Sebuah Langkah dalam Film Musikal Akhirnya ada juga sineas Indonesia yang bisa mencoba meniupkan musik sebagai roh film. Belum sempurna, tapi enak dilihat. |
BIARKAN BINTANG MENARI
Sutradara: Indra Yudhistira
Skenario: Indra Yudhistira dan Monty Tiwa
Pemain: Ladya Cheryl, Ariyo Wahab,El Manik
Produksi: Transinema
DONGENG itu dimulai dari sebuah bintang di langit. Dari sebuah bukit di Desa Cimelati, Neyna dan Grey, dua sahabat kecil, menjalin persahabatan dengan berkhayal sebagai seorang putri dan pangeran. Mereka menatap bintang di langit itu dengan sebuah teropong milik Grey dan mengguratkan keinginan fantastis anak-anak: istana dan kebahagiaan.
Tetapi Grey harus ke Jakarta bersama keluarganya dan memberikan kenang-kenangan seuntai kalung bintang ke- pada Neyna. Persahabatan terputus. Neyna ke Jakarta meneruskan pendidikan tinggi. Dan pada saat orientasi, dia bertemu kembali dengan Grey. Tak seperti Neyna dalam usia 19 tahun yang polos, lugu, manis, penuh mimpi, dan masih tetap bertahan mengenakan kalung bintang pemberian Grey, sebaliknya Grey yang berusia 21 tahun kini identik dengan kekerasan Jakarta: temperamental, keras, tapi berhati baik.
Jika para sineas mengklaim film ini sebagai film drama musikal pertama, memang itu harus diakui dengan beberapa catatan sembari menengok kembali sejarah film musikal Hollywood dan Indonesia. Para pecinta film drama musikal pasti sudah mengetahui film legendaris The Sound of Music (Robert Wise); Jesus Christ Superstar (Norman Jewison), Fame (Alan Parker), dan terakhir Chicago yang berhasil meraih Academy Award sebagai film terbaik setahun silam. Yang terutama membuatnya bisa disebut sebagai drama musikal, film-film itu bukan sekadar menggunakan musik sebagai penunjang film seperti halnya film Bollywood (yang sudah pasti akan memasukkan nyanyian pada saat tokohnya tengah sedih atau gembira). Musik pada film-film itu adalah roh; kerangka utama. Musik hampir menjadi pengganti dialog-dialog penting, sehingga kepada penonton bahkan tak perlu lagi disajikan adegan dialog yang hanya mengulang lirik lagu. Setiap sekuens, setiap adegan, merupakan sebab dan akibat yang disajikan dengan musik dan dialog bergantian (bahkan, jika perlu, dialog menjadi sangat minim seperti film musikal Jesus Christ Superstar).
Tiga Dara (Usmar Ismail), Bawang Putih, Pacar Ketinggalan Kereta (Teguh Karya), dan Sherina (Riri Riza) sudah berupaya keras untuk menggarap film drama musikal atau film drama dengan musik atau katakanlah "ingin mengarah ke drama musikal". Namun problem integrasi musik dengan cerita selalu menjadi persoalan bagi film Indonesia (yang ingin mencoba membuat drama musikal). Kalaupun musik film sudah tercipta dengan bagus seperti Sherina, toh harus diakui musik bukan roh dari film itu. Paruh kedua film, adegan penculikan Sadam, menyadarkan kita bahwa tiba-tiba saja musik itu hilang.
Film Biarkan Bintang Menari berhasil meniupkan musik sebagai roh film. Musik bukan hanya penunjang atau pemanis; apalagi sekadar latar belakang. Musik dan gerak tari adalah bagian dari cerita. Adegan orientasi mahasiswa menggebrak penonton; penuh keinginan bermain dengan gaya sederhana dan satiris. Adegan Grey bernyanyi dalam keadaan jatuh cinta dan berlompatan di jalan, atau adegan antara Grey dan Neyna di tempat bangunan yang bermain dan bergurau, adalah keinginan untuk menggunakan musik, gerak yang rilekstanpa harus berpretensi sempurna seperti Broadwaytapi sangat menghibur.
Saya tak mengatakan film ini adalah film terdahsyat sepanjang sejarah. Tetapi film ini sudah berhasil menangkap langkah awal keinginan sebuah drama musikal (dibandingkan dengan para sineas sebelumnya). Tidak dahsyat karena film ini tentu masih memiliki banyak problem mendasar. Plot cerita terlalu banyak maunya. Setiap tokoh harus punya problem: Grey yang konflik dengan ayahnya; Neyna yang terus-menerus bermimpi tentang istana fantasinya di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang gerah; Keiko yang punya kehidupan seks bebas, dan seterusnya. Semua persoalan mondar-mandir dengan editing yang membuat kita garuk kepala (coba lihat, kenapa tiba-tiba ada adegan nyanyi dan gerak di pinggir kolam, apakah itu sebetulnya mimpi Neyna dan Grey atau sekadar adegan nyanyi tempelan?). Belum lagi
, kenapa sih nama tokohnya harus seperti nama asing seperti Grey.
Belum lagi karakterisasi protagonis lelaki, Grey (diperankan dengan baik oleh Ariyo Wahab). Rasanya penonton sudah mulai bosan dengan epigon-epigon Rangga ini. Setelah muncul Rangga dalam Ada Apa dengan Cinta sebagai lelaki yang acuh tak acuh, judes, dingin tapi magnetis, muncul pula tokoh semacam dalam Eiffel, I'm in Love, dan kini Grey dalam film ini. Apakah ini sebuah tren tipe lelaki Indonesia yang tengah digandrungi remaja Indonesia? Atau para penulis cerita tak punya alternatif lain dalam penciptaan karakter lelaki? Kalau ya, betapa miskinnya jagat ide penulis cerita Indonesia masa kini. Mudah-mudahan ini tren yang akan segera terhapus.
Bagaimanapun, Biarkan Bintang Menari telah membuat sebuah langkah. Hanya sebuah. Tapi sebuah langkah yang penting dalam dunia film musikal.
Leila S. Chudori
|