Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 40/XXXII/01 - 7 Desember 2003
   
Kesehatan

Di Rumah Cemara, Menanti Waktu

Seorang penderita HIV/AIDS mendirikan panti rehabilitasi narkoba dan HIV/AIDS. Prinsipnya, bekas pecandu melayani pecandu.

RUMAH bercat putih itu sejatinya tak berbeda dengan hunian lain di kawasan Geger Kalong, Bandung Utara. Yang membedakan barangkali hanya luasnya—rumah itu tegak di atas tanah 700 meter persegi—serta papan nama yang terpampang di depan bangunan itu: Rumah Cemara, Recovery Center. Juga, "keistimewaan" penghuni rumah tersebut: ada 20 bekas pecandu narkoba yang berdiam di situ. Beberapa dari mereka bahkan sudah positif mengidap HIV/AIDS—satu penyakit yang kini paling ditakuti di atas jagat.

Toh, suasana murung tak terpancar dari rumah itu, sebuah panti rehabilitasi para pecandu narkoba. Pintu dan jendelanya terbuka lebar-lebar menyerap udara segar. Di beranda dekat tempat jemuran, sepasang remaja pria tengah genjreng-genjreng memetik gitar. Wajah para penghuni panti umumnya riang dan santai. Mereka bersenda-gurau, tertawa. "Kita ingin meniru sinetron Keluarga Cemara, yang kehidupan keluarganya damai dan harmonis," ujar Ginandjar, 23 tahun, pendiri sekaligus pengelola Rumah Cemara.

Ginan—sebutan akrab Ginandjar—bergaul dengan narkoba selama bertahun-tahun sebelum dia mendirikan Rumah Cemara pada Januari 2003.

Dia mulai mengkonsumsi pil koplo pada usia 13 tahun. Minuman keras, ganja, putaw, sabu-sabu, serta aneka jenis narkoba lain juga enteng saja dicecapnya dalam usia semuda itu. Remaja ini tak segan segera melego barang-barang yang ada di rumahnya jika rasa ketagihan mulai mendera. Gitar kesayangannya seharga Rp 1,5 juta dilepas Rp 400 ribu—cukup untuk membeli satu gram sabu-sabu. Peralatan band dijualnya begitu saja. "Hidupku ancur! Kalau tak punya uang, aku terpaksa mencuri spion, helm, dan sebagainya."

Pada 1997, Ginan mulai menyuntik dirinya. Jarum-jarum suntik itu dia gunakan secara bergantian dengan teman-temannya. Bahkan mereka bersepakat menyimpan jarum tersebut di sebuah lokasi khusus. Jadi, bila ada yang butuh, silakan ambil kapan saja. Saking seringnya jarum itu dipakai, warnanya sampai kekuning-kuningan. Sampai, suatu hari pada tahun 2000, dokter menyatakan Ginandjar positif mengidap HIV/AIDS. Diduga, penyakit yang merontokkan kekebalan tubuh manusia itu menyelusup ke tubuh Ginan lewat jarum suntik.

Suatu ketika, dia menjalani general check up sebagai syarat untuk masuk ke sebuah panti rehabilitasi narkoba. Dari situ Ginan tahu bahwa dirinya positif mengidap HIV/AIDS. Goyah dia, saat mendengar vonis itu. Dia sempat menyangkal hasil tes Elissa itu, yang dilakukan oleh satu rumah sakit swasta ternama di Bandung. "Ah, akurasi tes di Indonesia pasti jelek," pikirnya ketika itu. Dua kali dilakukan tes ulang. Hasilnya sama. Dan Ginandjar pun menyerah. "Saya menerima kenyataan itu. Sekarang saya berbagi dengan teman-teman di sini untuk saling menguatkan," tuturnya.

Orang tuanya tak tinggal diam melihat penderitaan Ginandjar. Dia sempat dimasukkan ke Pesantren Gontor, Jawa Timur. Dia juga sempat nyantri di Daarut Tauhiid-nya Abdullah Gymnastiar di Bandung selama sebulan. Tapi upaya itu belum memberikan hasil pada mahasiswa ilmu politik ini. Kerinduannya terhadap jarum setan masih tinggi. Hatinya baru tergerak ketika menonton tayangan tentang panti rehabilitasi di salah satu negara ASEAN. Dia kemudian masuk ke pusat rehabilitasi narkoba tersebut.

Ginan mengaku, inilah pertama kalinya dia masuk ke panti rehabilitasi dengan keinginan hatinya sendiri tanpa disuruh atau dipaksa. Selama satu setengah tahun, dia menjalani terapi pemulihan sekaligus ikut pelatihan konselor tentang narkoba dan HIV/AIDS di negara tersebut. Di sana pula, Ginandjar bertemu dengan 15 orang saudara baru: sesama pecandu yang ingin sembuh dan sudah dicengkeram virus HIV/AIDS.

