Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 41/XXXII/08 - 14 Desember 2003
   
Buku

Australia di Mata Kritikus (Australia)

Dua peneliti senior dari Monash University memberikan analisis yang sangat kritis terhadap Australia dan sikap bangsanya.

Australia's Ambivalence towards Asia

Penulis: J.V. D'Cruz dan William Steele

Penerbit: Monash Asia Institute, Clayton, Victoria, Australia, 2003

Sampul lunak, 466 halaman



Di mana letak Australia? Secara geografis, Australia jelas berdekatan dengan Asia. Secara kebudayaan, Australia jauh lebih dekat dengan AS dan Eropa. Dalam empat-lima tahun belakangan, ada beberapa buku yang beredar yang membahas dan mengupas posisi Australia dalam kaitannya dengan kawasan geografisnya, Asia Pasifik, atau lebih spesifik lagi, Asia. Buku-buku ini menyisihkan bagian-bagian cukup besar, yang khusus menelusuri sebab-sebab Australia tidak pernah sepenuhnya diterima sebagai anggota kawasan. Baru-baru ini, umpamanya, About Face: Asian Accounts of Australia, tulisan Alison Broinowski, membuat gerah pembaca Asia dan Australia. Namun belum ada satu pun yang dapat menyaingi ketajaman Australia's Ambivalence towards Asia, tulisan dua akademisi senior dari Monash Asia Institute, Monash University, J.V. D'Cruz dan William Steele.

D'Cruz dan Steele memiliki daya kupas dan bedah yang tajam, tanpa ampun. Jika Anda warga Australia, Australia's Ambivalence towards Asia bukanlah buku yang enak untuk dibaca sebelum tidur, melainkan buku yang harus dibaca sesudah menyiapkan diri untuk berani menerima kecaman tanpa menjadi emosional dan defensif, dan berani memandang ke dalam sebuah cermin yang berkaca pembesar tanpa berkedip.

Menurut D'Cruz dan Steele, kegagalan Australia dalam mendapatkan posisi integral dalam kawasan ini sangat berkaitan dengan ketidakmampuannya sendiri dalam menentukan dan menempatkan identitasnya.

Menurut buku ini, karena selalu dilecehkan oleh Inggris, Australia mengidap semacam "rasa rendah diri".

Untuk mengatasi rasa rendah diri ini, Australia mencoba membuktikan kepada para penindas jiwanya bahwa dia bisa mencapai taraf setinggi mereka, bahkan dalam beberapa hal lebih tinggi. Kalau itu semata yang dilakukan Australia, mungkin sah-sah saja. Namun, dalam upaya membuktikan ketinggian mutu diri, Australia juga membutuhkan pijakan yang konkret. Dengan kata lain, bagaimana membuktikan bahwa kita tinggi kalau tidak ada orang lain di bawah kita?

Pada tahap ini, dapat dimengerti jika dalam mencari korban pijakan, pandangan jatuh pada bangsa-bangsa yang sejak berabad-abad lalu di mata bangsa kulit putih dianggap lebih rendah daripada mereka sendiri: bangsa kulit berwarna, yang tersebar di kawasan Asia Pasifik, dan sedihnya juga penduduk asli Australia sendiri, bangsa Aborigin.

D'Cruz dan Steele tidak mendapatkan konsep ini tanpa penelitian luas dan dalam. Konstitusi, peraturan-peraturan lokal, alur politik, dan kebijakan yang diambil berbagai pemerintahan disorot dan dianalisis. Kendati sejumlah peraturan diberlakukan untuk melindungi kelompok minoritas, yang notabene terdiri atas kelompok kulit berwarna pendatang serta penduduk asli, di bawah sadar kelompok mayoritas kulit putihnya masih saja tersimpan konsep bahwa mereka lebih tinggi.

Kekuatan bawah sadar ini menembus keluar dalam masa-masa krisis di daerah tertentu, umpamanya di kota-kota kecil yang menderita karena kelesuan ekonomi dan angka pengangguran tinggi. Contohnya dukungan yang diterima Partai One Nation, partai Pauline Hanson, pada pertengahan 1990-an, partai yang menyalahkan segala kelompok yang bukan kulit putih atas segala masalah sosial negara ini.

D'Cruz dan Steele juga melongok ke dalam nilai-nilai yang dibanggakan bangsa Australia, antara lain nilai egalitarian dan liberal negeri ini. Salah satu contoh dari kerapuhan nilai-nilai liberal yang dianut Australia, menurut kedua akademisi ini, ialah ketidakmampuan para pengambil kebijakan negara ini menempatkan liberalisme dalam konteks plural.

Kedua penulis ini malah mengatakan bahwa gereja-gereja Kristen lebih bijaksana dalam menangani keragaman budaya daripada tokoh-tokoh yang mengaku penganut aliran liberal, padahal di mata banyak tokoh liberal ini, sosok gereja dikaitkan dengan pemikiran kurang intelektual. Ini karena gereja memiliki akar sejarah dari Eropa, Asia, dan Afrika. Celakanya, D'Cruz dan Steele menambahkan, para liberalis ini tidak kalah bersemangat dengan para misionaris gereja dalam upaya menyebarkan keyakinannya.

Kelemahan buku ini ialah terlalu tajamnya kritik itu bagi pembaca kulit putih di Australia, padahal mereka justru perlu membacanya.

Dewi Anggraeni


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data