Bowie, 'Peter Pan' New York Album baru David Bowie, Reality, beredar. Inilah album yang dipuji: bagaimana rocker itu menua secara anggun. |
UMURNYA 56 tahun. Rambutnya semakin putih perak. Di gambar sampul album terbarunya, Reality, Bowie menampilkan dirinya dengan citra animasi Jepang. Wajahnya inosens, seolah tahu, ia berjuluk "Peter Pan of the Rock".
Tahun ini, banyak "singa rock" berusaha mengaum kembali. Deep Purple menelurkan Banana, ELO (Electric Light Orchestra) menghasilkan Zoom. Beberapa rocker gaek mengkompilasi karya lamanya, seperti Robert Plant, bekas vokalis Led Zeppelin, dengan album Sixty Six to Timbuktu. Tapi Mark Edward, penulis The Sunday Times, menyebut David Bowie seorang rocker yang mampu menua secara anggun. Bowie tidak jatuh ke nostalgia. Reality disebut karya terbaiknya selama 20 tahun terakhir ini. Bowie sadar ia makin uzur, tapi tema sentral albumnya menolak kematian. "I'm never going to old
" ia menyanyi dalam Never Get Old.
Secara musikal ia terus mencari. Albumnya ini sarat ingar-bingar motif techno dan hip-hop. Seorang pengulas menyebut ini mengingatkannya pada musik Radio Head. Bowie memang mengapresiasi grup anak muda terpelajar yang mengembangkan nada-nada bunyi komputer itu. Reality penuh suasana minor melankolik, irama cenderung datar, tapi dengan ritme urban yang agresif. Warna vokal Bowie dingin, tak riang. Lagu Fall Dog Bombs the Moon mengingatkan kekuatannya bila ia menembang hal-hal delusif: When I talk in the night, there's oil on my hands, what a dog.
Meski jarang sekali grup band kita menyanyikan lagu-lagu Bowie, radio-radio cukup akrab memutarkan hit-hitnya: Star Man, Space Oddity, Changes, Oh! You Pretty Things, atau duet dengan Queen, Under Pressure. Bowieyang pernah ke Solo diajak oleh Setiawan Djody, menyaksikan Kiai Slamet, kerbau keramat Keraton yang setiap malam satu Suro dilepas dan kotorannya diperebutkan masyarakatdikenal memiliki minat luas terhadap kebudayaan alternatif.
Seperti bunglon, ia kerap berganti personalitas. Tahun 1971, ia menyentak publik ketika ia mengenakan rok dan mengklaim dirinya androgini, biseksual. Lalu saat ia mencitrakan diri sebagai Ziggi Ztardust, makhluk angkasa luar dari Mars, setelah menonton film 2001: A Space Odyssey dari Stanley Kubrick.
Nama aslinya sebenarnya David Jones. Pada 1966, untuk menghindari kemiripan dengan Davy Jones, penyanyi The Monkees, ia membubuhkan Bowiediambil dari nama Jim Bowie, koboi bersejarah yang terampil melempar pisau panjangnya. Bowie terpengaruh ide-ide kesenian Andi Warholl dan Lou Reed. Ia termasuk musisi yang mengenalkan pada anak-anak muda karya-karya pembangkangan Jean Genet dan novel-novel fiksi ilmiah William Burrough.
Pada saat musik rock tahun 70-an mencapai golden age dan Led Zeppelin atau The Who menjadi pujaan orang, Bowie bosan pada rock and roll. Ia masuk ke wilayah avant garde. Tinggal di Berlin dan meresapi musik elektro grup-grup Jerman, ia lalu bekerja sama dengan Brian Eno, tokoh ambient music. Eno, lulusan sekolah seni, menurut Chris Welchpenulis We Could Be Heroes, The Stories Behind Every David Bowie Songsama sekali tak bisa bermain instrumen musik. Secara jenial ia mengembangkan komposisi-komposisi yang tak berangkat dari notasi dan ritme, tapi dari usaha membangun mood akan ruangan secara auditif.
Seperti wawancaranya dengan The New York Post, Bowie menyebut Reality diilhami kehidupan New York yang agresif. "Kota ini tak lagi punya kebenaran abadi," katanya. New York pasca-11/9 membuatnya menyanyikan
But I Lost God in New York Minute
Semua visi ini dapat terekspresikan lantaran Reality ditangani Toni Visconti, orang di balik layar zaman "gila-gilaan" Bowie. Visconti adalah produser The Man Who Sold the World (1971), lagu yang kembali dipopulerkan Kurt Cobain.
"Reality adalah album saya dengan Visconti," kata Bowie. Ia bercerita ke wartawan majalah Filter bagaimana di studio Visconti yang kecil, di Woodstock, Visconti duduk di meja, bermain bas, sementara Mike Garson (membantunya di album Alladin Sane, 1973) memencet tuts keyboard, dan Bowie mencoba berbagai instrumen. Reality, menurut dia, merespons sudut-sudut kegamangan New York. Termasuk Try Some, Buy Some, lagu almarhum gitaris Beatles George Harisson yang diaransir ulang.
Simaklah intro piano The Loneliest Guy, sebuah balada tertekan, dinyanyikan dengan lambat, dengan kalimat-kalimat yang seolah terseret. Tidak seperti Lou Reed, sang guru, atau Bob Dylan, yang cenderung berceloteh bila menembangkan lirik naratif. Satu kelebihan teknik suara Bowie adalah ia seolah berbicara tapi tetap bernyanyi. Daya sihir lagu Reality memang tidak semenggigit hit-hit klasiknya. Namun tetap tak kehilangan aura: ... street damp and warm... empty smell metal
but I'm the luckiest guy, not the loneliest guy
.
Seno Joko Suyono
|