Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 40/XXXII/01 - 7 Desember 2003
   
Olahraga

Lima Tumpuan Harapan

KESIBUKAN mewarnai kantor Komite Olahraga Nasional Indonesia di Senayan, Jakarta. Suatu sore dua pekan silam, atlet dan pelatih hilir-mudik mengangkat koper kosong menuju Hotel Atlet Century Park yang berjarak tak lebih dari 100 meter. Ada pembagian koper dari KONI. Maklum, beberapa hari lagi mereka akan berangkat ke Vietnam untuk mengikuti SEA Games 2003.

Dengan koper baru itu, diharapkan banyak medali emas yang bisa dijinjing pulang. Bahkan impian yang lebih besar sempat dilambungkan: merebut kembali gelar juara umum. "Bisakah harapan itu diwujudkan?" ujar Presiden Megawati Soekarnoputri saat menerima mereka di Istana, Rabu dua pekan lalu. "Bisaaa...!" jawab para atlet serempak.

Jika sekadar buat memompa semangat kontingen Indonesia, keinginan yang muluk tersebut tidak menjadi soal. Yang pasti, di atas kertas, sungguh sulit mewujudkan harapan itu. Komandan kontingen Indonesia, Djoko Pramono, mengakui bahwa Indonesia belum mampu menggusur dominasi Thailand dan Malaysia di pesta olahraga dua tahunan itu. Apalagi KONI baru memulai peremajaan atlet. Sebagian besar dari 597 atlet yang dikirim ke Vietnam adalah muka baru.

Persaingan memang amat ketat. Djoko sadar, Vietnam juga tak akan tinggal diam. Sebagai tuan rumah, mereka tentu ingin menjadi juara umum. "Kita akan bertarung di empat besar dengan Thailand, Malaysia, dan Vietnam," kata bekas komandan Marinir itu.

Ada sejumlah cabang yang diandalkan. Dari 420 nomor perlombaan di 28 cabang olahraga yang diikuti oleh Indonesia, cabang pencak silat, angkat besi, balap sepeda, dayung, dan biliar akan menjadi ladang emas. Lima cabang inilah yang menjadi tumpuan harapan. Cabang-cabang ini diharapkan menyumbangkan paling sedikit 30 keping emas.

Tentu saja, cabang lain tidak bisa dikesampingkan. Yang jelas, untuk mempertahankan peringkat ketiga, paling sedikit Indonesia harus meraup 70 emas. Dalam SEA Games 2001, Indonesia mengumpulkan 71 emas dan menempati peringkat ketiga, di bawah tuan rumah Malaysia, yang merebut 111 emas, dan Thailand dengan 104 emas.

Cabang angkat besi bakal menjadi primadona. Lifter Indonesia menuai hasil memuaskan dalam kejuaraan dunia angkat besi di Vancouver, Kanada, dua pekan silam. Patmawati sukses menangguk perak di kelas 58 kilogram putri, Lisa Rumbewas menempati peringkat keempat di kelas 53 kilogram putri dan Rosmainar di posisi keenam kelas 48 kilogram putri. Ini modal bagus sebelum tampil di Vietnam.

Begitu pula balap sepeda. Cabang ini tetap bisa diandalkan kendati Vietnam tak mempertandingkan nomor trek. Empat emas diperkirakan akan disumbangkan dari nomor sepeda gunung putra-putri dan road race putra-putri. Pelatih balap sepeda Wahyudi Hidayat menegaskan, mundurnya pembalap putra andalan Tonton Susanto dua pekan menjelang keberangkatan tak akan mempengaruhi target tersebut. "Semula target empat emas salah satunya memang dari Tonton. Tapi tanpa dia target tak berubah," katanya.

Dayung? Cabang ini diharapkan menyumbangkan 8-10 emas dari dayung, kano, dan perahu tradisional. Djoko memperkirakan, Vietnam akan mencuri emas dari cabang olahraga yang menyediakan banyak medali, yaitu atletik, menembak, dan renang. Ketiga cabang ini sebelumnya dikuasai oleh Thailand dan Malaysia. "Perkembangan Vietnam pesat sekali di cabang-cabang itu," ujar Djoko.

Vietnam juga akan menggerogoti perolehan negara lain dari cabang bela diri. Yang paling mencengangkan, Vietnam kini sangat kuat di cabang wushu. Mereka sudah bisa bersaing dengan Cina, negeri asal seni bela diri tersebut. Dalam kejuaraan dunia di Macau bulan lalu, Vietnam meraih empat emas, lima perak, dan tiga perunggu, sementara Indonesia pulang dengan tangan hampa.

Cabang pencak silat, yang selama ini menjadi andalan Indonesia, juga sudah dikuasai oleh Vietnam. Buktinya, dalam kejuaraan dunia di Malaysia akhir tahun silam, Indonesia gagal mempertahankan tradisi menjadi juara umum. Vietnam merajalela dengan 12 emas sedangkan Indonesia kebagian 6 emas saja. Sudah saatnya pesilat kita merebut lagi dominasinya di cabang ini.

Jika cabang-cabang andalan tersebut mencapai target, Indonesia mungkin bisa berjaya. Paling tidak, posisi ketiga bisa dipertahankan.

Sapto Yunus, Sudrajat


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data