Dari Rekreasi hingga Reli |
Olahraga Otomotif Indonesia: Catatan Perjalanan Sejarah 1950-2002
Penulis: Danny Anthonius dan Jeffrey J.P.
Penerbit: Andrew Tani & Co, Jakarta, 2003
SEPERTI subjudulnya, buku ini menyajikan lintasan sejarah olahraga otomotif di Indonesia selama lima dasawarsa terakhir, dari awal 1950 hingga 2002. Olahraga ini berawal pada abad ke-19 ketika orang Belanda berakhir pekan dengan berkonvoi mengendarai sepeda motor setiap Sabtu pagi, lalu berkemah, dan pulang Minggu petang.
Rekreasi itu semakin berkembang dan belakangan mereka menggunakan mobil. Agar suasana lebih atraktif, mereka menciptakan kegiatan yang lebih menantang dengan menggelar adu kecepatan dan ketangkasan berkendara. Sekitar awal 1950, rekreasi itu berubah menjadi ajang lomba otomotif yang disebut "reli wisata." Dan tak lama kemudian muncul berbagai lomba balap motor.
Pada 1967, muncul gokar, balap mobil mini, yang langsung menyedot perhatian, terutama setelah Sirkuit Ancol di Jakarta, sebagai lintasan balap permanen yang pertama, dibangun. Tiga tahun kemudian, sirkuit ini membidani lahirnya cabang baru: balap mobil. Dan dalam waktu hampir berbarengan, lahir speed rally.
Olahraga ini berkembang terus. Pada 1970-an, muncul cabang motocross dan slalom test. Memasuki era 1980-an dan 1990-an, muncul tiga cabang baru: sprint rally, adventure off-road, dan sprint off-road. Pada 1990, Sirkuit Internasional Sentul di Bogor dibangun, dan menjadi etalase kegiatan olahraga otomotif Indonesia hingga 2002. Ketika itu, Indonesia menjadi tuan rumah lima kejuaraan otomotif bertaraf dunia untuk cabang balap motor, motocross, dan speed rally. Pada periode itu, lahir cabang baru: drag race.
Buku yang penuh foto ini juga menampilkan tokoh olahraga otomotif, di antaranya Sukirman Gondokoesoemo. Kakek pereli nasional Rifat Sungkar ini pertama kali mengikuti reli pada 1953 dengan jip Willys. Ia pernah menjuarai Djawa-Bali Tourist Rally (1967), yang memberinya satu di antara sekitar 200 piala kejuaraan yang disabetnya. Suatu hari Gondo berpesan, "Kalau ngegas mobil, jangan pakai kaki, tapi pakai otak." Nah.
Nurdin Kalim
|