Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 40/XXXII/01 - 7 Desember 2003
   
Kesehatan

Satu Nyawa, Sepuluh Detik

Inilah beratnya kalau virus yang menjadi musuh besar umat manusia: seluruh pelosok bumi bisa dia hantui seenak perut, tapi siapa yang bisa dihujat sebagai biang keladi masalah? Itulah yang terjadi pada virus perontok kekebalan tubuh—human immunodeficiency virus (HIV). Mengancam manusia dari delapan penjuru, virus ini dapat menghantarkan pengidapnya kepada sindrom rontoknya kekebalan tubuh alias AIDS (acquired immune deficiency syndrome). Penyakit ini bukan hanya mematikan, tapi juga belum ada obatnya hingga kini.

Muncul pertama kali pada akhir 1950-an, HIV/AIDS kini menjadi salah satu momok yang paling menakutkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat telah 25 juta orang meninggal gara-gara HIV/AIDS. Hitungan per tahunnya sekitar 3 juta orang, 15 ribu di antaranya anak-anak di bawah 15 tahun. Dipukul rata, setiap hari sekitar 8.000 orang tewas atawa satu nyawa melayang setiap sepuluh detik.

Virus HIV menular melalui darah, sperma, dan cairan vagina. Awalnya hanya ditemukan di kalangan homoseksual, virus ini pernah diberi judul gay-related immune deficiency (GRID). Belakangan namanya berubah menjadi AIDS. Teori yang berkembang menengarai bahwa gaya hubungan seks kaum homo punya risiko amat tinggi: virus HIV bisa menular lewat luka akibat senggama—lalu menyelusup ke aliran darah. Belakangan, teori ini terkoreksi. HIV/AIDS bisa mengenai siapa saja. Dari penyalah guna narkotik hingga anak-anak tak berdosa. Kok bisa?

Bisa saja! Karena HIV juga dapat menular lewat transfusi darah, jarum suntik, atau peralatan medis yang tercemar. Toh WHO mencatat, praktek seks yang tak aman masih merupakan jalur penularan paling dominan (mencapai 80-90 persen). Program penanggulangan AIDS dunia (UNAIDS) meramalkan, sampai akhir 2003, sekitar 40 juta orang hidup dengan HIV/AIDS—di antaranya 2,5 juta anak-anak. Dalam laporan The Global Response to HIV/AIDS Epidemic, 30 September 2003, Indonesia disebut sebagai salah satu negara Asia yang wabah AIDS-nya terus meningkat. Untuk periode 2003, Departemen Kesehatan mencatat ada 2.556 orang terkena infeksi HIV hingga 31 Maret—1.058 dari mereka kasusnya meningkat menjadi AIDS.

Sejatinya, jumlah persisnya penderita HIV/AIDS di Indonesia tak pernah diketahui dengan pasti karena tak semua penderita berani melapor. Perkiraan kasarnya, hingga tahun 2002, ada 110 ribu orang positif terinfeksi HIV dan lebih dari 16 juta orang yang tergolong rawan terkena infeksi. Kasus HIV di Indonesia juga terpusat di daerah dan kalangan tertentu. Ada enam provinsi dengan tingkat infeksi paling tinggi: Papua, Jakarta, Riau, Bali, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Sementara itu, kalangan yang terinfeksi HIV kebanyakan laki-laki (77 persen). Proporsi tertinggi terjadi pada kelompok usia 20-29 tahun (41,7 persen) dan kelompok 30-39 tahun (21 persen). Secara garis besar, cara penularan HIV/AIDS terjadi melalui hubungan heteroseksual (51,8 persen), memakai napza suntik (23,8 persen), hubungan homoseksual (10,3 persen), dan dari ibu ke anak (1,2 persen).

Penularan melalui alat suntik meningkat cepat sejak tahun 1999. Survei di Jakarta mencatat, kasus HIV pada pemakai narkotik meningkat dari 15 persen (1999) menjadi 47 persen (2001). Sekitar 20 persen kasus infeksi HIV itu terjadi pada penghuni penjara di Jakarta. Penularan infeksi HIV dari ibu ke anak juga meningkat. Tahun 2002, sekitar 120 bayi dilahirkan ibu yang terinfeksi. Di Jakarta, kasus infeksi ini naik dari 1,5 persen (2000) menjadi 2,7 persen (2001).

Cepatnya laju peningkatan kasus HIV tak diimbangi dengan kemampuan pengobatan. Sejauh ini yang bisa dilakukan baru terapi obat antiterovial (ARV). Ini obat untuk mempertahankan kekebalan tubuh pasien. Itu pun harganya selangit, sehingga hanya sedikit orang yang bisa membelinya. Dalam laporan kemajuan global UNAIDS bisa dilihat bahwa hanya 300 ribu orang—dari 5-6 juta orang yang amat membutuhkan—bisa mendapatkan obat kekebalan ini.

Di Indonesia keadaannya lebih parah. Pecandu narkotik suntik yang memperoleh terapi ARV hanya 1,5 persen—jauh di bawah angka rata-rata dunia yang 5 persen. Sejak dua tahun lalu, obat ARV generik sebenarnya bisa dibeli di Kelompok Studi Khusus untuk HIV/AIDS di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat.

Tapi, lagi-lagi, soal harga menjadi kendala. Sebab, setelah disubsidi pun, biaya terapi ARV per tahun masih lebih dari Rp 8,5 juta. Alhasil, mahalnya harga obat adalah momok tersendiri—di luar beban ketakutan yang telah dipikul oleh setiap penderita HIV dan AIDS.

Jajang Jamaludin


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data