Sulitnya Menghadirkan Nirwana Bupati Kutai Kartanegara, Syaukani, membangun berbagai proyek mercusuar. Siapa yang menikmati? |
DI sebuah siang akhir November lalu, sebuah ketinting (perahu kecil) perlahan merapat ke Pulau Kumala, di tengah Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Setelah membayar Rp 15 ribu kepada si tukang perahu, Sulaiman, 31 tahun, bersama istri dan anaknya bergegas menuju patung Lembu Swana, yang berdiri gagah menghadap jembatan Kartanegara, penghubung utama Kota Tenggarong dan Kecamatan Tenggarong Seberang. Bersama belasan turis lokal lainnya, keluarga Sulaiman datang ke sini untuk pelesir.
Tapi, baru setengah jam mereka di sana, putranya yang baru berumur enam tahun sudah tak betah dan merengek minta pulang. "Di sini panas dan sepi," kata Sulaiman, mengungkap rasa kecewanya.
Bagaimana Sulaiman tak gundah? Semula, ia berniat mengajak keluarganya menikmati panorama Tenggarong dari kereta gantung setinggi 80 meter yang terentang sepanjang 1.298 meter di atas Sungai Mahakam. Rencana itu mesti dia urungkan karena kereta tak bergerak. Perasaannya tambah sumpek karena hasrat anaknya untuk naik kereta api mini berkeliling Pulau Kumala pun tak kesampaian, lantaran mesinnya juga lagi mengaso.
Seorang petugas di situ menuturkan, di hari biasa Pulau Kumala memang cuma dikunjungi segelintir orang. Karena itulah berbagai fasilitas yang ada tak diaktifkan. Alasannya, biaya operasionalnya kelewat mahal. "Kami rugi jika pengunjung sedikit," katanya. Tapi, di hari Sabtu dan Minggu, ujar si petugas lagi, Pulau Kumala bisa dikunjungi sekitar 500 orang. Tiket masuknya per kepala murah, cuma 2.000 perak.
Kekecewaan Sulaiman bersumber dari ambisi Bupati Kutai Kartanegara, Syaukani H.R., untuk menyulap pulau seluas 86 hektare itu menjadi daerah tujuan wisata nomor wahid di Kalimantan. Untuk mewujudkan mimpinya itu, Syaukani menggandeng Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta. Dana yang dikucurkan tak kurang dari Rp 450 miliar.
Hasilnya, dibanding tiga tahun lalu, wajah Pulau Kumala kini memang banyak berubah. Dulu di sana cuma ada alang-alang dan tumbuhan liar. Kini, antara lain telah dibangun Hotel Kumala Resort Island dengan tarif kamar Rp 400 ribu hingga Rp 1,1 juta semalam. Bagi pengunjung yang ingin menikmati keindahan pulau dari angkasa, pengelola menyewakan helikopter. Selain itu juga disediakan kapal pesiar Dragon Cruise, yang mengarungi Sungai Mahakam. Hanya, menurut seorang pegawai Kumala Resort, jarang ada pengunjung yang menaikinya. "Seingat saya, yang pernah naik helikopter cuma Pak Syaukani dan tamunya saja," ujarnya.
Syaukani beralasan, berbagai proyek itu nantinya akan sangat bermanfaat untuk masyarakat lokal, bukan semata demi kepentingan para pejabat. Di masa depan, ia juga berharap agar hasil pertanian dan pariwisata bisa menjadi sumber pendapatan utama di kabupatennya. "Minyak bumi itu kan bakal habis. Dan jika cuma bertumpu pada minyak dan gas, rakyat akan malas," ia menjelaskan.
Selain Pulau Kumala, pemerintah daerah juga mengembangkan ekowisata di Bukit Bangkirai. Untuk menambah daya tarik Kutai di mata wisatawan, pada 20-28 September lalu digelar Festival Erau 2003 dan Tari Zapin Internasional. Untuk memeriahkannya, panitia mengundang grup tari dari Malaysia, Singapura, dan Thailand. Juga diadakan festival lampion, yang khusus didatangkan dari negeri Cina. Hajatan besar tersebut lumayan sukses, berhasil menyedot ribuan pengunjung dari berbagai daerah di Kalimantan.
