'Bye-Bye' Bajuri Biarpun Bajaj Bajuri masih digemari, sutradaranya mundur tepat di episode ke-100. Masih sitcom ini bisa diminati? |
Malam baru merangkak naik. Malam itu, menjelang puasa, Oneng, istri Bajuri, ingin melakukan kebaikan buat suami tercinta. Diam-diam ia menyimpan selembar sarung dan sebuah songkok yang bakal dipersembahkan kepada sang suami, yang lelah, duduk seharian mencari penumpang, di atas sadel bajajnya. Merek berwarna kuning emas berlambang gajah bengkak dibiarkan melekat di kain sarung?sebuah pesan agar suami tahu betapa istimewanya hadiah itu.
Tapi skenario Bajaj Bajuri rupanya bergerak mengikuti realitas sosial yang ada. Skenario menggagalkan rencana Oneng, si orang kecil. Pada akhirnya, Bajuri batal mendapat songkok dan sarung: orang kecil punya rencana, tapi kenyataan berkata lain. Bajaj Bajuri, sebuah serial komedi situasi yang muncul tiap hari setelah magrib di stasiun Trans TV itu, menunjukkan bagaimana orang-orang Betawi yang berstatus kelas menengah bawah merespons perubahan yang berlangsung di kampungnya, kampung yang tentu saja telah berubah kompleks menjadi sebuah metropolitan.
Bajaj Bajuri, yang mengetengahkan pasangan Mat Solar (Bajuri) dan Rieke Diah Pitaloka (Oneng) sebagai figur sentralnya, dinilai cerdas menangkap keseharian. Pekan silam, ia mengukir prestasi dengan menayangkan episode ke-100. Sepanjang Ramadan, Oneng dan suaminya muncul setiap hari. Rating mereka lumayan: Bajaj Bajuri sempat menyundul angka 8, cukup bagus untuk acara yang masih bau kencur. Irwin Astrawiguna, kepala program dan pengembangan di Trans TV, mengakui. "Prosesnya cepat, kok, berbeda dengan program lain yang membutuhkan waktu 2-3 bulan," katanya.
Alkisah, suatu hari di tahun 2002, Irwin, yang kebetulan berkunjung ke perpustakaan, tak sengaja menyentuh berbagai pilot acara yang ditawarkan kepada stasiun itu. Saat memutar sebuah kaset, ia lekas terpesona pada apa yang dilihatnya: seorang gendut berkumis dan sebuah kendaraan bersuara bising, bajaj. Tak lama, tawanya pun pecah. Demikian pula beberapa koleganya yang ada di situ malam itu. Setelah ia berbincang dengan bosnya, Bajaj Bajuri pun muncul, dengan akting wajar Mat Solar, Rieke, Nani Wijaya, dan Fanny Fadillah serta humor yang tidak kasar. Penggemar puas, dan slot iklan Bajuri selalu penuh.
Bajaj yang sukses itu kemudian muncul dengan ritme cepat, interval pendek. Dan itu menimbulkan masalah bagi sutradara sekaligus penulis skenario Aris Nugraha. Saat pengambilan gambar untuk epiosode ke-100, pria asal Garut ini menyatakan mundur dari semua proses produksi. "Belakangan Bajuri menjadi tambang emas bagi stasiun televisi," tuturnya. Tapi Aris merasa lelah. "Saya sih kepingin agar Bajaj istirahat dulu, nanti baru muncul lagi. Biar orang juga bisa menunggu," katanya. Tapi permintaan itu tak digubris. Malah belakangan, di bulan puasa, Bajuri digenjot penayangannya.
Edisi Ramadan memang tetap berjalan. Apalagi, meskipun digenjot kejar tayang, Bajuri tetap menggigit. Tapi niat Aris tak berubah. Dia tidak akan turut dalam Bajaj Bajuri yang rencananya dilanjutkan tahun 2004. "Sepertinya orang per orang dalam produksi punya potensi untuk membunuh Bajuri di masa depan, dan saya tidak mau terlibat," ujarnya pesimistis.
Wajar memang bila Aris merasa ingin melindungi anak kandungnya?demikian dia menyebut Bajaj Bajuri. Awalnya, pada 1999, dia bersama dua orang temannya, Hardi dan Chairul Ridjal, menggagas Bajaj Bang Juri. Idenya memang dari dua temannya itu. Tapi Aris kemudian mengembangkannya. Kerja keras selama dua tahun hanya berbuah dua buah demo. Menurut Aris, ia bersama dua temannya berusaha keras menemukan formula agar penonton bisa ngakak tak henti-henti dalam waktu yang singkat. Namun tiada stasiun yang tertarik, hingga akhirnya demo itu ditemukan tak sengaja di sebuah malam pada tahun 2002.
Lalu bagaimana nasib serial itu setelah mundurnya Aris sebagai orang yang menggoreng serial ini menjadi tontonan bernas? Belum lagi ketahuan. Tapi, meski Aris sudah menyiapkan penggantinya, harapan masyarakat sudah demikian tinggi. Di sebuah milis, misalnya, ada harapan seorang penggemar supaya Bajaj Bajuri dilanjutkan hingga Bajuri dan Oneng punya anak. Bajuri bagi mereka bukan lagi sekadar tontonan, melainkan lebih menjadi seorang tetangga yang tinggal di sekitar mereka.
Aris telah melahirkan anak istimewa. Dalam evolusi kendaraan publik, bajaj setingkat di atas bemo, beberapa tingkat di bawah angkot, yang mayoritas buatan Jepang. Mungkin bajaj yang made in India itu mewarisi karakter bemo yang "bandel": tetap survive kendati cuma sekadarnya, di satu-dua tempat.
Endah W.S., Irfan Budiman, Telni Rusmitantri
|