Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 40/XXXII/01 - 7 Desember 2003
   
Nasional

Nyanyian 'Calon Direktur'

EDY Santoso tampaknya tak bisa terus membisu. Di atas tiga lembar kertas yang ditulisnya dari ruang tahanan Markas Besar Polri, Senin dua pekan silam, bekas kepala pelayanan nasabah luar negeri Bank BNI Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu mengaku tergiur menyalurkan surat kredit fiktif karena diiming-imingi jabatan direktur Bank BNI jika Jenderal (Pur.) Wiranto terpilih sebagai presiden pada Pemilu 2004.

Sejak dibekuk polisi Oktober silam, inilah pengakuan Edy teranyar yang membuat gempar jagat politik nasional. Apalagi bintang Wiranto kini sedang moncer-moncernya. Dalam prakonvensi Partai Golkar, bekas ajudan Soeharto itu menempati urutan ketiga setelah Surya Paloh dan Aburizal Bakrie. Bahkan dikabarkan, dialah saingan terberat Megawati dalam pemilu mendatang.

Tersangka pembobol banknya sendiri itu mengaku diiming-imingi jabatan direktur Bank BNI oleh Adrian Herling Waworuntu dan Pauline Maria Lumowa—dua tersangka lainnya. Malangnya, Edy, 48 tahun, percaya akan janji itu. Apalagi, menurut ceritanya, Adrian dua kali mempertemukannya dengan Wiranto. Pertemuan pertama terjadi di kantor Wiranto di Jalan Teluk Betung, Jakarta Pusat, Maret silam. Sifatnya ini baru perkenalan.

Dikisahkan Edy, ia makin yakin pada Adrian ketika Wiranto dan beberapa pemimpin partai berkumpul di rumah Adrian di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Di sana juga hadir Direktur PT Gramarindo, Ollah Abdullah Agam, dan Direktur PT Tri Ranu Caraka Pasifik, Jeffrey Basso, yang kelak ikut jadi tersangka. "Langsung atau tidak, (pertemuan) itu mempunyai dampak psikologis cara kerja saya menangani ekspor mereka (Adrian dan Pauline)," Edy memaparkan dalam surat yang ditulis tangan itu.

Nah, dalam pertemuan kedua inilah topik pembicaraan menukik ke masalah pencalonan Wiranto sebagai kandidat presiden pada Pemilu 2004. Saat itu Wiranto mengaku siap jadi calon presiden. Hanya, ada kendala dalam laju pencalonannya itu—apa lagi kalau bukan dana kampanye. Bak gayung bersambut, Adrian dan Pauline menyanggupi menggalang dana kampanye Wiranto. Usai pertemuan itu, Adrian, yang sedang mengusahakan kredit, bertemu kembali dengan Edy.

Dalam benak Edy tertanam keyakinan akan reputasi Adrian dan Pauline, yang memang kesohor. Orang penting seperti Wiranto saja gampang mereka temui. Lagi pula, mana mungkin kedua orang itu mengorbankan reputasinya untuk hal-hal negatif, begitulah kira-kira. Akhirnya mengucurlah fulus ke pundi-pundi para tersangka dengan mulus. Edy tak pernah mengira bahwa dia dikadali kedua orang itu.

Senandung tak merdu ini akhirnya hinggap di telinga Wiranto. Bisa dimaklumi, mantan Panglima ABRI itu langsung membantah semua tuduhan. Kabar tak sedap itu, menurut Wiranto, bohong belaka. Karena itu, melalui para pengacaranya, Wiranto langsung melaporkan Edy dan pengacaranya Herman Kadir ke polisi dengan tuduhan fitnah.

Rumor keterlibatan Wiranto mengemuka sejak polisi menangkap beberapa tersangka. Wiranto disebut-sebut terlibat jual-beli rumah manajer kampanyenya, Tito Sulistio. Pada sekitar akhir Juni 2003, Tito melakukan transaksi penjualan rumah kepada Pauline Maria Lumowa, yang hingga kini masih buron.

Mengenai pertemuan-pertemuan yang disebutkan Edy, Wiranto tak membantah. Sebagai calon presiden, dia sudah bertemu dengan ribuan orang. Tetapi ia mengelak mengenal Edy. Yang dikenalnya hanya Adrian Waworuntu, teman satu klubnya di Harley Davidson. "Itu pun pertemuannya jarang," ujar Ray Abikusno, pengacaranya. Wiranto sendiri menganggap perkara ini merupakan bagian dari persaingan menggapai kursi RI-1.

Kini Wiranto, yang dituduh terlibat peristiwa Mei 98, masih berumroh di Tanah Suci. Di lain pihak, Edy Santoso, melalui pengacaranya, Herman Kadir, menyatakan tetap pada kesaksiannya seperti yang sudah dilansir. "Sampai saat ini Pak Edy tetap berkomitmen memegang ucapannya," kata Herman kepada TEMPO.

Juli Hantoro, Sapto Yunus, Tempo News Room


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data