Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 40/XXXII/01 - 7 Desember 2003
   
Laporan Utama

Ibadah Harus, Belanja Jalan Terus

Paket umrah dan ONH plus biasanya disertai bonus pelesir ke pusat belanja, lokasi bersejarah, bahkan hiburan malam.

DIK, dik, kok bisa ya, penari tadi yang bergetar hanya perutnya?" tanya seorang ibu. Pertanyaan itu segera ditambahi bisikan seorang bapak setengah baya, "Dik, mbok, tolong nanti Bapak dicarikan CD-nya, ya. Biar ketika di Indonesia bisa Bapak putar kembali." Tatap mata si bapak seolah tak berkedip, diiringi tetabuhan ketipung dan aneka perkusi yang melantunkan irama padang pasir.

Aksi goyang Inul? Bukan. Tarian ini bahkan jauh lebih dahsyat ketimbang si ratu ngebor itu. Mereka mengomentari seorang perempuan penari perut yang melenggak-lenggok di tengah panggung. Ini terjadi setelah jamuan makan malam di atas kapal yang mengelilingi sungai Nil di Kairo, Mesir. Di kejauhan, tampak gagah berjajar gedung tinggi dan sejumlah hotel terkemuka negeri yang terkenal dengan piramid dan spinx-nya itu.

Sabar, jangan menuduh mereka datang jauh-jauh dari Indonesia hanya untuk menonton tarian erotis itu. Mereka bahkan mungkin tidak tahu bahwa akan melihat pemandangan seperti itu. Wong, nawaitu dari Indonesianya saja mau beribadah. Asal tahu saja, mereka adalah jemaah umrah yang berpelesir ke negeri para syekh itu, setelah beribadah di Tanah Suci.

Meski ada juga yang tak suka, namun lebih banyak yang memaklumi kejutan ini. Semua orang juga mafhum, beribadah ke Tanah Suci sekarang ini tidak melulu urusan ibadah. Bahkan terkadang tambahan mengunjungi negeri Timur Tengah seperti Mesir atau Turki yang menjadi daya tarik sebuah paket wisata ibadah. Pelesir sambil ibadah (atau ibadah sambil pelesir) bahkan sudah dimulai sejak di Tanah Haram sana.

Dengar saja cerita aktris cantik Cindy Claudia Harahap. Ia sudah empat kali berumrah—tiga kali di antaranya pada bulan Ramadan. Pelesiran, bagi putri musisi Rinto Harahap itu, merupakan salah satu imbuhan menyenangkan dalam berumrah. "Seru banget. Kita bisa mengunjungi banyak tempat, baik untuk hiburan, shopping, maupun ke tempat bersejarah," ujar Cindy. "Tapi tentu saja aktivitas ibadah tetap dijalankan dengan khusyuk."

Belanja? Jangan tanya. Ini adalah hiburan utama yang "wajib" dilakukan oleh para peziarah umrah atau haji. Rugi kalau tak menyempatkan diri berbelanja. Selain karena barang-barangnya murah, mereka juga perlu oleh-oleh untuk dibawa pulang. "Terutama ibu-ibu. Mereka sampai berlebihan jika berbelanja," kata Cindy. Jadi, kata dia, rasanya tak mungkin orang yang beribadah di Tanah Suci lalu pulang tidak membawa oleh-oleh.

Banyak tempat yang bisa menggoda para shopaholic, si gila belanja. Dari pengamatan TEMPO, di sekeliling Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi, yang paling terkenal adalah Pasar Seng. Di sini banyak dijajakan peralatan salat, tasbih, kurma, busana muslim, dan sebagainya. Pokoknya, mereka yang belum menyiapkan "oleh-oleh" dari Tanah Abang dapat membeli oleh-oleh asli di sini. Tapi jangan kecele dengan batu-batu aji macam pirus, akik, yang—ironisnya—justru berasal dari Tanah Air. Bagi jemaah "kelas atas", atau yang ingin belanjaan mentereng, lazimnya mereka membanjiri gerai-gerai di hotel berbintang yang tak jauh dari Masjidil Haram.

