Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 40/XXXII/01 - 7 Desember 2003
   
Peristiwa

Panser Tua Tewaskan Kamerawan

JURU bicara TNI Angkatan Darat, Brigjen Ratyono, memastikan bahwa musibah panser yang merenggut nyawa kamerawan Indosiar Arie Wailan Orah (Awo) di Desa Jambi Baru, Sultan Daulat, Aceh Singkil, murni kecelakaan. Bersama rekannya reporter Sisca T. Gurning—yang luka parah—Arie menyertai kunjungan Wakil Asisten Logistik Kepala Staf AD, Jenderal Ryamizard Ryacudu, ke Aceh.

”Memang, panser itu produksi tahun 1960-an-1970-an. Tentu saja, karena ini kecelakaan, faktor Yang di Atas (Tuhan) juga menentukan,” kata Ratyono di rumah duka keluarga Arie, Kompleks Vila Pamulang, Tangerang, Kamis pekan lalu.

Ratyono mengakui, peralatan tempur TNI AD sudah cukup tua. As yang patah itu, dia menduga, karena telah rapuh. ”Kami sudah berupaya (merawat) semaksimal mungkin, tapi ini murni kecelakaan,” tuturnya.

Saat kejadian, Ryamizard telah kembali dari Meulaboh, Aceh Barat, menuju Banda Aceh untuk kemudian terbang ke Jakarta. Arie meninggal tiga jam setelah kecelakaan parah yang dialaminya, dan dimakamkan di Pemakaman Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Rekannya, Sisca, luka-luka di bahu kanan dan kepala belakang.

Para tentara yang menumpang panser tua juga cedera. Mereka adalah Letkol (Inf.) I Made Agra, Serka Bakri, Kopda Sukmana, Praka Supardi, dan Praka Supriadi.

Pihak Indosiar sendiri tidak melakukan penyelidikan mengenai latar belakang kecelakaan tersebut. Indosiar merasa cukup dengan menerima informasi dari TNI. ”Kami sudah mengikhlaskan. Ini kami anggap sebagai sebuah musibah,” kata Indria Purnama, Produser Berita Indosiar.

Belasan Partai Somasi Menteri Sekretaris Negara

TIGA belas partai politik yang telah lolos verifikasi administrasi Pemilu 2004 mengajukan somasi ke Menteri Sekretaris Negara, Jumat dua pekan lalu. Teguran ini diajukan karena tidak adanya tanggapan dari pemerintah pusat, gubernur, wali kota, dan bupati atas tuntutan ke-13 partai itu. Mereka menuntut netralitas pemerintah terhadap semua partai.

Somasi yang diajukan kuasa hukum ke-13 partai itu menyatakan, berdasar Undang-Undang No. 31/2002 tentang Partai Politik, pemerintah seharusnya sudah mengoper sekretariat PPP, PDI, dan Partai Golkar masing-masing di Jalan Diponegoro No. 60, Jalan Diponegoro No. 58, Jakarta Pusat, dan Jalan Kemanggisan, Slipi, Jakarta Barat.

Ke-13 partai itu adalah PAN, PBB, Partai Bintang Reformasi, Partai Merdeka, Partai Islam Indonesia, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Nasional Banteng Kemerdekaan, PNI Marhaenisme, Partai Perhimpunan Indonesia Baru, Partai Pelopor, Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan, Partai Pemersatu Bangsa, dan Partai Sarikat Indonesia.

Kata Ketua Partai Merdeka, Adi Sasono, somasi itu hanya demi keadilan bagi semua partai dan pendidikan politik pada masyarakat. ”Kita tidak memiliki tujuan untuk membuat ketiga partai tersebut tidak lolos tahapan pemilu, tapi murni untuk keadilan dan pendidikan politik,” ujarnya.

KPU Dikejar Tenggat

KOMISI Pemilihan Umum (KPU) sedang sibuk dikejar tenggat. Maklum, pekan ini mereka harus mengumumkan partai mana yang lolos dan tidak lolos verifikasi faktual calon peserta Pemilu 2004. Tapi tampaknya tenggat itu bakal mundur. Sebab, hingga Jumat pekan lalu KPU baru menerima laporan 9 dari 30 provinsi.

Menurut Wakil Ketua KPU, Ramlan Surbakti, pihaknya masih menerima laporan berkas hasil verifikasi sampai sebelum Selasa pekan ini. Komisi akan melihat perkembangan hasil verifikasi yang sudah masuk. Pada 2 Desember, mereka tetap akan mengumumkan hasilnya. ”Tapi, jika belum bisa mengumumkan hasil seluruhnya, pengumuman sisanya paling lambat pada 7 Desember,” ujarnya. Rapat pleno penentuan undian nomor urut partai akan dilakukan pada 8 Desember, dengan mengundang semua dewan pimpinan pusat partai.

Ramlan mengaku belum bisa menyimpulkan partai apa saja yang lolos. Namun KPU nanti tinggal menjumlahkan partai yang lolos verifikasi tingkat provinsi. Selanjutnya KPU akan membagi stafnya menjadi 30 tim, sesuai dengan jumlah daerah provinsi. Mereka bertugas memantau dan meneliti apakah semua partai politik sudah memenuhi syarat. Jika tak memenuhi syarat, ada kemungkinan tidak lolos verifikasi.

