Mencari Si Mbok dari Wonosobo Daya serap Jakarta terhadap pembantu rumah tangga sangat tinggi, khususnya pada hari-hari selepas Lebaran. Permintaan akan pembantu yang terampil justru meningkat, sehingga ada pula impor TKW dari Filipina. |
Tak sedikit perempuan yang mengadu nasib ke negeri orang; tidak pula berkurang kaum hawa yang membanting tulang di pabrik-pabrik. Namun, di luar itu, masih banyak wanita yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga—kendati jumlahnya belakangan ini kian menyusut saja. Mereka inilah yang membuat para penyalur tenaga kerja, seperti Lukman dan Sugito, tetap sibuk, terutama di hari-hari pasca-Idul Fitri, awal Desember ini.
Di rumah Lukman Mashudi, misalnya, telepon tak henti berdering. "Iya, Bu? Belum datang, Bu, yang dari Pacitan. Mungkin Kamis dan Jumat sudah pada datang semua, Bu," ujar Lukman kepada lawan bicaranya di seberang sana. Pengelola Lembaga Penyalur Kerja Tunas Annisa di Cipete, Jakarta Selatan, ini selain menjawab telepon juga sibuk melayani konsumen yang datang ke kantornya. Ada yang mencari pembantu rumah tangga, ada pula yang membutuhkan baby sitter alias pengasuh bayi.
Selepas Lebaran, biasanya permintaan akan pembantu melonjak tinggi. Saat TEMPO berkunjung ke kantornya, Lukman, yang juga dipanggil Budhi, tampak kewalahan. Pasalnya, hampir semua konsumen meminta "si mbok" yang sudah berpengalaman. Namun, "stok" yang ada rata-rata muda usia dan jumlahnya hanya enam orang. "Wah, ini yang ada masih belum 'mateng'," ujarnya sambil tergelak.
Meski begitu, bukan berarti yang belum "mateng" itu tak ada peminatnya. Dalam dua setengah jam, ada dua pembantu dibawa oleh majikan yang baru. Seorang ditugasi menjaga anak, yang satu lagi dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga. "Saya sudah punya satu pembantu, tapi butuh satu orang lagi untuk menjaga anak saya. Soalnya, baby sitter untuk dia sekarang sudah terlalu mahal," tutur Ahmad Richard dari Cibubur.
Tingkat kesibukan yang lebih tinggi terlihat di Yayasan Bu Gito, tak jauh dari Tunas Annisa. Sejak Senin pekan lalu, penyalur pembantu yang telah "buka praktek" selama 20 tahun ini sudah memasok 100 lebih pembantu untuk kawasan Jabotabek. Di sini banyak calon pembantu yang keluar-masuk untuk dipertemukan dengan calon majikan. Sementara itu, puluhan lainnya bergerombol di teras rumah kontrakan yang dijadikan kantor pusat yayasan ini, di Jalan Puri Mutiara II, Cipete, Jakarta Selatan.
"Puncaknya memang setelah Lebaran dan menjelang Lebaran," kata Sugito, pengelola yayasan ini. Menjelang Idul Fitri, sebagai pengganti pembantu yang pulang kampung, keluarga di Jakarta biasa menyewa tenaga cadangan—biasa disebut "serep" atau "inval". Sedangkan setelah Lebaran, keluarga di Jakarta membutuhkan pembantu baru untuk mengganti pembantu yang tidak kembali lagi.
Sebenarnya, bisnis penyaluran pembantu rumah tangga sudah lama tumbuh subur di Jakarta. Pola hidup dengan dua sumber penghasilan—dalam hal ini suami-istri bekerja purnawaktu—menyebabkan permintaan akan tenaga pembantu selalu tinggi. Ketika pasangan suami-istri bekerja, rumah butuh penjaga sekaligus pengelola. Kalau ada anak balita, diperlukan juga baby sitter. Mereka yang berkocek tebal tentu bisa mempekerjakan beberapa tenaga sekaligus. Dari sini tercipta spesialisasi: ada tukang cuci dan setrika, tukang masak, tukang kebun, baby sitter, dan tukang bersih rumah. Lumrah bila biro jasa pembantu tak pernah sepi pesanan.