Mereka berbagi cerita dan pengalaman. Satu pesan dari teman-temannya yang terus terngiang dalam ingatannya: "Kamu harus merasa beruntung mendapat virus ini. Artinya, Allah masih sayang sama kamu. Dia memberi kamu peringatan supaya hidupmu lebih baik." Ginan terus memegang kata-kata itu dan berupaya keras untuk membersihkan dirinya dari narkoba. Dia berhasil. Dan kembalilah Ginan ke Bandung untuk mendirikan Rumah Cemara sebagai bentuk kepeduliannya kepada kawan-kawan senasib.

Di atas tanah 700 meter persegi, Ginan bersama empat rekannya mendirikan panti tersebut, yang memiliki sejumlah keunikan, antara lain menerima "pasien narkoba" yang telah mengidap virus HIV/AIDS. Rumah Cemara yang didirikan oleh bekas pecandu narkoba ini juga tak mematok tarif bagi para penghuninya.

Prinsipnya, "Rela bayar berapa, terserah!" Walhasil, ada yang sebulan hanya mampu membayar Rp 150 ribu, tapi ada juga yang bisa memberi Rp 2 juta. Di sinilah, subsidi silang diterapkan oleh si pengelola agar bisa mencukupi kebutuhan. Mulai dari makan, minum, dan aneka keperluan sehari-hari. "Ya, pintar-pintarnya kita mengatur pengeluaran agar kegiatan di sini terus bisa jalan," ujar Ginan.

Sebagai sebuah hunian, Rumah Cemara cukup nyaman dan asri. Ada empat ruang tidur yang diisi ranjang bertingkat, kamar mandi/WC, ruang pengelola, ruang pertemuan, dapur, dan lain-lain. Di bagian belakang tersisa lahan kosong sekitar 250 meter persegi. Sebagian dipasangi paving block untuk tempat berolahraga, sebagian lagi dimanfaatkan untuk barak semipermanen. Tanaman mangga, kelengkeng, dan belimbing meneduhkan bangunan panti tersebut. Dimiliki oleh orang tua salah satu penghuni Rumah Cemara, rumah dikontrak amat murah: hanya Rp 15 juta. Padahal, "Harga pasaran untuk rumah ini Rp 25 juta hingga Rp 30 juta," Ginan menjelaskan.

Dalam proses terapi terhadap para penghuni panti, Ginandjar dan rekan-rekannya melibatkan banyak pihak, termasuk keluarga. Pendekatan yang dilakukan adalah multiaspek: biologi, psikologi, sosial, dan spiritual. Ginan mengaku tak gampang mengelola Rumah Cemara, terutama dari segi finansial. Untuk menangani 20 penghuni (berusia 17-32 tahun) yang separuhnya penderita HIV/AIDS, diperlukan dana Rp 20-30 juta per bulan. Sedangkan pemasukan paling banter hanya Rp 10 juta.

Tapi mantan pecandu narkoba ini yakin, dana bisa lebih lancar mengalir jika barak bantuan dari Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Jawa Barat senilai Rp 10 juta sudah jadi. Karena barak tersebut akan meningkatkan daya tampung panti dua kali lipat. Cara lain? Rumah Cemara berusaha menjalin hubungan dengan sejumlah lembaga internasional seperti Family Health International (FHI), United States Agency for International Development (USAID), di samping lembaga-lembaga di dalam negeri.

Di luar urusan mencari dan mengelola dana, Ginan juga giat dalam hal mengelola jiwa dan raganya. Dia berupaya menerapkan pola hidup sehat dan cukup berolahraga. Dia juga menjalani terapi air dengan ketat. Awalnya, Ginan hanya bisa mereguk delapan gelas sehari, tapi kini anak muda itu mampu menggelontorkan enam liter air ke lambungnya saban hari. Inilah menu sarapan Ginan: setelah menenggak segelas susu, ia menyiram kerongkongannya dengan seliter air dalam sekali napas.

Ginan mengaku, dia menjalani terapi ini karena pernah membaca artikel bahwa air putih bisa meninggikan sel-sel darah putih dan memperkuat ketahanan tubuh. Hasilnya? Setelah tiga tahun dinyatakan HIV/AIDS positif, tubuh Ginandjar masih terlihat kukuh. Juga, saat dicek kadar CD4 alias lymphocyte T helper—yang menunjukkan kekebalan tubuh penderita—di tubuh Ginan, hasilnya masih bagus. Alhasil, dia belum perlu mengkonsumsi obat-obatan khusus bagi penderita HIV/AIDS seperti Saquinavir, Indinavir, atau Ritonavir.

Sejatinya, apa yang diharapkan oleh para penghuni Rumah Cemara? Kepada TEMPO, mereka mengatakan sadar bahwa suatu ketika akan mati—sebuah peristiwa yang akan dialami juga oleh orang-orang yang sehat. Tapi senyampang masih bernapas, Ginandjar dan teman-temannya "berupaya terus berbuat sesuatu untuk sesamanya". Di panti inilah, anak-anak muda ini menjalankan upaya mereka sembari terus bertahan menanti waktu, entah berapa tahun lagi.

Adapun Ginandjar, dia menyimpan impiannya sendiri tentang Rumah Cemara. Katanya kepada TEMPO, "Saya ingin panti ini terus hidup jika saya sudah mati."

Dwi Wiyana (Bandung)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data