Banjir di Tiga Wilayah

KETIKA perayaan Lebaran baru menginjak hari kedua, ribuan warga di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, justru menghadapi meluapnya Sungai Cigangsa. Mengepung 15 kampung, air setinggi sekitar 2 meter merendam 600-an rumah.

Kerusakan juga menimpa pasar umum, dermaga Pelabuhan Nusantara, kantor polisi air, kantor pelabuhan, syahbandar, pom bensin, dan semua fasilitas di sekitar tempat pelelangan ikan Pelabuhan Ratu. Kapal nelayan berikut jaring-jaringnya juga rusak.

Menurut Maman Sulaiman, banjir itu terjadi akibat rusaknya lingkungan. ”Selain kerusakan hutan di hulu Sungai Cigangsa, juga karena siklus banjir lima tahunan,” kata Bupati Sukabumi itu. H. Mahfudin, Camat Pelabuhan Ratu, juga menuding pembangunan perumahan di lahan kritis sebagai penyebab.

Empat hari sebelumnya, banjir melanda sejumlah desa di tujuh kecamatan di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Tercatat tiga orang tewas dan seorang dinyatakan hilang. Kerugian akibat rusaknya rumah, persawahan, dan fasilitas umum ditaksir Rp 22,8 miliar.

Adapun hujan badai di Nusa Tenggara Timur menghancurkan 20 rumah dan ribuan tanaman perkebunan serta perdagangan. Juga menumbangkan pohon-pohon di jalan akses Timor Raya, yang menghubungkan Timor Barat dan Timor Timur. Kerusakan terparah menimpa Desa Seo, Timor Tengah Utara, dan Desa Loli, Timor Tengah Selatan.

Remisi 36 Ribu Napi

SEJUMLAH 36.806 dari 83.253 narapidana di seluruh Indonesia kebagian remisi 15-60 hari. Penghuni beken LP Nusakambangan, Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto) dan Mohammad Bob Hasan, mendapat diskon 30 hari. Sejumlah 1.518 di antaranya bisa langsung melenggang pulang pada hari Lebaran.

Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, Yusril Ihza Mahendra, berharap bahwa mereka yang kembali merdeka tidak lagi kambuh berkriminal. Yusril sekaligus mengimbau setiap pemda membantu perbaikan daya tampung LP di wilayahnya. Sebab, jumlah narapidana dari tahun ke tahun meningkat.

Amarah pada Hari Raya

IDUL Fitri mestinya menjadi ajang permaafan. Tapi di Sawahlunto Sijunjung, Sumatera Barat, dua kelompok warga Padang Sibusuak dan Muaro Kalaban justru sama-sama mengumbar amarah. Akibat pertikaian pada hari kedua Lebaran itu, 9 rumah, 1 rumah makan, 5 kios, 1 wartel, dan 2 sepeda motor terbakar.

Bentrok enam jam itu terjadi dalam empat gelombang. Upaya perdamaian oleh para ninik mamak tak mampu memadamkan dendam di antara kedua pihak. Menurut wakil juru bicara Mabes Polri, Brigjen Soenarko, ulah sekelompok pemuda yang berwisata ke pemandian umum air dingin Muara Kalaban sebagai pemicunya. ”Di sana mereka asyik berjoget sambil menenggak minuman keras,” katanya.

Para pemuda lokal pun kesal. Dimulai dengan perang mulut, dilanjutkan dengan bentrok fisik pakai senjata tajam, lalu melibatkan massa dari kampung masing-masing. Akibatnya, Yos Hendri, 30 tahun, warga Padang Sibusuak, terkena sabetan samurai di kepalanya.

Isu bahwa Yos tewas membuat warga menyerbu dan membakari rumah Kampung Muaro Kalaban. Baru pada pukul 21.00 tawuran dapat dikendalikan oleh 200 aparat keamanan gabungan yang turun ke lokasi. Para ninik mamak kedua kelompok pun diminta berunding oleh para pejabat setempat.

Bintang Fajar di Manokwari

DUA lembar bendera Bintang Fajar berkibar di Manokwari, Papua, Kamis dinihari pekan lalu. Bendera kebangsaan Papua Nugini Barat itu melambai di menara pemancar RRI dan halaman SD Inpres Amban II. Dipimpin Yoyakim Menci, sekitar 50 orang berupacara merayakan HUT ke-6 negara itu.

Polisi, kata Kepala Kepolisian Resor Manokwari, Ajun Komisaris Besar Dedy Kusnadi, justru mengendus upaya pengibaran Bintang Kejora—bendera Organisasi Papua Merdeka—pada hari yang sama. Aparat pun menjaga ketat sejumlah lokasi. ”Tapi yang dikibarkan justru Bintang Fajar, di tempat yang tidak pernah kami pikirkan,” katanya kepada Koran Tempo.

Aparat keamanan memeriksa 42 orang. Tapi hingga Jumat siang hanya tujuh orang yang ditahan, sisanya dikembalikan ke kepala suku Manokwari. Kedua bendera dan ”amanat upacara” yang ditandatangani Presiden Nasional Kongres Luar Negeri Papua Merdeka, Michael V. Kareth, disita sebagai barang bukti.

Sudrajat, Tempo News Room


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data