Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 40/XXXII/01 - 7 Desember 2003
   
Luar Negeri

Hadiah Lebaran buat Sahabat Bush

Pemerintah Perdana Menteri Erdogan, yang berbasis Islam, mendapat serangan beruntun bom bunuh diri. Kenapa?

Jemaah salat Jumat di Masjid Fatih, Istanbul, khusyuk menyimak khotbah Esat Shahin, 30 tahun, Jumat 21 November lalu. Saat itu, sebagai mana umat Islam di seluruh dunia, jemaah sedang bersiap menyambut lailatulkadar, malam penuh pengampunan bagi umat Islam. Dengan jubah biru yang melilit tubuhya dan jenggot hitam yang menghias dagu, ia menyampaikan ayat-ayat Quran silih berganti dengan cerita tentang tiga peristiwa pengeboman di Istanbul.

Khotbah Shahin, seorang hafidz yang hafal Quran sejak berusia 12 tahun, itu mengalir deras. Khotbah istimewa, serupa air sungai yang akhirnya bermuara pada satu kesimpulan: Quran sangat menghargai nyawa manusia. "Tak ada tempat dalam Quran untuk tindakan semacam itu (pengeboman)," tuturnya.

Kata-kata Shahin yang meluncur dari atas mimbar itu punya pijakan realitas yang jelas. Tiga bom bunuh diri meledak merenggut puluhan nyawa dan ratusan luka-luka di Istanbul. Bom bunuh diri pertama yang diusung mobil Fiat merah menerjang sinagoga terbesar di Istanbul, Neve Shalom, dan Sinagoga Beth Israel, 16 November lalu. Hasilnya, 25 orang tewas dan 300 orang luka-luka. Kebanyakan korban adalah warga Turki muslim yang kebetulan lewat di sekitar sinagoga.

Komunitas Yahudi Turki punya sejarah panjang. Sebagian besar dari 25 ribu jiwa di komunitas Yahudi Turki adalah keturunan pelarian Yahudi dari Spanyol karena menolak dikatolikkan pada 1492. Sultan Ottoman menyambut pelarian itu di Istanbul, yang merupakan simbol reputasi keberagaman dan toleransi penguasa Islam Turki.

Bom ketiga meledak di kawasan utama bisnis Levent, Istanbul, persis di depan gedung Bank HSBC berlantai 20, Kamis 20 November. Saat itu karyawan pusat perkantoran sedang makan siang. Tekin Inci saat itu sedang menyusun menu buka puasa di restorannya dekat Bank HSBC. "Bola api besar menerjang restoran," kata Inci. Pecahan kaca bertaburan. Teriakan kesakitan, bagian tubuh yang terputus, dan mobil yang hangus membuat suasana siang itu kacau. Hanya berselang dua menit dari ledakan itu, satu mobil pick-up hijau dengan nama perusahaan catering di badan mobil melesat menabrak pintu gerbang konsulat Inggris di kawasan bisnis Taksim. Tak ada makanan berhamburan, tapi ledakan bom membuat serpihan anggota tubuh manusia melesat ke mana-mana. Maklum, di sekitar kompleks konsulat Inggris yang dikelilingi tembok tinggi itu penuh toko dengan orang lalu-lalang. Tercatat 27 orang tewas dan 450 orang terluka. Salah seorang korban adalah Konsul Jenderal Inggris, Robert Short.

Klaim tanggung jawab muncul dari kelompok militan Islam Turki. Tapi, sebagaimana yang sudah-sudah, jari telunjuk pun segera menuding Al-Qaidah sebagai biang keroknya. Pejabat intelijen AS menyatakan serangan itu mirip serangan khas Al-Qaidah. Apalagi muncul pengakuan yang dilansir koran berbahasa Arab, Al-Quds al-Arabi. Surat kabar yang berbasis di London ini menerima pernyataan Abu Muhammad Ablaj, yang diidentifikasi pejabat AS sebagai agen Al-Qaidah. Menurut Ablaj, serangan ditujukan terhadap Sinagoga Neve Shalom karena ada agen dinas rahasia Israel, Mossad, beroperasi di sinagoga itu.

"Kami serukan kepada kriminal Bush, dan sekutunya bangsa Arab dan negara asing, khususnya Inggris, Italia, Australia, dan Jepang: kalian akan dengan mata sendiri melihat mobil kematian di era tirani Amerika Serikat," ujar pernyataan itu. Namun, pengamat cenderung berpandangan: rentetan bom itu karya kelompok militan Islam yang terinspirasi semangat Al-Qaidah dan anti-AS.

Aparat keamanan Turki pun bergerak. Polisi Turki menangkap 12 orang yang dicurigai terlibat dalam aksi bom bunuh diri itu. Sembilan di antaranya diseret ke pengadilan, tapi tiga lainnya dilepas karena kekurangan bukti. Gubernur Istanbul, Muammer Guler, Senin 24 November menyatakan bahwa polisi dengan menggunakan sampel DNA mengidentifikasi pria yang membenturkan truk ke kantor konsulat Inggris. "Kami punya seluruh detail dan kami tahu kaitannya," kata Guler. Koran Istanbul Milliyet menyebut orang tersebut adalah Feridun Ugurlu, warga Turki yang dipercaya bersama kelompok radikal ikut bertempur di Afganistan dan Chechnya. Media Turki lainnya untuk sementara menyebut pria lainnya yang terlibat dalam bom bunuh diri adalah Azad Ekinci. Kedua orang itu diduga juga terlibat dalam serangan bom di sinagoga, 16 November lalu.

