Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 41/XXXII/08 - 14 Desember 2003
   
Gaya Hidup

Memburu Pamor 'Wesi Aji'

Keris makin diburu kolektor. Ada yang memujanya sebagai pembawa tuah, banyak pula yang mengaguminya sebagai karya seni agung.

Alkisah, sebilah keris menemani Ryaas Rasyid. Berhari-hari logam tajam itu tersimpan rapi di balik ikat pinggangnya. Ryaas pun tanpa segan berkeliling Jakarta dan keluar-masuk gedung yang dilengkapi alat detektor logam. Ajaib, kehadiran sang keris sama sekali tidak terbaca mesin. Seolah-olah si keris menghilang entah ke mana.

"Itu beneran, bukan ngibul," kata si empunya cerita. Ryaas Rasyid, pendiri Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (PPDK), menuturkan pengalaman unik tersebut yang didapatnya saat Jakarta heboh diguncang kerusuhan dahsyat, Mei 1998. Ada penjarahan, bentrokan fisik, dan ratusan orang tewas terpanggang di gedung-gedung yang terbakar menyala-nyala. Segalanya serba mencemaskan. Ryaas beruntung tetap aman sentosa dengan keris terselip di pinggang. "Keris ini saya dapat seminggu sebelum kerusuhan meledak," ujarnya, "Seorang tua memberikan kepada saya sambil berpesan: bawa ini untuk jaga-jaga."

Ryaas memang bukan pemain amatir di bidang tosan aji (senjata pusaka). Tak kurang dari 200 tosan aji yang dia miliki, mulai dari badik, golok, dan terutama keris. Sebagian besar keris koleksinya tergolong tua, yang diciptakan di zaman Majapahit, yakni sekitar abad ke-13.

Adalah Sabukinten, koleksi yang sungguh berkesan bagi Ryaas. Benda ini dihadiahkan oleh Sumarsaid Murtono, dosen Ryaas sewaktu kuliah di Institut Ilmu Politik (IIP) pada 1979, ketika Ryaas masih pemuda 28 tahun. "Dia bilang," kata Ryaas menirukan dosennya, "Kamu perlu keris, dan yang cocok untuk kamu adalah keris nemneman atau muda usia." Jadilah Sabukinten dihadiahkan kepada Ryaas. Suatu kali, Ryaas berkisah, saat dimandikan oleh pawang keris, Sabukinten ini berdiri tegak di atas meja berlapis kaca. Ujungnya yang tajam menapak kukuh pada kaca. Wah.

Sabukinten segera membuat Ryaas mabuk kepayang pada keris. Sesekali dia berburu keris sampai ke pelosok hutan. Keris Nogososro, misalnya, ia dapatkan setelah proses dua tahun perburuan di hutan angker di Jawa Timur. Seorang kawan Ryaas yang ahli keris harus bersemadi dan melakukan serentetan ritual, termasuk menyembelih kerbau, sebelum akhirnya sang Nogososro muncul setelah terabaikan ratusan tahun di hutan.

Namun, Ryaas menyatakan dirinya lebih banyak sebagai kolektor pasif. Ada saja orang yang memberinya senjata yang kerap disebut wesi aji ini. Sebagian diberikan cuma-cuma, sebagian lagi diganti dengan uang mahar. Dalam dunia keris, memang tidak dikenal istilah jual-beli. Keris yang bertukar pemilik biasanya disebut dimaharkan atau ditukar dengan maskawin.

Pesona keris bukan hanya memikat seorang Ryaas Rasyid. Tidak sedikit kalangan menengah ke atas yang kini sibuk berburu keris. Hal ini bisa dilihat saat pameran tosan aji yang kerap digelar di berbagai kota, di Yogya, Semarang, Jakarta, dan Bali, yang selalu disesaki kolektor keris dari kalangan menengah-atas.

Simaklah penuturan Sugeng Wiyono, pengurus Pametri Wiji, sebuah organisasi yang mewadahi penggemar keris di Yogyakarta dan sekitarnya. Menurut Sugeng, kolektor keris kini bukan lagi terbatas pada orang-orang Jawa kuno atawa keturunan keraton yang masih berpegang kukuh pada tradisi. Pencinta keris terentang dari pejabat, politikus, pengusaha, selebriti, bahkan sampai ilmuwan modern dari kota-kota besar.

