Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 40/XXXII/01 - 7 Desember 2003
   
Film

Membawa Cinta sampai ke Paris

Pada hari Lebaran, kaum remaja memburu Eiffel, I'm in Love. Padahal film ini tidak istimewa.

EIFFEL, I'M IN LOVE

Skenario: Rachmania Arunita

Sutradara: Nasry Cheppy

Pemain: Samuel Rizal, Shandy Aulia, Titi Kamal

Produksi: PT Soraya Intercine Films



MENGEJAR momen penting. Tampaknya itulah yang hendak diburu oleh Soraya Film saat meluncurkan film yang bertajuk Eiffel, I'm in Love, beberapa hari menjelang Lebaran tiba. Secara serempak, sebanyak 44 kopi film diluncurkan empat hari sebelum Idul Fitri tiba. Kemasannya pun canggih. Menjelang peluncuran, beberapa poster dalam ukuran raksasa dipajang di halaman bioskop. Otomatis film ini menjadi buah bibir di kalangan anak muda Jakarta.

Selain itu, penggarapannya tak kalah mewah. Selain musiknya, yang digarap Melly dan Anto Hoed yang sudah duluan melejit lewat soundtrack film remaja lain, film ini juga menampilkan bintang-bintang muda yang sudah akrab di kalangan remaja. Shandy Aulia, si imut bintang deodoran yang hampir setiap jam muncul di televisi, lalu ada juga Samuel Rizal, juga bintang iklan yang sebelumnya pernah main dalam Tusuk Jelangkung. Nama lain yang tak kalah populer adalah Titi Kamal, Didi Petet, dan Tommy Kurniawan, salah satu bintang sinetron yang digemari kaum remaja.

Hasilnya, kayak obat saja, cespleng. Pada hari perdana pemutarannya, bioskop-bioskop di Jakarta kebanjiran remaja. Bioskop Citos—ini panggilan "sayang" anak muda bagi Cilandak Townsquare—sudah dirubung anak-anak muda beberapa jam sebelum pertunjukan. Mereka ngedeprok sambil membicarakan film tersebut. Bahkan, di beberapa bioskop, para calo merajalela. Karcis dengan harga khusus pun diburu. Ini memang bukan fenomena baru, karena kegilaan terhadap sebuah film (remaja) Indonesia sudah terjadi pada film Jelangkung dan Ada Apa dengan Cinta.

Tapi apakah itu juga menjadi jaminan film ini menjadi sangat istimewa? Semestinya sih begitu. Apalagi cerita film ini diangkat dari novel yang ditulis Rachmania Arunita, 18 tahun, yang berjudul sama dengan nama film ini. Eiffel bercerita enteng dan khas remaja. Seenteng kapas, steril dari problem nyata, persis seperti yang disajikan novel aslinya yang sejak tahun 2001 sudah mengalami empat kali cetak ulang.

Alkisah, tersebutlah Tita (Shandy Aulia)—hanya itu namanya. Dia seorang gadis cantik yang duduk di bangku kelas satu SMA di Jakarta. Biarpun sudah punya pacar, di mata ibunya, dia hanyalah anak kecil, yang harus ada di rumah selepas sekolah. Takut terkontaminasi oleh pergaulan ABG (anak baru gede) Jakarta. Itulah yang ada di benak sang nyokap.

Hingga suatu ketika, dia kedatangan tamu penting. Seorang teman ayahnya, Reza (Didi Petet) dan Adit (Samuel Rizal) yang datang dari Paris, Prancis, berlibur selama dua minggu di Jakarta. Sejak awal kedatangan, dia menaruh curiga: jangan-jangan Adit memang sengaja dijodohkan oleh kedua orang tuanya, yang sama-sama teman satu sekolah di kala muda. Ini yang bikin Tita pusing. Umur baru 15 tahun, masa mau dijodohkan. Sebaliknya Adit merasa rileks. Sebab, menurut dia, kalaupun memang betul mereka dijodohkan, toh perkawinan mereka paling mungkin terjadi 3 atau 4 tahun mendatang.

Tapi Tita sudah antipati lebih dulu. Pasalnya, Adit punya perangai yang tak asyik, jutek kalau kata anak muda sekarang, gampang bete, marah, dan bicaranya ketus. Tapi, yaa..., namanya juga anak muda, lambat-laun, akhirnya timbul rasa cinta di hati Tita. Apalagi pada saat bersamaan, Ergi, kekasihnya, ketahuan beberapa kali berselingkuh. Kisah cinta dua anak remaja itulah yang menjadi roh dari film ini. Alhasil, dengan itu pula, fokus penonton tertuju pada bangunan kisah yang berjalan dengan lambat dan bahkan bertele-tele. Tentu ada upaya melucu, tapi sori saja: gagal. Tampaknya, keberanian produser untuk mengangkat Rachmania Arunita sekaligus sebagai penulis skenario film ini menjadi langkah blunder pula.

Arunita memang bisa memangkas novelnya ke dalam bentuk yang lebih ringkas. Beberapa adegan yang tidak perlu untuk sebuah film dihilangkan. Namun, pada saat lain juga, muncul beberapa hal yang serampangan. Misalnya, dalam novelnya dikisahkan bahwa antara Adit dan Uni terjadi sebuah percakapan rahasia. Sayang, dalam film itu adegan itu lenyap, sehingga penonton tak bisa menangkap ada apa di balik percintaan Adit dengan Uni. Sebaliknya, beberapa hal yang mengganggu berseliweran. Misalnya, narasi yang tidak perlu dan dialog-dialog yang panjang.

Sialnya lagi, akting para pemain yang lulusan iklan dan sinetron ini seperti tengah berlatih untuk bermain film. Tapi sori, kemanjaan dan kekanak-kanakannya Shandy hampir mendominasi setiap kali dia berakting.

Sebaliknya pula, Samuel bukan Nicholas Saputra, yang tampil dingin dengan meyakinkan dalam Ada Apa dengan Cinta. Emosi Samuel bolak-balik tak keruan.

Entah apa sebabnya itu bisa terjadi. Mungkin juga karena sang sutradara, Nasry Cheppy, yang kondang dengan film remaja seperti Catatan Si Boy, sudah terlalu uzur untuk bisa "menangkap" roh sebuah film remaja pada era milenium ini.

Irfan Budiman


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data