Para penyelidik Turki menyebar di Bingol, tempat yang dipercaya sebagai kota asal empat pengebom bunuh diri. Kota itu merupakan markas kelompok radikal Hisbullah (tidak ada hubungannya dengan kelompok Hisbullah-Syiah di Libanon), yang sebenarnya pada awal tahun 1980-an pernah membantu militer Turki memerangi kelompok separatis Kurdi di tenggara Turki. Tapi, kini militer Turki melihat kelompok ini sebagai ancaman bagi sistem politik sekuler Turki, dan sibuk mengusut kaitan kelompok Hisbullah dengan Al-Qaidah. Kelompok Hisbullah dituduh bertanggung jawab atas serangan granat di Sinagoga Neve Shalom pada 1992.

Kemarahan segera membakar pemerintah Turki. Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan, dalam pidato resminya di televisi menutup bulan puasa, meminta rakyat Turki melawan terorisme. "Ini adalah perang antara keadilan dan kekejaman, baik dan buruk, kebenaran dan kepalsuan. Adalah hak kita berharap pada setiap orang yang sensitif berdiri di samping keadilan, kebaikan, dan kebenaran dalam perang ini," kata Erdogan. Tapi, ia menyatakan, terlalu dini menyebut keterlibatan Al-Qaidah dalam dua serangan bom bunuh diri itu. Namun, pejabat asing dan Turki yakin serangan sekaliber itu adalah aksi pengeboman jaringan yang dipimpin Usamah bin Ladin.

Serangan bom bunuh diri menjadi senjata bagi kelompok oposisi sekuler untuk menyerang pemerintah Erdogan, yang berbasis "Islam konservatif". Koran sekuler Hurriyet menyebut rentetan serangan bom itu masalah Islam fundamentalis, basis ideologi Erdogan. "Erdogan adalah seorang Islam radikal pada masa lalu dan, ketika mengambil jarak yang tegas dengan perang terhadap terorisme, penolakannya terhadap kelompok militan hanya retorika," kata Dr. Hussein Bagdi, pakar keamanan di Universitas Teknik Timur Tengah di Ankara. Bagi kaum sekuler Turki, serangan bom itu melekatkan Islam dengan terorisme.

Pemimpin oposisi mengkritik pemerintah Erdogan karena sangat santai menghadapi kelompok militan Islam sejak ia berkuasa setahun silam. Buktinya, Erdogan mengampuni banyak militan Islam di bawah undang-undang "tobat" yang baru. Sekitar seratus militan Islam dibebaskan dari bui selama empat bulan terakhir. Tapi Erdogan, yang pernah bergabung dalam partai berbasis Islam, membantah bahwa undang-undang itu bermaksud memenuhi konstituen Islam fundamentalisnya.

Kenapa Turki menjadi sasaran serangan bom paling besar dalam sejarah Turki justru saat Turki diperintah oleh Erdogan, yang punya riwayat militansi Islam? Setahun kekuasaan pemerintahnya, Erdogan dinilai gagal menyelesaikan isu paling sensitif di kalangan pendukungnya, yakni larangan bagi perempuan Turki mengenakan busana muslim di gedung pemerintah.

Selain itu, pengamat menduga pemerintah Erdogan menjadi lebih pragmatis di mata kalangan Islam konservatif karena bersikap manis terhadap Amerika Serikat (AS) dalam soal Irak. Padahal 60 persen rakyat Turki menentang pendudukan AS terhadap Irak. Turki memang tak mengizinkan pasukan AS masuk ke Irak lewat Turki. Tapi, belakangan, lewat voting di parlemen, pemerintah memutuskan mengirim tentara ke Irak untuk membantu pasukan AS dan sekutunya mengamankan Irak, yang semakin tak aman bagi AS. Erdogan dianggap melengkapi "dosanya" dengan mengamini seruan perang total terhadap terorisme yang dikumandangkan Presiden Bush.

Bagi banyak kalangan muslim, kampanye terorisme Presiden Bush adalah serangan terhadap Islam. Tak aneh, bagi konstituen Erdogan dari kalangan Islam konservatif, kebijakannya dianggap tunduk pada kepentingan AS dan pantas mendapat hukuman. "Rakyat mengatakan, jika tak ada perang, kami tak akan menjadi target," ujar Fehmi Koru, kolumnis koran Yeni Safak. Menurut Koru, tak ada pengeboman bunuh diri dengan korban yang besar terjadi di Turki sebelum perang Irak. "Sekarang Irak ada di Turki, dan teror berada di dalam wilayah kami," ia menambahkan.

Raihul Fadjri (The Guardian, NY Times, The Observer)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data