Mantan Menteri Pertahanan dan Keamanan, Wiranto, misalnya, cukup populer di kalangan penggemar keris. Kandidat presiden dari Partai Golkar ini diketahui rutin memanggil para ahli keris di Solo dan Yogya untuk melakukan jamasan (upacara memandikan dengan bunga-bunga dan ramuan khusus) koleksi kerisnya yang sedikitnya berjumlah 250 buah.

M.T. Arifin, pengamat militer yang tinggal di Solo, juga ngetop sebagai kolektor keris yang serius. Tiga ratus keris tua dari berbagai masa ditata rapi di sebuah kamar khusus di rumahnya. Ada yang dimasukkan lemari, ada yang dipajang di etalase, tidak sedikit keris yang digeletakkan di meja terbuka.

Bagi MT—begitu ia biasa dipanggil—kerisnya bukan sekadar perhiasan dan benda mati. "Setiap keris punya roh yang disebut khodam," tuturnya. Roh inilah yang bisa dipanggil sewaktu-waktu melalui ritual khusus. "Beberapa keris telah berjasa membantu saya bekerja," MT melanjutkan. Sayang, MT tidak bersedia menyebutkan apa pekerjaan yang dia maksud. Yang pasti, semuanya dilakukan secara gaib alias susah masuk di akal.

Begitulah, perburuan keris selalu penuh dengan kisah-kisah fantastis, terdengar seperti dongeng, dan pekat dengan bau klenik. Kisah yang membuat popularitas keris makin mencorong bersinar-sinar.

Belakangan, popularitas keris makin lebar melampaui batas negara. Tidak sedikit kaum bangsawan Brunei Darussalam—termasuk Pangeran Jeffri Bolkiah—yang gandrung keris buatan Indonesia. Mereka menyukai keris kuno buatan zaman Majapahit atau sebelumnya. Makin tua, kian mahal nilainya. Harga Rp 300 juta-1 miliar untuk sebilah keris tak jadi soal bagi para kolektor berdompet gendut ini.

Tidak jarang pula para kolektor yang memburu keris tua ini tertipu. Mereka memborong keris nemneman yang sengaja diwarnai dengan teknik khusus sehingga tampak seperti purba. Hanya mata kolektor sejati yang tak bakal tertipu oleh keris muda usia. Umumnya keris tua lebih kompak dan padat, sedangkan keris muda lebih berpori lebar (porous).

Lain lagi kolektor dari Malaysia. Mereka lebih suka keris ukuran besar seperti jenis tamengsari, juga buatan zaman Majapahit. Konon, keris jenis ini amat perkasa hingga bisa menembus perisai besi yang digunakan dalam perang dulu kala. Orang Malaysia juga yakin keris tamengsari inilah yang dihadiahkan Raja Majapahit kepada Hang Tuah, pahlawan Melayu. "Ini membuat kolektor Malaysia percaya bahwa tamengsari bertuah untuk membantu orang meraih jabatan," kata Sugeng.

Entahlah, tak jelas betul apakah seluruh pemegang keris tamengsari telah ada di posisi dan jabatan yang nyaman. Tak ada ukuran yang pasti, karena yang disebut posisi nyaman tentu relatif dan tak sama untuk setiap orang.

Ryaas sendiri menolak mengatakan bahwa keris punya kesaktian. "Saya enggak percaya keris punya kekuatan, ha-ha-ha...," ujarnya sembari terbahak. Tapi, Ryaas yakin keris diciptakan dengan niat yang begitu kuat. Empu keris, apalagi yang hidup di zaman dahulu, dikenal amat piawai mengolah kekuatan batin. Tirakat, puasa 40 hari 40 malam, adalah resep utama yang diterapkan para empu. Ini belum termasuk jurus-jurus lain yang serba meditatif serta menuntut kesabaran dan ketelaten ekstratinggi.

