Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 40/XXXII/01 - 7 Desember 2003
   
Ilmu dan Teknologi

Pulau Pemasok Kera Percobaan

Pulau Tinjil menjadi tempat penangkaran kera untuk keperluan riset biomedis.

HAMPARAN pasir putih membentang di sepanjang pantai. Sesekali terdengar suara binatang hutan bersahutan, ditimpali desiran ombak. Selebihnya adalah kesenyapan yang membungkus Pulau Tinjil. Terletak di ujung selatan Provinsi Banten, pulau ini amat resik dengan panorama yang menyejukkan. Sejauh mata memandang, hanya ada hijau dedaunan. Aneka fauna khas pulau tropis berseliweran dengan bebas tanpa takut diusik manusia. Di pulau seluas 600 hektare ini memang tak ada manusia. Yang ada justru "kerajaan" monyet berekor panjang (Macaca fascicularis).

Tak mengherankan bila Pusat Studi Satwa Primata Institut Pertanian Bogor (IPB) menjadikan pulau ini sebagai sebuah hunian khusus bagi kera ekor panjang sejak 1988. Pada tahun itu pula, Pusat Studi memperkenalkan 520 induk monyet ekor panjang dari Palembang, Jawa Barat, Banten, serta Lampung. "Sejak itu, pulau ini dinyatakan steril dari manusia," ujar Tito Sutristianto, penanggung jawab pengelolaan Pulau Tinjil. Ini karena kera yang ditangkarkan akan dipanen untuk dijadikan hewan percobaan dengan kualitas genetis yang tinggi.

Pusat Studi Satwa Primata IPB merupakan satu-satunya lembaga riset nasional yang khusus meneliti primata. Sebagian besar kegiatan laboratorium dan penangkaran hewan ini—dalam kandang di luar habitat—dilakukan di kompleks kampus IPB di Darmaga, Bogor. Pusat Studi Satwa Primata juga terdapat di sini, berikut fasilitas penangkaran yang kini dihuni 800 monyet ekor panjang dan 400 ekor beruk (Macaca nemestrina).

Salah satu latar belakang kegiatan Pusat Studi Satwa Primata adalah adanya keperluan menyediakan primata bagi keperluan riset ilmu pengetahuan. Selama ini riset biomedis dan biologi lainnya selalu mensyaratkan uji coba pada tiga jenis binatang sebelum diuji coba pada manusia, yakni tikus, kelinci, dan primata.

Hewan model yang seragam—dalam arti memiliki kesamaan genetis—punya peran amat besar dalam keberhasilan suatu penelitian. Misalnya, dalam uji praklinis obat-obatan. Hasil uji ini akan efektif dan respons yang seragam akan diperoleh jika, itu tadi, hewan yang menjadi model uji coba memiliki kesamaan genetis. Faktor yang timbul akibat perbedaan genetis akan dapat dihindarkan.

Karena itu, hampir mustahil mendapatkan hewan percobaan—termasuk primata—dengan kualitas genetik yang baik, kalau hewan itu diambil sembarangan, langsung dari alam. Maka diperlukan satu lembaga yang kredibel buat memasok primata percobaan bermutu tinggi dengan tetap memperhatikan kelestarian genetisnya.

Untuk itu, Profesor Dondin Sajuthi dari Pusat Studi Satwa menerapkan berbagai teknologi reproduksi untuk melahirkan monyet berkualitas. Misalnya inseminasi buatan, kultur jaringan, dan pembuahan dalam cawan petri—fertilisasi in vitro. Mantan Direktur Pusat Studi Satwa Primata ini—kini Dondin menjabat Direktur Program Internasional IPB—menyebut kloning sebagai teknologi masa depan yang potensial digunakan di lembaga tersebut. Alasannya? Kloning dapat menghasilkan hewan percobaan yang identik satu sama lain secara genetis. "Riset kloning kera menjadi impian jangka panjang kami," ujarnya.

Ide itu masih berbentuk impian—walau upaya awal sudah dirintis. Salah satunya, bekerja sama dengan ilmuwan bioteknologi dari Amerika Serikat dan Australia. Dari hasil kerja sama ini, Pusat Studi telah melahirkan anak monyet dengan cara transfer embrio hasil in vitro ke dalam rahim monyet betina dewasa sebagai induk titipan. Prosedur ini merupakan langkah awal menuju kloning kera.

Nah, kera buatan laboratorium Pusat Studi ini, sesudah ditangkarkan secara captive breeding dalam kandang-kandang di Bogor, juga ditangkarkan secara free renging, yakni langsung di habitatnya di alam alias tidak dikandangkan. Nah, lokasi penangkaran di alam bebas itu adalah yang kini dikembangkan di Pulau Tinjil.

