Melokalkan Milis Komunitas Internet di Indonesia membangun server milis di dalam negeri pengganti Yahoogroups. Menghemat devisa negara. |
Hanya sekali bertemu, sudah cukup bagi Mustafa untuk memutuskan pembuatan mailing list (milis) kelompoknya. Setiap peserta memiliki e-mail, mau apa lagi, begitu pikir Mustafa. Milis memungkinkan komunikasi lebih efektif. Seorang peserta hanya perlu menulis satu pesan, tak lama berselang semua peserta menerima pesan itu dan dapat langsung menanggapinya.
Bagi Mustafa, atau siapa saja sebenarnya, tak sulit membuat milis. Masuk saja ke situs Yahoogroups (www.yahoogroups.com). Lebih mudah bila telah memiliki mail account gratis dari Yahoo. Hanya beberapa langkah, mengikuti panduan yang tak membingungkan, milis pun jadi. Tinggal memasukkan e-mail pesertanya—dalam kasus Mustafa, ya, e-mail teman-temannya—untuk diundang bergabung.
Seperti membuat mail account-nya, Mustafa tak perlu mengeluarkan ongkos untuk membuat milis di Yahoogroups. Tak aneh kalau ada 4.646 milis Indonesia terdaftar di Yahoogroups. Di antara negara ASEAN, jumlah milis kita hanya kalah dari Filipina. Jenis milis pun beragam. Ada diskusi tentang filsafat, politik, sosial budaya, dan teknologi yang serius. Tapi ada pula milis para penggemar gambar dan cerita porno. Jumlah pesertanya ada yang lima orang dan sepertinya mati suri, tapi ada pula yang belasan ribu seperti milis Daarut Tauhiid.
Bagi pengelola dan anggota milis, tak persoalan server—komputer pusat tempat milis disimpan—milis mana yang dimanfaatkan. Yahoogroups dipilih mungkin lantaran gampang atau populer. Tapi tak banyak yang tahu bahwa di balik pilihan itu ada konsekuensi yang ditanggung negara: mengalirnya devisa ke luar negeri.
Begini. Server Yahoogroups berada di Amerika Serikat. Jika milis itu anggotanya banyak, lalu lintas informasi sangat padat. Akibatnya, perusahaan penyedia jasa Internet (PJI) di Indonesia harus membeli bandwidth internasional dalam jumlah besar. Bandwidth atau pita lebar internasional adalah infrastruktur telekomunikasi di luar negeri yang digunakan agar dapat mengakses Internet.
Padahal, menurut Adhytia Wisnu Sasmita, pengusaha penyedia web Judistira Infomedia di Surabaya, Jawa Timur, dari bandwidth internasional itulah perusahaan jasa Internet menghabiskan 60-80 persen biaya operasional bulanannya. Untuk bandwidth internasional berkecepatan 2 megabit per detik, misalnya, perusahaan mengeluarkan lebih dari US$ 126 ribu (lebih dari Rp 1,063 miliar) per bulan.
Mahalnya bandwidth sudah lama dipahami. Itulah sebabnya, pada Agustus 1997, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) meluncurkan Indonesia Internet eXchange (IIX), yakni simpul pertukaran lalu lintas Internet di dalam Indonesia. Kala itu, IIX mengaitkan 35 perusahaan penyelenggara Internet, sehingga setiap pelanggannya dapat berinterkoneksi. Tanpa IIX, jika pelanggan suatu PJI ingin berkomunikasi dengan pelanggan PJI yang lain di Indonesia, ia harus melalui perusahan jasa Internet super yang ada di Amerika Serikat atau Singapura.
Sayangnya, situs web banyak berada di luar negeri, sebut saja Amerika Serikat. Dampaknya, belanja bandwidth internasional tetap tinggi. Penyebab lain: situs web dalam negeri masih sedikit atau, kalaupun ada, mungkin tak menarik bagi luar negeri untuk mengaksesnya. Jadilah Indonesia sebagai bangsa pembeli dan bukan penjual.
Kondisi itu disadari kalangan teknologi informasi dan komunikasi Indonesia yang tergabung dalam Komunitas Open Source Indonesia. Mereka menggagas pembangunan server milis lokal yang dinamai Groups.or.id (www.groups.or.id). Server itu diharapkan dapat menggantikan server Yahoogroups, kelak. Dengan adanya server lokal, milis-milis yang mangkal di server luar negeri bisa pindah ke dalam negeri. Dengan demikian, ini dapat membantu menghemat belanja bandwidth internasional.
Bekas dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) Onno W. Purbo, Donny B.U., koordinator Information and Communication Technology Watch, Bona Simanjuntak dari Jaringan Informasi Sekolah, beberapa pengusaha jasa Internet, dan aktivis Linux adalah sebagian pendiri Groups.or.id itu. Dibangun secara gotong royong, server milis itu menggunakan komputer refurbished—baru tapi bekas—yang dibeli patungan dari situs dagang online seharga Rp 1.695.000 (baca Risalah Server Groups.or.id).
Menurut Onno, alasan membagun server milis lokal itu bisa macam-macam. Baginya pribadi, server itu dapat mewadahi para pengembang aplikasi open source—peranti lunak yang kode sumbernya terbuka bagi umum—untuk mengasah bakat. "Hasilnya sudah terlihat. Kini membuat milis baru di Groups.or.id bisa secara otomatis," ujarnya.
Keberhasilan itu berkat sumbangan mahasiswa Teknik Informatika ITB, Oon Arfiandwi M., relawan pemrogram yang tergabung di milis developer@groups.or.id, yang memodifikasi script—himpunan instruksi. Dengan itu, pengguna yang ingin membuat milis baru hanya perlu mengisi tampilan formulir, sementara sisanya dikerjakan script secara otomatis.
