Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 40/XXXII/01 - 7 Desember 2003
   
Nasional

Soeharto Sehat pada Hari Lebaran

Acara silaturahmi di rumah Soeharto bak sebuah reuni kecil. Mantan presiden itu masih kuat berdiri menerima tamu. Suaranya juga masih jelas.

BERBAJU koko putih, celana panjang hitam, Haji Muhamad Soeharto terlihat gagah di usia senjanya, 82 tahun. Selasa pagi pekan lalu, mantan presiden ini duduk di sebuah kursi besar di ruang tamu utama rumahnya, Jalan Cendana 6, Jakarta Pusat. Pagi itu, Soeharto membuka pintu rumahnya lebar-lebar, menanti tamu datang bersilaturahmi.

Mengenakan peci hitam, wajah Soeharto terlihat sumringah. Walau begitu, saat berdiri, tubuhnya terlihat sedikit bungkuk, tak lagi tegak seperti dulu. Ditemani putra-putrinya, minus Hutomo Mandala Putra alias Tommy yang kini masih meringkuk di Nusakambangan, Soeharto terus-terusan mengirim senyum kepada tetamunya. Jika sedikit lelah, ia duduk sebentar, lalu berdiri lagi.

Acara silaturahmi Selasa pagi pekan lalu itu bak sebuah reuni kecil bagi bekas sejumlah petinggi pada zaman Orde Baru. Tetamu yang datang ke situ tak jauh-jauh dari bekas anak buah Soeharto sendiri, juga beberapa kolega dekatnya, yang dijalin selama 32 tahun berkuasa. Yang pertama kali datang ke situ adalah Try Sutrisno. Mantan wakil presiden itu datang dan langsung bersalaman dengan Soeharto dan keluarganya.

Setelah itu, disusul beberapa bekas pejabat lainnya seperti Emil Salim (Mantan Menteri Lingkungan Hidup), Ali Alatas (Mantan Menteri Luar Negeri), J.B. Sumarlin (Mantan Menteri Keuangan), Radius Prawiro (Mantan Menko Ekonomi), Jenderal (Purn.) Hartono (Mantan Menteri Penerangan), Mien Sugandhi (Mantan Menteri Peranan Wanita), Wismoyo Arismundar (Mantan Kepala Staf Angkatan Darat), Saadilah Mursyid (Mantan Menteri Sekretaris Kabinet), dan beberapa kolega penting kalangan dekat Cendana.

Bersama sejumlah tamu lainnya, para mantan pejabat itu terlihat sabar antre di halaman rumah. Semuanya rapi jali. Ada yang berbatik, ada pula yang berjas. Ada yang datang sendirian, ada yang datang bersama keluarga. Walau terkesan sederhana, acara ini tetap saja dijaga ketat. Para wartawan dilarang masuk membawa kamera.

Begitu sang tamu turun dari mobil, beberapa pria berbaju koko terlihat sigap membuka pintu mobil, yang umumnya mewah-mewah. Sesudahnya, ada yang sibuk mengatur parkiran, ada pula yang sigap mengantar tamu ke halaman. Tak ada petugas keamanan yang berpakaian seragam, tapi belasan pria berpakaian sipil terlihat sibuk mengamankan kawasan ini. Mereka juga terlihat di pintu gerbang rumah.

Di halaman, beberapa ibu-ibu berbusana muslim menunggu dengan ramah. Mereka berbaris rapi, layaknya among tamu dalam sebuah hajatan pernikahan. Ibu-ibu ini tak henti-hentinya mengucapkan selamat kepada setiap tamu, sembari mengangguk-angguk. Di halaman itu juga, terlihat beberapa karangan bunga yang dijejer-jejer. Bunga ucapan selamat berlebaran itu datang dari sejumlah orang, juga dari beberapa perusahaan.

Soeharto menunggu di ruang tamu. Begitu ada yang masuk, ia berdiri lalu menyapa ramah. Tatapan matanya masih tajam. Ia menjabat erat tangan setiap tamunya. "Mohon maaf lahir batin. Minal aidin walfaizin," katanya, dengan suara bariton sembari tersenyum. Dulu, ketika sedang jaya-jayanya, Soeharto yang memikul lima bintang di pundaknya itu disebut the smilling general, jenderal sumeh yang selalu murah senyum.

Di ruang tamu itu, berbaris-baris putra-putri Soeharto. Semua rapi. Semuanya mengenakan baju putih, ramah menerima tamu. Siti Hardijanti Indra Rukmana alias Tutut, putri Soeharto yang pernah diserahi jabatan Menteri Sosial pada penghujung kekuasaannya, berdiri di sebelah kiri. Sesekali ia terlihat membisikkan sesuatu ke ayahnya. Entah apa.

