Biarkan Anak-Anak Muda itu Menari |
Angan-angan itu lahir dua tahun silam. Indra Yudhistirasaat itu berusia 29 tahunhanya menyimpannya dalam kantong fantasinya, karena, "Membuat film musikal itu tidaklah mudah, dan mahal," tuturnya kepada TEMPO. Akhirnya, dia memutuskan membuat film komedi romantik berjudul Andai Ia Tahu.
Karena film Andai Ia Tahu dianggap cukup lumayan menggiring penonton, Indra diberi kesempatan mewujudkan impiannya membuat film musikal. Setelah semua naskah dan materi lagu tersedia, Indra mulai menyelenggarakan casting (proses pemilihan pemain). Dan di sini keajaiban pun terjadi. Tak dinyana, seorang pelamar yang belakangan ketahuan bernama Johan Jafar, 27 tahun, memikat matanya. "Orang ini, sih, bukan pantas jadi pemain, tapi yang pegang koreografer," kata Indra. Ia menawari Johan menjadi koreografer karena Johan adalah alumni Jurusan Modern Dance, Pedagogy, and Musical Theater di University of Oklahoma, Amerika Serikat, dan sempat tercebur di pentas Broadway sebagai penari. Johan sempat tampil bersama Saturday Night Fever Production dan Alvin Ailey Dance Ensemble di New York. Gaya luwes Johan menggerakkan tubuh pun sempat dipakai oleh PBS dalam salah satu produksi mereka. Dengan pengalaman begitu banyak, tak aneh jika Johan tak terlalu sulit menggarap Biarkan Bintang Menari. "Kuncinya, kita harus sadar pangsa pasar mana yang dituju oleh film tersebut," kata Johan.
Untunglah, Johan bekerja sama dengan tim yang solid. Hampir semua yang terlibat dalam pembuatan film ini adalah anak muda, sebaya dengan Johan. Sebut saja Monty Tiwa, 27 tahun, penulis cerita, yang menyodorkan skenario yang dalam bahasa Johan "asyik". "Kami satu visi," kata Johan. Belum lagi kerja sama dengan Andy Rianto, 28 tahun, arranger yang sedang naik daun yang mengemas lagu-lagu dengan aransemen musik yang cantik.
Tarian menjadi unsur yang sama pentingnya dengan drama dan musik dalam film drama musikal. Gerak tubuh dalam koreografi yang ditampilkan harus bisa menunjukkan emosi dialog dan karakter tokoh dalam adegan. Johan menawarkan sajian sejumlah social dance macam salsa, swing, dan tap dance. Johan mengaku ingin mematahkan pendapat bahwa swing, misalnya, hanya pantas untuk orang dewasa.
Dengan film ini, Johan juga ingin menciptakan tren tap dance untuk remaja kita. "Siapa tahu, habis menonton film ini, remaja jadi gandrung nge-tap dance, seperti orang-orang ramai menari poco-poco," katanya. Gaya tap dance terlihat pada lagu Ingin (duet Ariyo dan Dea Mirella), yang di layar disajikan lewat akting gerak dan lagu oleh Ariyo (Grey) dan Ladya Cheryl (Neina). Gaya-gaya seperti ini dipengaruhi oleh pentas Broadway West Side Story karya Leonard Bernstein.
Sayangnya, hampir semua pemain tak memiliki dasar tari. Tak mengherankan, Johan harus bekerja keras mengarahkan mereka. "Saya tidak menciptakan mereka menjadi penari andal. Yang penting, ekspresi keluar saat menari dan menyanyi." Sebelas tarian utama dalam film ini dirancang dalam bentuk gerak tari sederhana tapi memikat dan menghibur. Sejumlah lagu yang didendangkan Neina tidak keluar dari mulut Ladya. Selain Dea Mirella, lagu-lagu itu didendangkan oleh Sita, personel trio RSD.
Sedangkan Indra sebagai sutradara menginginkan film ini untuk remaja. Karena itu, "Saya mengambil pola penceritaan yang mirip dengan Grease, yakni gaya bertutur, kombinasi musik dan cerita," kata Indra, yang lulusan Vancouver Film School. Angan-angan sudah hebat; keinginan sudah sip; penggarapan memang masih harus banyak dirapikan. Tapi, seperti yang diutarakan Ishadi S.K., produser film ini, "Ini karya anak-anak muda yang baru berusia 20-an." Jadi, biarkanlah mereka menarisembari sesekali tersandung-sandung. Bukankah para sineas sebelumnya juga pernah "menari" dan juga jatuh-bangun sebelum sampai pada sukses?
Telni R. dan Irfan Budiman
|