Baru berumur tiga minggu, Groups.or.id berhasil melokalisasi hampir 700 milis. Onno yakin angka 1.000 bakal tembus awal bulan ini.
Namun keberadaan server milis lokal, menurut Onno, tak cukup dapat menghemat bandwidth internasional. "Penghematan hanya terjadi kalau ada free webmail dan free popmail yang bagus di Indonesia," katanya.
Itulah sebabnya tahap lanjutan adalah membangun situs web yang memberikan layanan e-mail gratis seperti Yahoo. "Sekarang teman-teman mau menginstal program e-mail gratis itu ke komputer sumbangan Intel Indonesia," kata Onno.
Server milis dan situs e-mail gratis bukan sasaran akhir Komunitas Open Source Indonesia. Menurut Onno, masyarakat berbasis pengetahuanlah yang hendak diwujudkan. Ini hanya batu loncatan agar para pengembang open source mulai bersatu dan bergerak. "Semoga yang terbaik dapat difasilitasi untuk penetrasi ke pasar regional dan global. Jangan sampai kalah sama India, Korea, dan Jepang," ujarnya.
Dody Hidayat
Risalah Server Groups.or.id
3 Oktober 2003:
Ide membuat mailing list (milis) lokal muncul dalam e-mail terbatas. Milis lokal itu, selain dapat memberdayakan potensi sumber daya manusia bangsa, bisa untuk menghemat bandwidth ke luar negeri. Selain itu, milis lokal bisa menjadi salah satu proyek percontohan pengembangan Komunitas Open Source Indonesia.
14 Oktober 2003:
Di www.FastnCheap.com dijual komputer refurbished tipe HP KAYAK PentiumIII-600 megahertz, memori 256 megabyte, hard disk 15 gigabyte, dan CD-ROM 48x seharga Rp 1.695.000. Muncul ide membelinya secara patungan. Penyumbangnya antara lain Onno W. Purbo, Irwin Day (iNterNUX), Bona Simanjuntak (Jaringan Informasi Sekolah), Donny B.U. (ICT Watch), David Sudjiman (pengurus KPLI Jakarta), Rio Martin (mahasiswa Itenas), M. Ichsan (Visionnet), Nies Purwati (Sekjen Mastel), Rusmanto (Pemimpin Redaksi Infolinux), I Made Wiryana (dosen Gunadarma), Mas Wigrantoro R.S. (koordinator GIPI Indonesia), Heru Nugroho (Sekjen APJII), Anton Raharja (Telematics Indonesia), dan anonim. Mereka dianggap sebagai founding father Groups.or.id dan variannya, tergabung dalam milis ict4d@groups.or.id.
20 Oktober 2003:
Komputer yang dipesan melalui Internet ke FastnCheap.com di Surabaya itu tiba.
22 Oktober 2003:
Komputer itu dibawa ke SMK Jaya Wisata II di Kalimalang, Jakarta, untuk diperiksa kelengkapan isinya dan diinstalkan sistem operasi Debian 3 oleh Bona Simanjuntak dan Sindu Irawan (aktivis JIS).
23 Oktober 2003:
Penyedia jasa Internet CBN mendukung pengembangan server milis lokal itu. Manajer Pemasaran CBN, Stephanus Jonathan, menyediakan bandwidth luar negeri sebesar 64 kilobit per detik dan bandwidth dalam negeri sebesar 128 kilobit per detik.
27 Oktober 2003:
Server masuk ruang Network Operating Center CBN untuk di-collocation-kan. Sistem operasi server harus diganti dengan Mandrake 9.0 karena sudah tersedia fasilitas engine mailing list, yaitu Mailman. Saat bersamaan, nama Groups.or.id didaftarkan ke Idnic.
31 Oktober 2003:
Server Groups.or.id resmi diluncurkan. Penyempurnaan isi server terus dilakukan para administrator: Adi Nugroho, Bona Simanjuntak, David Sudjiman, Donny B.U., Irwin Day, Judhi Prasetyo, M. Ichsan, M. Noor Al'Azam, Onno W. Purbo, dan Rio Martin. Untuk membuat milis baru, para pemesan harus mengirimkan e-mail permintaan ke para administrator yang membuatnya secara manual.
11 November 2003:
Milis developer@groups.or.id berdiri menjadi wadah pertukaran informasi dan diskusi bagi relawan
12 November 2003:
Intel menyumbangkan chip Pentium-IV 3,06 gigahertz HT beserta motherboard Intel D850EMV2. Sumbangan diserahkan Country Manager Intel Indonesia, Budi Wahyu-Jati, kepada Onno di kantor Intel Jakarta. Sumbangan Intel ini rencananya untuk membangun server bagi free e-mail lokal.
13 November 2003:
Beberapa institusi berniat membantu Groups.or.id berupa sumbangan bandwidth: CBN, Techscape, VIPnet, Graha Sarana Data, ITB, dan Power Media Communication.
17 November 2003:
Engine milis (Mailman) Groups.or.id sudah berbahasa Indonesia. Tim relawan penerjemahnya dikoordinasi Judhi Prasetyo.
17 November 2003:
Berkat kerja keras relawan milis developer@groups.or.id, pembuatan milis baru tidak perlu manual lagi, tapi cukup mengisi formulir sederhana, dan milis otomatis dibuat oleh script. Oon Arfiandwi M., mahasiswa Teknik Informatika ITB, memodifikasi script pada http://groups.or.id/mailman/create sehingga dapat berfungsi membuat milis secara otomatis.
14 November 2003:
Milis yang dilayani oleh Groups.or.id menembus angka 500.
Sumber: jurnal Groups.or.id
|