Di Jeddah lebih seru lagi. Di pintu gerbang jemaah untuk keluar-masuk Tanah Suci itu ada Balad Shopping Center—kebiasaan berkeliling belanja seusai ibadah ini sering dipelesetkan dengan "tawaf balad". Di sini jualan utamanya bukan korma, jilbab, atau tasbih. Ada parfum Gucci dan pemutar VCD Sonny yang ditawarkan dengan harga murah. Menurut Cindy, sebotol parfum yang kalau dibeli di Jakarta berharga Rp 600 ribu, di Balad cuma Rp 350 ribu. Maklum, bebas pajak. Selain murah, barang di pasar seluas 5 hektare ini juga dijamin keasliannya.

Saking banyaknya jemaah asal Indonesia yang belanja, suasananya jadi kayak di rumah sendiri. "Kebanyakan jemaah ONH plus menghabiskan waktu untuk putar-putar di Balad. Biasanya setelah mereka melakukan tawaf umrah, atau setelah ziarah ke tempat-tempat bersejarah di Saudi," kata Ridwan Satriawan, mahasiswa tingkat akhir Universitas Al-Azhar asal Jawa Barat yang pernah menjadi tenaga musiman haji (temus) pada 2002. Mereka bisa mendapatkan apa saja yang mereka cari. Tapi kebanyakan mereka menghabiskan segepok dolar untuk membeli berbagai macam barang elektronik. "Karena tidak dipungut pajak," kata Ridwan.

Maka, cerita soal kelebihan bagasi jamak terdengar, saat krisis sekalipun. "Minimal dua koper tambahannya," kata Cindy. Hobi belanja orang kita memaksa para penjaga toko di sana bisa berbahasa Indonesia. "Ibu, tasbih bagus, murah," demikian cara para pedagang keling dari Bangladesh atau Pakistan menawarkan barangnya. Ketika TEMPO mengantarkan jemaah ONH plus ke Pasar Seng, seorang pedagang jilbab berteriak-teriak, "Lima belas rial... lima belas rial." Ketika ditawar dengan harga yang lebih tinggi, ia malah menggeleng. Rupanya pedagang itu tak tahu hitungan dalam bahasa Indonesia. Ia cuma tahu angka untuk harga barangnya.

Atmosfer pasarnya juga unik. Ada nuansa Islaminya. Misalnya, saat kita asyik berbelanja atau menawar barang, tiba-tiba terdengar kumandang azan. Maka secara otomatis semua orang menghentikan aktivitas, semua barang ditutup terpal, dan mereka pergi wudu untuk menunaikan salat. Penjual maupun pembeli salat bareng. "Bagi saya ini nuansa Islami yang tidak bisa diukur dengan apa pun. Ini mendorong kita untuk selalu ingat Tuhan meski kita sedang bersenang-senang," ujar Cindy.

Lain ONH plus, lain pula umrah plus. Kalau haji plus, semakin mahal semakin cepat waktunya. Tapi umrah plus justru semakin mahal semakin lama. Ini karena yang dijual ONH plus adalah kepraktisan, sedangkan umrah plus biasanya menawarkan pelesir tambahan ke negara-negara Timur Tengah sekitar Saudi, seperti Mesir, Yordania, Palestina (Yerusalem), atau Turki. Wisata ke negara-negara itu dilakukan sebelum atau sesudah umrah. Harganya pun bermacam-macam, tergantung negara tambahan yang dituju. Misalnya untuk tujuan wisata Mesir atau Turki, biro perjalanan biasanya mematok harga dari US$ 1.300 hingga US$ 1.500.

Mesir termasuk yang favorit. Daerah yang dituju bukan melulu tempat religius seperti Masjid Al-Azhar atau Masjid Hussein, tempat dikuburnya cucu Nabi Muhammad. Mereka juga mengunjungi museum nasional, kuburan Firaun, piramida, atau tempat belanja cendera mata seperti Khan Khalili yang sangat beken itu. Bahkan mereka juga bisa menikmati tarian perut sambil makan malam seperti tadi. Bagi para ibu-ibu penggemar kristal, biasanya mereka digiring pemandu ke pabriknya, di pinggiran kota Mesir.

Belanja setelah ibadah memang tidak dilarang. Perilaku ini konon sudah tertera dalam nubuat Nabi Muhammad. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ad-Dailamy, beliau bersabda, "Akan datang kepada umat manusia suatu masa, di mana orang-orang kaya umatku berhaji untuk pelesir, kalangan menengahnya (berhaji) untuk berdagang, dan orang miskinnya (berhaji) untuk menyombongkan diri." Anda termasuk yang mana?

Qaris Tajudin, Zuhaid el-Qudsy (Kairo), Ecep S. Yasa (TNR)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data