Mencari Akar Bom Jibaku Turki dilanda serangkaian pengeboman. Masih akan berlangsung lama, kata pakar terorisme. |
PADA 24 Oktober 1944, sebuah skuadron yang terdiri dari dua lusin pesawat tempur Jepang lepas landas dari pangkalan Mabalacat di Filipina menuju Teluk Leyte,tempat berlabuh armada perang Amerika Serikat.Pesawat-pesawat yang dimuati bom itu menghunjamkantubuhnya langsung ke sasaran, menenggelamkan kapal pengangkutSaint Lo dan menghancurkan setengah lusin kapal lainnya.
Model serangan yang diorganisasi oleh LaksamanaMadya Onishi Takejiro ini terus berlangsung hingga Januari 1945.Sejak itu, kamus Perang Dunia II mendapat lema baru,kamikaze, yang dalam bahasa Jepun berarti "angin ilahi". BagiJepang, konsep ini berakar dari abad ke-13, ketika sebuah taifunmengusir dua invasi pasukan Mongol, bangsa yang ketika itumemerintah Cina.
Kamikaze merupakan serangan ekstrem luar biasa, takterduga, di luar perhitungan akal sehat, dan karena itu, padatingkat pertama, berhasil menciptakan horor dan ketakutandi pihak musuh. Tapi, seperti kita tahu, kamikaze bukanlahfaktor menentukan kalah-menang sebuah pertempuran. KetikaJepang menyatakan takluk setelah bom atom melibasHiroshima dan Nagasaki, banyak prajurit Jepang berpaling padaaksi seppuku, atau harakiri, yang tiada lain daripada bunuh diri.
Dari wilayah perang, "kamikaze" kemudian diambil aliholeh gerakan perlawanan dan terorisme abad ke-20 dalambentuk yang lebih menakutkan, karena dilancarkan di kawasandamai, dengan melibatkan korban penduduk sipil. Contoh terakhirmenimpa Turki, 15 dan 20 November lalu. Akibatnya, lebihdari 50 orang tewas, sekitar 500 lainnya luka-luka. Di antarayang tewas terdapat Konsul Jenderal Inggris di Istanbul, Roger Short.
Seperti dicemaskan sebagian besar masyarakat dunia,bahwa "perang melawan terorisme" yang dideklarasikan olehPresiden Amerika Serikat George W. Bush akan memicu rangkaianaksi lebih keras, mulai tampak wujudnya. Bom bunuhdiri—sebetulnya lebih tepat: bom jibaku—itu kini hampir tak mengenalbatas geografis. Kemarin di Turki, bahkan beberapa pekansebelumnya di Jakarta, di Hotel JW Marriott, yang jugamerenggut korban jiwa.
Amarah Presiden Bush sendiri, sebetulnya, dipicu oleh"serangan bunuh diri" sekelompok teroris yangmenabrakkan pesawat bajakan mereka ke menara kembar WTC danPentagon pada 11 September yang hitam itu. Perang melawanterorisme pun berkembang menjadi perang sungguhan, sampaipada pendudukan Amerika Serikat dan beberapa sekutunyaatas Irak, yang hingga sekarang ternyata tidak menambahjernih persoalan.
Celakanya, front yang dibuka oleh Amerika Serikat diIrak menciptakan berbagai "front" di belahan bumi yang lain,dan banyak negeri harus berbagi risiko menghadapi terorismeglobal. Bali menjadi ajang berikutnya, kemudian Jakarta,bahkan Arab Saudi, dan terakhir Turki. "Ini adalah masalah yangakan berlangsung lama, dan mungkin kita harus menyadaripada suatu ketika serangan akan terjadi di Inggris," kataTimothy Garden, pakar terorisme dari Kong's College, London,Inggris, dua pekan lalu.
Terorisme, dengan alasan apa pun, tak akan pernahdimaafkan. Tetapi melawan terorisme dengan "terorisme" jugabukan pilihan cerdas. Ketika kita mengambil alih istilah "bombunuh diri" dari pemahaman Barat atas aksi tak masuk akal itu,sepertinya ada aspek yang terabaikan. Pada kamikaze,kematian bukan tujuan. Begitu pula pada "jibaku", frase yang jugakita ambil alih dari bahasa Jepang dan dimaknakan sebagai"serangan berani mati".
Berbeda dengan bunuh diri, yang lebih dipicu olehkeputusasaan, kamikaze dan jibaku terutama dipicu olehketerpojokan dan sisa-sisa harapan untuk melakukan pembalasandendam. Di sini, para pelaku menempatkan dirinya sebagaipelaksana sebuah "misi", dalam tingkat yang tidak lagimemperhitungkan korban tak berdosa. Karena itu, tampaknya, yang perludilakukan adalah mencari akar perasaan keterpojokan itu,sehingga tiada lagi dendam yang harus dibalaskan.
Sebaliknya para pelaku terorisme sendiri harus belajar dari sejarah bahwa kamikaze, jibaku, atau apa pun namanya, bukan faktor penentu "kemenangan". Hasilnya yang pasti hanyalah korban tak berdosa, pembutaan akal sehat, dan kemerosotan peradaban.
|