Tak ada hiasan khusus menyambut hari Lebaran ini, juga di ruang tamu itu. Di dinding ruang tamu itu, terdapat sebuah foto almarhumah Ibu Tien, yang dibingkai berukuran sedang. Beberapa cucu Soeharto terlihat asyik bermain-main di ruang tengah. Di situ juga terlihat Ardhia Pramesti Regita Cahyani alias Tata, istri Tommy Soeharto, yang sibuk bercengkerama dengan dua anaknya.

Dari ruang utama itu, para tamu dipersilakan menyantap hidangan yang sudah disediakan. Makanan disajikan di dua tempat, yaitu di ruang tengah dan di halaman belakang yang dinaungi sebuah tenda berukuran sedang. Cuma sedikit tamu yang menyantap di ruang tengah itu. Umumnya langsung ke halaman belakang.

Di sana terdapat sebuah meja panjang yang penuh dengan rupa-rupa makanan. Ada ketupat, opor ayam, gudeg Jogja, dan nasi kebuli kesukaan Soeharto. Juga buah-buahan aneka jenis. Di halaman belakang itu juga terlihat beberapa pondok kecil yang menghidangkan bakso, juga sate kambing. Dibantu sejumlah pelayan, tetamu terlihat asyik menyantap sembari bercengkerama.

Tamu terus mengalir, hingga pukul 09.30 acara berhenti sejenak. Para tamu yang sudah mengantre di luar diminta bersabar menunggu. Soeharto terlihat duduk, lalu mencicipi makanan dan minum air putih yang tersedia di dekat tempat duduknya. Tutut sabar menemaninya. Sesudahnya, acara bersambung. Soeharto setia melayani setiap tamunya kembali.

Beberapa wartawan yang hadir di situ terkesima melihat daya tahan Soeharto menerima tamu-tamunya. Agak aneh memang, perkara hukum atas tujuh yayasan yang menjerat Soeharto ke pengadilan mentok karena Soeharto dinilai tak sehat raganya.

Sebagaimana luas diketahui bahwa Soeharto pernah disidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, karena tuduhan korupsi dalam mengelola tujuh yayasan. Sidang atas kasus ini berlangsung pada September 2000, tapi Soeharto tak pernah datang. Semua proses hukum itu kemudian dihentikan setelah tim dokter dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo yang memeriksanya menyimpulkan bahwa Soeharto menderita kerusakan jaringan otak permanen. Deraan penyakit itu membuat Soeharto susah berkomunikasi. Pada Februari 2001, Mahkamah Agung menerbitkan fatwa bahwa proses hukum semua kasus itu disetop.

Tapi, ketika bersilaturahmi Selasa pekan lalu itu, Soeharto masih kuat berdiri menerima tamu, juga lancar mengucapkan salam kepada para tamunya. Apakah Soeharto sudah sehat walafiat? Belum jelas memang.

Pihak Kejaksaan Agung sendiri menyatakan siap membuka kembali kasus yang menimpa Soeharto. "Asalkan ada rekomendasi tim dokter yang menyatakan kesehatan Pak Harto pulih," kata Kemas Yahya Rahman, juru bicara Kejaksaan Agung. Seluruh berkas pemeriksaan saksi dan alat bukti kasus-kasus korupsi itu, menurut Kemas, masih tersimpan rapi di Kejaksaan Agung. Tapi Mohammad Assegaf, kuasa hukum Soeharto, menyatakan bahwa secara fisik Soeharto memang terlihat sehat. Cuma, "Jangan terkecoh. Kalau diajak bicara baru kelihatan kesulitan komunikasinya," kata Assegaf. Kerusakan jaringan kliennya itu, kata Assegaf mengutip pemeriksaan dokter, sudah bersifat permanen alias susah pulihnya.

Beberapa mantan anak buah Soeharto yang hadir di acara silaturahmi pekan lalu itu juga membenarkan hal ini. "Kalau fisik memang tak ada perbedaan. Sehat gitu. Tapi gangguan permanen memori tak bisa sembuh," kata Hartono, Mantan Menteri Penerangan, kepada wartawan setelah acara itu.

Acara silaturahmi itu berlangsung hingga pukul 11.00 siang hari. Semuanya berlangsung khidmat, juga penuh gembira. Dan Selasa pekan lalu itu, sebuah kegembiraan lain meletik jauh ke Nusakambangan, tempat Tommy menjalani masa bui 15 tahun. Bersama sejumlah narapidana lainnya, putra kesayangan Soeharto itu menerima kado Lebaran dari Jakarta: remisi satu bulan.

Wenseslaus Manggut, Widiarsi Agustina, dan Wahyu Dyatmika


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data