Pilih Kelinci atau Motor Bekas Motor bebek Cina yang harganya murah mulai meramaikan pasar. Tapi minat konsumen berkantong tipis justru tidak terlalu besar. |
KOCEK boleh tipis, tapi bukan berarti motor idaman tidak bisa diraih. Asalkan tuntutan kosumen tidak terlalu ruwet, sekarang ada pilihan baru: motor buatan Cina yang pasti terjangkau, karena harganya tergolong sangat murah. Diproduksi oleh PT Permata Sumber Investindo yang memegang merek Garuda, motor mungil itu diberi nama Garuda Kelinci.
Harga si Kelinci yang bermesin dua tak ini cuma Rp 4 juta on the road. Berarti, tak sampai separuh dari harga rata-rata motor bebek yang dijual di pasar saat ini. Dengan jok terbagi dua, bagian depan dan belakang, motor bebek berkopling ini tampil sederhana sekaligus unik. Sekilas, Kelinci mirip sepeda motor lawas buatan tahun 1960-an.
Henry Gunawan, bos Permata Sumber Investindo, mengaku pihaknya memang sudah lama ingin menjual jenis motor yang harganya terjangkau semua lapisan masyarakat. ”Tapi kami tak mengurangi kualitasnya,” ujarnya seolah menawarkan jaminan.
Sesuai dengan namanya, Kelinci lincah dan gesit—dapat dilarikan pada kecepatan 80 kilometer per jam. Selain itu, juga nyaman dikendarai. Karena mesinnya cuma 70 cc, sang kelinci tidak boros dalam penggunaan bahan bakar. Satu liter bensin bisa digunakan sampai jarak 75 kilometer. ”Tangkinya bisa diisi 4 liter bensin,” ujar Robert Budi, Direktur PT Surya Inti Permata, induk PT Permata Sumber Investindo.
Dengan segala kelebihan itu, Henry optimistis Kelinci akan diminati pasar. Ia mengklaim sejauh ini dari 1.000 unit yang diproduksi, separuhnya telah habis diserbu pembeli. Itu pun baru terbatas di pasar Jawa Timur.
Melihat tingkat penjualan yang menjanjikan itu, mulai awal tahun depan Henry berencana memproduksi Kelinci 1.000 unit per bulan. Perakitan Kelinci akan dilakukan di pabrik Garuda di Sidoarjo, Jawa Timur, yang beberapa waktu lalu sebetulnya hampir ditutup karena Henry ingin fokus pada bisnis properti.
Ridwan Gunawan, Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), mengakui bahwa setiap kelas sepeda motor memiliki konsumennya masing-masing. ”Di kelas atas, Harley Davidson juga punya peminat,” ujarnya. Karena itu ia tak terkejut bila Garuda Kelinci berhasil menjaring konsumen kelas bawah.
Namun, berdasar pengalaman puluhan tahun dalam bisnis sepeda motor, Ridwan melihat mayoritas konsumen tetap setia pada sepeda motor kelas menengah seharga Rp 9 juta hingga Rp 13 juta. Beberapa kelompok konsumen memang cukup terbuka menerima jenis dan merek sepeda motor baru. Tapi lebih banyak yang tetap fanatik pada jenis dan merek terkenal yang sudah mapan.
Ridwan mengambil contoh pengalamannya sendiri mendatangkan moped—jenis motor mungil—buatan Taiwan. Kendati moped itu bermerek Honda, tetap saja konsumen tak menaruh minat. ”Motor itu tak laku,” ujar Ridwan, yang anggota asosiasinya meliputi produsen sepeda motor merek terkenal.
Khusus untuk motor buatan Cina, ada masalah lain yang sampai sekarang masih mengganjal: layanan pasca-jualnya tergolong buruk. Sudah jadi rahasia umum, onderdil motor Cina mutunya jauh di bawah onderdil asli motor Jepang (original equipment manufacturing). Onderdil motor Cina lebih gampang aus dan rusak. Celakanya, komponen pengganti tak selalu tersedia.
Tak salah bila omelan dan sumpah serapah pengguna motor Cina tersebar luas di masyarakat. Keluh-kesah itu dituturkan Kursin, seorang pengojek sepeda motor di Tanjung Priok, Jakarta. Tahun lalu, Kursin membeli motor bebek buatan Cina. Tongkrongan motor itu tidak mengecewakan, harganya pun lebih miring ketimbang motor Jepang.
Namun, baru dua minggu dipakai, motor itu sudah rewel. Musibah ini terjadi karena Kursin terjebak banjir, sehingga mesin motor berulah dan tak bisa dihidupkan. ”Sewaktu saya bawa ke bengkel, ternyata tak ada onderdil yang cocok untuk motor itu,” ujar Kursin.
Dirundung rasa kecewa yang mendalam, Kursin akhirnya menjual si motor bebek. Di luar dugaannya, harga motor ini jatuh tajam, jauh di bawah harga pembelian dulu. Karena telanjur kecewa, walaupun ditawar murah, Kursin tetap menjual motor tersebut. Uang hasil penjualan, ditambah dana tabungan, dipakainya untuk membeli motor bekas buatan Jepang.
”Memang, seperti itulah karakter konsumen motor kita. Kalau mau motor murah, dia beli motor bekas merek terkenal,” ujar Ridwan. Bagi Kelinci, ini tentu jadi tantangan. Bila tak ingin sekadar menjadi ”kelinci percobaan”, dia mesti berupaya agar kekecewaan Kursin tak terulang pada konsumen lain.
Nugroho Dewanto, Sunudyantoro (Surabaya)
|