Ternyata tak gampang mencapai pulau tak berpenduduk ini. Mula-mula, harus ada izin resmi dari Pusat Studi Satwa Primata. Si pengunjung juga harus lulus pemeriksaan kesehatan. Batuk-batuk sedikit saja, atau flu, jangan harap Anda diberi izin berkunjung ke Tinjil.

Urusan pemeriksaan kesehatan para calon pengunjung akan ditangani oleh petugas pengelola Pulau Tinjil. Tepatnya di Kampung Muara, Desa Cikerit Wetan, Kecamatan Binuangen. Wilayah ini merupakan lokasi paling dekat untuk menjangkau pulau dan dijadikan Pusat Studi Satwa sebagai tempat transit dan sterilisasi pengujung sebelum menyeberang ke pulau kera.

Lolos dalam pemeriksaan, pengunjung memerlukan waktu sekitar dua jam untuk mencapai pulau kera dari Kampung Muara. Selama perjalanan, jangan harap penumpang motor bisa bersantai atau sempat menikmati perjalanan layaknya piknik-piknik wisata. Ombak yang tinggi dan besar siap menyerbu perahu motor yang lewat setiap saat.

Setiba di pulau, terasa betul bahwa penjagaan keamanan amat ketat. Saking ketatnya, wartawan TEMPO sempat menyaksikan satuan petugas keamanan mengusir empat nelayan yang kedapatan berlabuh untuk sekadar melepas lelah di Tinjil. Maklumlah, sedikit saja kera hasil percobaan ini tersambar virus, bakteri, ataupun penyakit dari luar, bisa dipastikan hal itu akan merusak kualitas klinis kera di pulau ini. Soalnya, karakteristik monyet ekor panjang dan beruk yang diintroduksi ke pulau ini telah dibebaskan dari beberapa jenis patogen, umpama tuberkulosis (TBC) dan simian retrovirus (SRV).

Pengamanan ini rupanya cukup berhasil. Berdasarkan survei dan estimasi terakhir, populasi monyet ekor panjang di pulau ini mencapai 2.400 ekor. Bahkan, sejak dimulainya kegiatan penangkaran, dari pulau ini telah dipanen 1.067 monyet. Monyet yang dipanen untuk model percobaan adalah mereka yang sehat tanpa kelainan klinis.

Selain didiami monyet tangkaran yang dikirim dari laboratorium di Bogor, Pulau Tinjil juga didiami monyet hasil perkawinan antar-sesama monyet yang ditangkar. Anakan monyet dari induk hasil rekayasa laboratorium, menurut Tito, memiliki kualitas genetis jempolan seperti kedua orang tuanya. Jumlah anakan yang dipanen sejak 1991 telah mencapai 1.300 ekor lebih.

Kera hasil panen—entah itu kera yang ditangkarkan dari Bogor atau anakannya—telah dimanfaatkan dalam berbagai penelitian biomedis di Pusat Penelitian Primata Universitas Washington di AS dan institusi lainnya. Sebagian besar di antaranya dimanfaatkan dalam penelitian yang terkait dengan virus HIV dan AIDS. Termasuk penelitian untuk pengembangan dan pengujian vaksin maupun penelitian pengobatan untuk mengendalikan infeksi virusnya.

Selain dengan Universitas Washington, Pusat Studi Satwa juga bekerja sama dengan lembaga riset primata yang ada di Amerika Serikat, Australia, dan Jepang. Direktur Pusat Studi Satwa Primata, Joko Pamungkas, mencontohkan kerja sama dengan Universitas Melbourne, Australia, di bidang pengembangan vaksin DNA untuk HIV-1. Sedangkan dengan Wake Forest University School of Medicine di North Carolina, ada kerja sama untuk riset penyakit kardiovaskuler—penyakit jantung dan pembuluh darah.

Kerja sama riset seperti ini tak terbatas pada aspek biomedis, tapi juga aspek biologi primata, seperti yang dilakukan dengan Kyoto University Primate Research Institute di Inuyama, Nagoya, Jepang. Riset ini untuk melihat variasi genetika dari spesies primata tertentu yang memiliki perbedaan dari satu lokasi dengan lokasi lainnya.

Dalam skala yang lebih kecil, Pusat Studi juga menjalin penelitian bersama dengan Universitas Uppsala di Swedia untuk melihat tingkat stres primata dalam beragam kondisi, misalnya pengandangan atau transportasi.

Untuk memuaskan gairah manusia pada ilmu pengetahuan, kera-kera ini direproduksi dalam tabung, dilepas ke pulau untuk dipelihara dan berkembang biak. Lalu pada saat datang musim "petik", mereka dipanen dan menyumbangkan dirinya terhadap dunia ilmu pengetahuan di dalam ruang-ruang percobaan.

Agus Hidayat, Dody Hidayat (Jakarta), Faidil Akbar (Pulau Tinjil)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data