Aku Berpikir Maka Aku Ada |
Filsafat Itu Heboh!
Penulis: Stephen Law
Penerbit: Mizan, Bandung, 2003
SIAPAKAH "aku"? Ini bukan pertanyaan basa-basi. Bisa saja Anda menjawab dengan menyebutkan nama, pekerjaan, kebangsaan, status, atau identitas lainnya. Tapi, menurut filsafat, semua jawaban itu bukanlah "aku" yang sesungguhnya. Lalu siapakah "aku"? Apakah "aku" nyata atau tidak? Apakah "aku" satu jam lalu sama dengan "aku" sekarang? Jika "aku" memang nyata, apakah arti kenyataan itu?
Bagi orang yang tak ingin capai berpikir tentang filsafat, pertanyaan macam itu sepertinya buang-buang waktu saja. Tapi, bagi Stephen Law, profesor filsafat Universitas London penulis buku ini, pertanyaan seperti itu salah satu cara mengantar manusia mendekati kebenaran. Meski begitu, untuk menjelaskan apa itu filsafat, ia tak mau rumit. Ia justru membeberkan kejadian sehari-hari dengan ilustrasi yang kocak.
Dalam bab I, misalnya, ia membahas kenyataan dengan mengambil contoh argumentasi Plato. Dengan beberapa ilustrasi, ia membeberkan argumentasi Plato bahwa dunia yang kita lihat dan rasakan dengan pancaindra ini bagaikan bayangan di tembok gua. Untuk menemukan hakikatnya, kita harus berpaling dari bayangan itu dan melihat langsung ke sumbernya. Di akhir bab, ia mengungkapkan kelemahan teori tersebut dengan memaparkan pendapat beberapa filsuf.
Untuk pertanyaan seperti "bolehkah saya makan daging," misalnya, Stephen Law memperkenalkan metode tanya-jawab secara filsafatsebuah metode yang diperkenalkan oleh Plato untuk menguji pendapat orang di jalanan Kota Athena kala itu.
Buku pengantar filsafat yang ditulis dengan gaya populer ini membahas delapan pertanyaan yang diakhiri dengan "Benarkah ada Tuhan?" Namun Stephen Law tidak pernah memberikan jawaban pasti dan final. Sebab, sebagaimana ia sebut dalam pengantar, jawaban filsafat begitu beragam sehingga ia juga bisa salah. Dengan memperkenalkan filsafat, ia ingin mengajak kita berpikir. Memikirkan jawaban atas pertanyaan. Aku berpikir, maka aku ada.
I G.G. Maha Adi
|