Gelombang Mikro Pembunuh Kanker |
Dr. Kevin Price dari Institut Kanker Gray, Northwood, Inggris, sedang bahagia. Bersama tim penelitinya, ia sukses mengembangkan gelombang mikro untuk menghancurkan sel-sel kanker. Gelombang yang lebarnya kira-kira seratus milimeter itu ditembakkan dari partikel helium.
Menurut penelitian Price, gelombang mikro futuristik itu mengakibatkan sel kanker yang ditembak mengeluarkan sinyal "bunuh diri" ke sel kanker sekelilingnya. Tak hanya sel yang dibidik gelombang mikro yang tewas, tapi juga sel kanker yang ada di sekitarnya. Efek bystander ini membuat terapi kanker akan lebih efektif—membunuh lebih banyak sel kanker tapi mengurangi jaringan yang rusak akibat radioterapi.
Untuk menguji efek gelombang, Price dan kawan-kawannya melakukan pengujian pada sel kanker otak yang tumbuh dalam laboratorium. Sel kanker otak dipilih karena punya derajat resistensi tinggi terhadap radioterapi konvensional.
Para peneliti membidik sel kanker tunggal yang dibiakkan dalam cawan dengan gelombang mikro. Temuan mereka, dengan menembak satu sel di antara 1.200 sel, bisa diperoleh angka yang signifikan untuk mengirimkan perintah bunuh diri bagi sel kanker di sekelilingnya.
"Kita terbiasa dengan asumsi bahwa satu-satunya cara untuk membunuh sel kanker dengan radioterapi adalah menghantam tiap sel dengan dosis radiasi yang kerap kali berbahaya. Sekarang kita bisa menemukan kemungkinan membunuh banyak sel kanker dengan meminimalkan sel kanker yang dihantam gelombang," ujar Price, bungah.
Komputer dengan Kendali Mata
Kerap kali kemajuan di bidang teknologi apa pun tak bisa dinikmati oleh mereka yang punya keterbatasan. Untuk menerobos batas-batas itulah sebuah perusahaan berbasis teknologi di Spanyol menciptakan komputer yang bisa dikendalikan gerakan mata. Pedro Palomo, Direktur Pengelola Iriscom, menyebut sistem komputer itu dikembangkan untuk orang yang memiliki amiotrophic lateral sclerosis, suatu kondisi yang menyebabkan seseorang hanya mampu menggerakkan matanya.
Diberi nama Iriscom, komputer itu dilengkapi kamera yang menghadap mata pengguna. Kamera akan bergerak menurut gerakan bola mata, dan kursor dalam layar ikut bergerak sesuai dengan arah pandangan mata. Kalau mau mengklik, tinggal mengedipkan mata.
Tak hanya memiliki pointer yang mengikuti pandangan mata, komputer itu dilengkapi pula dengan keyboard dalam monitor, yang memungkinkan pengguna memasukkan teks. Sistem kameranya juga cukup akurat: Iriscom dapat mengikuti pandangan orang yang berkacamata atau memakai lensa kontak.
Meski begitu, Palomo mengatakan bahwa komputer itu masih memiliki keterbatasan. Sistemnya kadang-kadang dibuat kacau oleh pencahayaan di sekitar pengguna. Kalau sudah begitu, kamera akan kesulitan mengikuti gerakan mata. Selain itu, harganya masih tinggi. Dan yang tak kalah penting, "Apakah kita yakin bahwa mata tidak akan bermasalah bila sepanjang hari harus berkonsentrasi?" Palomo bertanya.
Obat Sakit dari Racun Ikan
Wex Technologies hanyalah sebuah perusahaan kecil di Vancouver, Kanada. Kendati begitu, semangat risetnya telah melahirkan temuan inovatif yang diumumkan minggu lalu, yakni racun ikan buntal untuk obat penahan sakit. Padahal, selama ini racun ikan buntal dalam kadar tertentu dapat membuat manusia lumpuh selama beberapa menit. Kini racun itu menjadi obat yang diberi nama Tetrodoxin.
Tetrodoxin digunakan terutama untuk membantu para penyandang kanker untuk melawan rasa sakit, atau bagi pecandu narkotik yang sedang dalam pengobatan. Tim peneliti Wex menyuntikkan beberapa mikrogram Tetrodoxin pada 22 orang relawan. Dosisnya amat kecil, bahkan tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Tiap orang diberi dosis dua kali sehari selama empat hari. Hasilnya, mereka menemukan 70 persen pasien menunjukkan penurunan rasa sakit yang signifikan. Rasa sakit mulai berkurang pada hari ketiga percobaan, dan dalam beberapa kasus ini terjadi kurang dari 15 hari. Tectin, zat aktif dalam Tetrodoxin, membuat saraf berhenti mengirimkan sinyal rasa sakit ke otak.
Tectin berbeda dengan morfin—pembunuh sakit yang selama ini dikenal. Tectin tidak memiliki efek samping seperti morfin atau turunannya, tidak berinteraksi dengan obat lain, dan tidak menimbulkan ketergantungan. Lebih dari itu, tectin diklaim 3.200 kali membunuh rasa sakit ketimbang morfin.
|