.
Negara kita mengalami peningkatan kasus AIDS yang luar biasa dari tahun ke tahun. Data UNAIDS (Program PBB untuk HIV/AIDS) memperlihatkan dari 1996 hingga 2003 terjadi peningkatan 10 kali lipat atau 1.000 persen kasus HIV/AIDS yang berasal dari pecandu narkoba yang menggunakan narkotik dengan jarum suntik. Angka ini hanya berasal dari data resmi yang dilaporkan pemerintah, padahal angka yang sesungguhnya jauh lebih besar. Pengguna narkoba suntik sering menggunakan jarum suntik tidak steril bersama-sama secara bergantian tanpa menyadari bahayanya. Mereka biasanya anak muda usia produktif dengan rentang usia terbanyak 15-39 tahun, yang mestinya bisa menjadi sumber daya manusia yang andal untuk membangun negara ini. Tingkat epidemi melebihi lima persen pada kelompok pengguna narkoba suntik ditemukan di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Bali.
Bagaimana kita harus menyikapinya? Tidakkah kita harus lebih gencar melakukan upaya bersama dalam penanggulangan AIDS ini agar tidak terjadi bencana yang lebih dahsyat bagi bangsa ini? Secara perlahan tapi pasti, pandemi AIDS menuntut kita untuk menyikapinya sebagai keadaan gawat darurat, dengan penanganan memadai dan tidak diskriminatif. Hal ini perlu disampaikan mengingat masih banyaknya cap buruk atau stigma serta diskriminasi atau perlakuan berbeda yang dialami oleh orang dengan HIV/AIDS.
Dalam jumpa pers yang diselenggarakan UNAIDS pada 3 Desember 2003, Direktur Badan Kesehatan Dunia (WHO) di Indonesia, George Petersen, mengatakan bahwa di Asia Tenggara diperkirakan ada enam juta orang yang telah terinfeksi HIV/AIDS. India, Thailand, Myanmar, dan Indonesia merupakan empat negara terbesar kasus infeksi itu. Di seluruh dunia, negara yang punya kasus HIV/AIDS terbanyak adalah Afrika Selatan, dengan jumlah 27 juta kasus, disusul oleh India dengan perkiraan 4,5 juta kasus. Urutan berikutnya adalah negara dengan jumlah penduduk terbanyak seperti Cina dan Indonesia serta negara yang telah lebih dulu berpotensi seperti Thailand, Myanmar, dan Rusia.
Faktor utama penyebab terjadinya ledakan epidemi AIDS di Indonesia adalah penggunaan narkoba dengan jarum suntik yang tidak steril. Departemen Kesehatan memperkirakan ada 124 ribu-169 ribu pengguna narkoba melalui jarum suntik. Setidaknya 50 persennya telah terinfeksi HIV. Sebuah survei di pusat perdagangan narkoba di Jakarta Pusat memperlihatkan, dari 157 orang pecandu narkoba suntik yang menjalani tes HIV, 154 orang positif HIV. Sementara itu, harus kita akui pula bahwa di dalam kelompok pengguna narkoba suntik sendiri terjadi beberapa masalah besar sekaligus, yaitu penularan HIV dan hepatitis C melalui jarum suntik tidak steril yang dipakai bersama, serta terjadinya hubungan seks berisiko tinggi (tanpa kondom), baik di antara sesama pecandu narkoba suntik maupun dengan kelompok nonpecandu. Saya sendiri masih sering menemukan kasus bahwa pihak keluarga beranggapan, untuk menyembuhkan pecandu, lebih baik si pecandu dinikahkan dengan orang yang bukan pecandu.
Ancaman narkoba merupakan hal yang serius dan membutuhkan penanganan yang kompak dari awal hingga akhir. Untuk itu diperlukan pemahaman pentingnya pengurangan pasokan (supply reduction), pengurangan permintaan (demand reduction), serta pengurangan bahaya (harm reduction). Ketiga hal ini hendaknya menjadi kesadaran kita dalam menghadapi ledakan epidemi AIDS, mengingat peliknya menghadapi masalah adiksi ini—apalagi bila berbarengan dengan infeksi HIV.