"Selama ini kami belum pernah kosong," kata Sugito. Hal senada diungkapkan Budhi, dengan Yayasan Tunas Anissa yang umurnya baru tiga tahun. Yayasan ini bisa menyalurkan rata-rata 20-25 orang setiap bulan, pada hari-hari biasa. Sedangkan Yayasan Bu Gito, yang kapasitasnya lebih besar, rata-rata mendistribusikan 50 orang per hari. Pada hari puncak, jumlahnya bisa lebih banyak. Menjelang Lebaran lalu, Yayasan Bu Gito bahkan menyalurkan 800 orang untuk "serep".
Ramainya bursa pembantu di Jakarta otomatis menggairahkan bursa tenaga kerja di daerah. Untuk memenuhi permintaan, setiap biro mengandalkan jaringan makelar di daerah, yang biasa disebut "sponsor". Ini diperlukan agar asal-usul dan tempat tinggal keluarga si pembantu dapat ditelusuri dengan mudah. Karena itu, jarang sekali mereka menerima orang yang melamar sebagai pembantu untuk disalurkan. "Pokoknya, pembantu itu sudah menjadi tanggung jawab sponsor untuk menghubungi keluarga jika terjadi apa-apa atau ada keperluan tertentu dari keluarga," tutur Hera Wahyuningsih, istri Budhi.
Walau demikian, ada kalangan tertentu di Jakarta yang bisa memesan langsung ke daerah. Hal itu biasa dilakukan Yayasan Tini Kasih, Yogyakarta, yang dikelola Tri Nuryaningsih, atau Lembaga Penyalur Kerja Rahmawati di Purwoyoso, Semarang. "Tiap tahun kami menyalurkan sekitar 300 tenaga pembantu ke kota-kota besar di Indonesia, khususnya Jakarta," kata Rahmawati, pengelola biro penyalur dengan nama yang sama.
Tenaga pembantu pun berasal dari pelbagai daerah. Umumnya, biro di Jakarta memperoleh tenaga dari Jawa Barat (Garut, Tasikmalaya, dan Bandung), Jawa Tengah (Cilacap, Wonosobo, Kebumen, Purwokerto), Jawa Timur (Pacitan dan Ngawi), dan Lampung. Tenaga dari Lampung biasanya berasal dari kalangan transmigran. Sedangkan biro jasa di Semarang biasa memperoleh calon pembantu dari Wonosobo, Temanggung, Purwodadi, serta Ngawi (Jawa Timur). "Yang terkenal bagus adalah pembantu dari Wonosobo, Temanggung, dan Purwodadi. Banyak orang kaya di Jakarta yang memesan pembantu dari ketiga daerah tersebut," tutur Rahmawati.
Belakangan ini, rata-rata pembantu yang direkrut relatif muda, berusia 16-35 tahun. Bahkan pekerjaan sebagai "serep" diminati pula oleh mereka yang masih bersekolah. Antik, 18 tahun, siswi kelas 3 SMU di Banyumas, bersama adiknya Isyana, 16 tahun, sejak empat tahun lalu bekerja sebagai pembantu di Jakarta menjelang dan setelah Lebaran. "Habis, bayarannya lumayan (upahnya Rp 40 ribu per hari selama 10-13 hari). Lagi pula adik kami masih banyak," ujar anak kedua dari delapan bersaudara ini.
Sesuai dengan dinamika pasar, biro jasa pun menyediakan pengasuh anak atau baby sitter, tukang kebun, maupun sopir. Alhasil, omzet biro-biro tenaga kerja ini terus meningkat. Dari tiap tenaga yang disalurkan, yayasan memperoleh rata-rata Rp 350 ribu-375 ribu. Sedangkan untuk tenaga cadangan (serep), yayasan memperoleh Rp 200 ribu per orang. Dari bayaran ini, biro menyisihkan sebagian untuk sponsor—sekitar 50 persen. Jika dipotong dengan biaya operasionalnya, yayasan minimal memperoleh Rp 125 ribu per orang.