Buat menunjangnya, sejumlah infrastruktur akan dibangun. Salah satunya adalah pembangunan bandara internasional seluas 300 hektare, yang ditaksir bakal menelan biaya sekitar Rp 1 triliun. Pada 22 November lalu, Syaukani telah meneken perjanjian dengan kontraktor Jerman, Brohult Bijkerk Ltd.
Tak cuma itu, untuk memperlancar komunikasi, pemerintah daerah juga memasang 3.000 sambungan telepon di berbagai kecamatan. Pengembangan wilayah pedesaan pun digalakkan. Untuk ini, Syaukani telah menjanjikan akan mengucurkan dana Rp 2 miliar bagi setiap desa.
Proyek Syaukani yang lain adalah di bidang pendidikan. Tak kepalang, ia mematok tekad agar setiap siswa SD hingga SMU di kabupatennya tak perlu membayar uang sekolah sepeser pun. Ia juga bercita-cita memberi tunjangan tambahan kepada tenaga pendidik dan kesehatan dari kas kabupaten. Dananya, kata Syaukani, tengah diusahakan dari pinjaman lunak luar negeri, antara lain dari Korea Selatan dan Jerman.
Di mata Wimpy S. Tjetjep, Direktur Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral, ambisi Syaukani bukan mimpi di siang bolong. Menurut dia, dengan anggaran daerah Rp 2,45 triliun, "Kutai Kartanegara adalah kabupaten terkaya di Indonesia." Pendapatan dari minyak dan batu baranya saja mencapai Rp 1,6 triliun. Tapi Wimpy mengingatkan, untuk mewujudkannya, tak cukup hanya dengan duit dan program kerja yang bagus. Realisasi yang kena sasaran adalah hal terpenting.
Penelusuran TEMPO di lapangan menunjukkan masih banyak warga yang belum merasakan manisnya janji Syaukani. Tengok, misalnya, nasib Supriyanti, 40 tahun. Transmigran asal Blitar yang menjadi buruh tani bersama suaminya itu tinggal di Desa Teluk Dalam, Kabupaten Tenggarong Seberang.
Sebagai buruh tani, penghasilan Yanti dan suaminya tak menentu, antara Rp 100 ribu dan Rp 200 ribu sebulannya. Sementara itu, anak mereka satu-satunya sudah duduk di bangku kelas dua SMEA Negeri 17 Tenggarong Seberang. Sampai sekarang, Yanti mengaku mesti merogoh kocek tak kurang dari Rp 25 ribu tiap bulan guna membayar berbagai iuran untuk OSIS, komputer, sampai buat kesejahteraan guru. "Saya dengar, sih, sekolah gratis. Tapi kenyataannya saya mesti bayar terus," tuturnya.
Keluhan Herman, warga Desa Batuah, lain lagi. Lelaki berusia 36 tahun ini mengaku tak pernah tahu ada program pemberdayaan desa dan kucuran duit Rp 2 miliar yang digembar-gemborkan Syaukani. Yang dia ingat cuma, di suatu hari di akhir tahun 1999, Pak Bupati berjanji akan memperbaiki jalan di desanya. Dan hingga kini jalan itu masih saja berupa tanah becek.
Menanggapi berbagai kegalauan itu, Syaukani menjawab, "Saya akui ada distorsi antara program kerja dan kesejahteraan masyarakat." Tapi, menurut dia, betapapun begitu, perhatian dari pemerintahnya masih jauh lebih baik ketimbang daerah lain.
Celakanya, berbagai kekecewaan itu kini mulai mengkristal. Empat kecamatan terkaya di wilayah Kutai Kartanegara—Sangasana, Anggana, Samboja, dan Muara Jawa—ingin memisahkan diri, membentuk sebuah kabupaten baru bernama Kutai Pantai. Hal itu diungkapkan Syaifuddin D.J., koordinator tim sukses pembentukan Kabupaten Kutai Pantai. Menurut dia, niat ini dipicu karena mereka menilai Syaukani berlaku tak adil. "Pendapatan Kutai Kartanegara 60 persennya berasal dari empat kecamatan itu. Masa, jalan di sana masih terbuat dari tanah," katanya.
Ditanya soal ini, Syaukani langsung menukas, "Saya bosan mengomentari hal itu. Tanya saja ke DPRD." Ia lalu mengeluarkan ancaman: jika di sebuah desa ketahuan ada warganya yang mendukung pemekaran itu, kucuran dana pemberdayaan Rp 2 miliar akan dia setop. Titik.
Iwan Setiawan dan Rusman (Tenggarong)
|