Di sisi lain, keberadaan pengguna narkoba—termasuk narkoba suntikan—merupakan masalah yang terkait luas dengan aktivitas seksual dan mobilitasnya. Pengguna narkoba (suntik) terdiri atas berbagai kalangan, yang pada umumnya aktif secara seksual. Mereka adalah remaja, orang dewasa yang berstatus suami atau istri, pekerja seks, serta pelanggan pekerja seks. Penularan penyakit seksual dan HIV/AIDS bisa menjadi lebih serius mengingat adanya kemungkinan terjadinya kontak seksual tidak aman (tanpa kondom) dari kelompok-kelompok ini tanpa menyadari risikonya.
Tidak dapat diabaikan pula tingginya jumlah orang dengan perilaku seks berisiko tinggi, dengan tingkat pemakaian kondom yang minim. Hasil survei Badan Pusat Statistik dan Departemen Kesehatan pada 2003 menunjukkan kurang dari 10 persen jumlah orang yang menggunakan kondom secara konsisten saat melakukan transaksi seks. Keteledoran yang mendasar sejak awal epidemi ini membuat kita tergagap menghadapinya. Kita sering mengabaikan fakta bahwa penularan HIV juga dapat terjadi di dalam rumah tangga, sehingga dalam hal ini perlu ada rasa tanggung jawab terhadap kesehatan diri sendiri, pasangan, ataupun anak yang akan dilahirkan.
Adanya pemahaman yang keliru tentang konsep "nikmat" dan konsep "bahaya" membuat banyak kalangan merasa enggan membicarakan risiko bahaya dari perilaku seksual tidak aman ini, terutama di dalam rumah tangga. Kita lebih suka mencampuradukkan kenyataan adanya hubungan seks tidak aman dan status pernikahan. Hal ini membuat orang masih enggan membicarakan cara mengurangi risiko infeksi HIV dari hubungan seks—walaupun dengan satu pasangan. Hal ini sudah terjadi pada kalangan ibu rumah tangga yang setia kepada suaminya sendiri, tapi tidak bisa melindungi dirinya sendiri akibat perilaku suami yang berisiko tinggi dan tidak mempedulikan kesehatan diri dan pasangannya serta dampak bagi anaknya. Sebuah penelitian Yayasan Pelita Ilmu pada 2001 menemukan adanya 1,1 persen ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV, dan angka ini naik menjadi sekitar 3 persen pada tahun berikutnya.
Apa yang bisa kita kerjakan? Apakah kita akan menunggu sampai begitu banyak orang tergeletak sakit akibat tidak mendapat informasi yang benar? Atau sampai ada anggota keluarga kita yang terkena? Berapa banyak dana, tenaga, waktu, dan perasaan yang harus kita sediakan untuk menghadapi badai pandemi ini? Berapa banyak tenaga dokter, konselor, perawat, psikolog, psikiater, dan pendamping yang harus kita didik untuk segera bersiap menghadapi besarnya ledakan pandemi ini? Seberapa siapkah kita menghadapi dampak kehadiran HIV ini di dalam keluarga kita sendiri?
Penularan HIV ini tidak akan menunggu sampai kita selesai berdebat dan berhenti saling menyalahkan. Juga tidak akan menunggu sampai kita selesai belajar memahami cara-cara penularan, pencegahan, dan penanggulangannya. Selama kita masih tidak memiliki informasi yang memadai untuk memahami HIV/AIDS, selama kita lebih suka ribut terus menghadapi berbagai masalah, kita akan teledor dalam menyusun strategi bersama yang lebih komprehensif dalam menghadapi ancaman yang semakin mengglobal ini. Kalau kita keliru mengambil tindakan dan tidak mengimplementasikannya dengan benar, kita akan segera mengikuti jejak Afrika Selatan. Dan saya tidak tahu berapa lagi kenaikan jumlah infeksi HIV/AIDS yang akan dilaporkan Desember tahun depan.
|