Untuk itu semua, modal yang diperlukan tidaklah besar. Karena tidak perlu memiliki izin usaha—sejauh ini memang belum ada peraturan khusus mengenai biro jasa penyalur pembantu—cukup Rp 5 juta-10 juta saja. Dana ini digunakan untuk mengontrak rumah sebagai kantor sekaligus tempat penampungan, di samping memasang saluran telepon. Kalau biro sudah membina hubungan dengan jaringan makelar pembantu di daerah, tentu bisnisnya bisa berjalan mulus. Sekali-dua kali memang perlu pasang iklan untuk memancing permintaan. Selanjutnya, tinggal memanfaatkan iklan gratis, dari mulut ke mulut.
Berbeda dengan biro jasa abal-abal, lembaga penyalur tenaga kerja yang serius, lembaga ini tak memungut biaya dari pembantu yang telah mendapat pekerjaan. Pasalnya, lembaga ini tidak memberikan program latihan khusus. Uang makan selama di penampungan pun ditanggung pengelola. Biasanya, mereka diajak bekerja beramai-ramai, sekaligus diajari cara membersihkan rumah, menyalakan kompor gas, atau menggunakan mesin cuci dan seterika listrik.
Lain halnya baby sitter, yang harus membayar biaya pendidikan dan menebus dua setel pakaian seragam. Yayasan Sugito, misalnya, mengharuskan calon baby sitter membayar Rp 650 ribu, sedangkan perawat untuk orang lanjut usia menyetor Rp 750 ribu. Bisa juga biaya latihan itu dicicil tiap bulan, seperti yang ditetapkan Tunas Annisa. Tepatnya, baby sitter menyetorkan 10 persen dari gajinya selama 10 bulan ke yayasan.
LPK Rahmawati, Semarang, hanya mewajibkan calon pembantu agar melengkapi persyaratan administratif dan identitas diri. Supaya bisa bekerja di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, biaya administrasinya Rp 175 ribu. Sedangkan calon pembantu rumah tangga di Semarang dikenai biaya administrasi Rp 100 ribu.
Kendati menguntungkan, sukses di bisnis penyaluran pembantu tidaklah bisa diraih dalam sekejap. "Dua tahun pertama, saya merugi terus," kata Sugito, yang dulu menjadi juru parkir di daerah Panglima Polim, Jakarta Selatan. Dia paling sebal jika pembantu mencuri di rumah majikannya, atau kabur begitu saja. Karena itu, yayasan biasanya memberikan garansi 90 hari bagi pelanggan. Selama jangka waktu itu, pembantu boleh diganti jika tak cocok.
Agar lebih selektif, yayasan mengharuskan si calon pembantu memiliki kartu tanda penduduk. Yayasan Bu Gito bahkan mengharuskan agar tenaga kerja ini mengantongi izin dari orang tua. "Setidaknya secara lisan," kata Sugito. Untuk menjamin agar pembantu tak kabur, gajinya yang pertama disimpan oleh yayasan dan baru boleh diambil ketika pulang.
Diperkirakan, prospek bisnis penyaluran pembantu senantiasa cerah. Sugito, yang semula bekerja di rumah petak 3 x 3 meter, kini sudah mampu membeli komputer dan mendokumentasi semua tenaga kerja yang disalurkannya melalui handycam. Saat ini ia mulai menawarkan jasa outsourcing untuk memasok buruh pabrik.
Potensi merugi pada bisnis penyalur kecil sekali, apalagi jika dikelola secara tekun dan teliti. Tak aneh bila bisnis ini dilirik pula oleh negeri tetangga. Menurut Sugito, "si mbok" dari negeri Arroyo pun sudah berdatangan untuk mengadu nasib di sini. Laba yang bisa diraup dari tenaga asing ini pasti lebih besar karena, seperti kata Soegito, "Gajinya pakai dolar."
Dara Meutia Uning, Sohirin (Semarang), Syaiful Amin (Yogyakarta)
|