Energi dari si empu kemudian akan membentuk pamor keris. Pamor adalah istilah yang merujuk pada kesaktian, kegunaan, juga aura yang dimiliki keris. Dengan pamor ini, keris mempunyai energi yang berfungsi sesuai dengan niatan si empu. Keris legendaris buatan Empu Gandring di zaman Ken Arok, misalnya, bertuah membuat lempeng jalan si pemilik menuju tampuk kekuasaan di tanah Singosari. Ada keris yang pamornya diniatkan untuk menolak segala rencana dan tindak kejahatan yang ditujukan kepada si pemilik keris. Ada pula keris yang diniatkan untuk memuluskan jalan si empunya meraih kekayaan dan kejayaan.

Ihwal pamor, Ryaas melanjutkan, memang terpulang pada tiap-tiap individu. Boleh percaya, tidak pun silakan. Ryaas sendiri tidak bersandar pada pamor dan kekuatan magis ratusan keris miliknya. Baginya, seni pembuatan keris yang memang luar biasa itulah yang layak dikagumi.

Pudjadi Sukarno, 68 tahun, pensiunan pejabat Pertamina yang juga Ketua Harian Persaudaraan Penggemar Tosan Aji (Darmataji), sepakat dengan Ryaas. Pemujaan berlebihan terhadap pamor membuat keris jatuh terjebak pada citra sebagai sumber klenik dan ilmu hitam. Padahal, sesungguhnya keris adalah karya seni yang agung.

Sebilah keris sebenarnya terdiri atas ratusan lembar tipis logam besi—konon, empu di zaman dahulu menggunakan logam yang diambil dari pecahan batu meteor yang jatuh ke bumi. Lembar demi lembar besi spesial ditempa dengan panas tertentu dan teknik khusus agar timbul luk (lekukan) dengan bentuk dan jumlah yang dikehendaki. Aura yang muncul nantinya juga bergantung pada proses pembuatan. Ada yang ketika jadi si keris memancarkan aura merah, biru, atau hijau, yang menciptakan wibawa magis tertentu. Tentu saja hal begini tak bisa dikerjakan sembarangan. "Benar-benar karya seni yang tinggi," kata Pudjadi.

Ryaas menambahkan, saat ini dia tengah menanti keris yang dipesannya dari seorang empu di Yogyakarta. Sang empu membikin satu keris dalam satu tahun, komplet dengan ritual yang berlapis-lapis. Ryaas berdecak kagum: "Bayangkan, satu tahun untuk satu keris. Apa bukan luar biasa?"

Kedahsyatan proses itulah yang membuat Ryaas tidak bosan menimang dan mengamati koleksi kerisnya dengan saksama. Dia tak jemu berkhayal, menduga-duga, serta membayangkan bagaimana gerangan kerja empu yang telah menempa keris dengan segenap cinta.

Mardiyah Chamim, Wuragil, Suseno (TNR), Imron Rosyid (Solo)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Kapolda Jawa Barat Copot Dua Kapolsek - 05 Sep 2008 | 21:29 WIB
Bupati Aceh Besar Mengundurkan Diri - 05 Sep 2008 | 21:19 WIB
Guru Tolak Aturan Pendanaan Pendidikan - 05 Sep 2008 | 21:16 WIB
Fernando Alonso Kuasai Free Practice 2 - 05 Sep 2008 | 21:07 WIB
Al Amin Mengaku Tak Berpengaruh di Komisi Kehutanan DPR - 05 Sep 2008 | 21:02 WIB
Kapolda Jawa Barat Mengaku Ditawari Suap Rp 10 Miliar - 05 Sep 2008 | 20:53 WIB
Hughes Bersumpah Jadikan City Raksasa Eropa - 05 Sep 2008 | 20:53 WIB
Bupati Aceh Besar Mundur, Surat ke Menteri Ditulis Tangan - 05 Sep 2008 | 20:44 WIB
Simulasi Pemilihan 2009 Dinilai Tak Efektif - 05 Sep 2008 | 20:40 WIB
Bapepam Akan Gugat Eurocapital - 05 Sep 2008 | 20:32 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data