Ular Alur dari Australia Di tengah menjamurnya penulis perempuan yang mengeksplorasi bahasa dan seks, Dewi Anggraeni justru setia pada pakem cerita yang standar. |
SNAKE
Penulis : Dewi Anggraeni
Penerbit : Indra Publishing, Australia 2002, 240 halaman
Dewi Anggraeni bukan Ayu Utami atau Nukila Amal. Ia tidak mengeksplorasi seksualitas, seperti Saman, atau mengeksploitasi bahasa, seperti Cala Ibi. Dewi, berbeda dari kecenderungan utama para penulis perempuan kontemporer di Indonesia, berangkat dari konvensi yang sudah sangat diakrabi oleh khalayak pembaca fiksi.
Ia menyuguhkan misteri dengan pakem yang standar: sesuatu yang aneh terjadi, diikuti oleh upaya untuk memahami keanehan tersebut oleh tokoh utama cerita, diselingi oleh berbagai bahaya dan kebetulan, dan akhirnya misteri pun terkuak. Tidak ada yang istimewa. Pada awalnya, gerak penceritaan bahkan terkesan agak lamban dan, sebagaimana kisah misteri lainnya dalam tradisi Stephen King, alurnya meloncat-loncat.
Teka-teki terbangun, tapi pada saat yang sama potongan-potongan puzzle-nya disediakan untuk memberikan petunjuk kepada pembaca. Semuanya serba standar. Tantangan utama untuk genre fiksi semacam ini tentu saja adalah bagaimana membuat pembaca tidak mampu melepaskan diri dari buku tersebut hingga lembar halaman yang terakhir.
Tidak semua fiksi misteri berhasil dalam hal yang satu ini, dan kegagalan pembaca untuk menebak ending cerita, yang dahulu merupakan daya tarik tersendiri dalam membaca kisah misteri, kini bisa jadi mulai menjadi pekerjaan yang rutin sekaligus membosankan bagi pencinta fiksi misteri.
Justru dalam hal inilah Dewi Anggraeni membedakan dirinya. Dalam kesetiaannya kepada pakem, ia masih piawai memainkan dawai-dawai alur ceritanya, sehingga yang tercipta bukan hanya suspense tetapi juga rajutan peristiwa yang kaya kelopak. Ada persoalan serius tentang psikologi perempuan, institusi perkawinan, etnisitas, multikulturalisme dan kosmopolitanisme yang dapat diolah dengan apik sehingga menyatu dengan misteri tanpa menjadi ornamen belaka ataupun anasir perusak aliran cerita.
Awalnya memang cuma tentang sebuah bros berbentuk ular yang terbuat dari sejenis batu mulia. Seperti juga dalam novel misteri lainnya, tidak jelas mengapa bentuk ular yang dipilih, atau apa hubungan antara jenis batu tertentu dan kemalangan yang menimpa para pemilik bros itu. Dan, barangkali, kejelasan-kejelasan ini tidak begitu mendesak untuk genre misteri. Dalam Snake pun sumber "kutukan" ternyata bukan berasal dari dalam batu bros itu sendiri melainkan dari riwayat yang berbeda.
Ular pun merupakan citraan arketipe yang sudah sangat dikenal dan kerap digunakan: ia adalah simbol godaan, bahaya, dan maut. Untungnya, bukan ini yang oleh Dewi Anggraeni dikedepankan secara terus-menerus. Bros ular itu mampu melakukan fungsi utamanya dengan baik, yaitu melecut jalannya cerita, dan memang cukup sampai di situ, atau novel ini akan menjadi satu dari setumpuk kisah misteri yang tidak bermutu.
Setelah itu, Dewi langsung menukik ke dalam jejaring peristiwa yang kompleks, membawa pembacanya menuju ke dimensi masa lampau. Tujuannya bukan untuk mencari jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan konvensional di atas melainkan untuk bertualang dalam sebuah saga keluarga yang mengasyikkan sekaligus mendebarkan.
Kita tidak hanya tenggelam dalam ketegangan tetapi juga diajak menyelam ke dalam hubungan kekeluargaan yang kompleks dan penuh rahasia, seperti dalam cerita silat meski minus adegan laga. Hasilnya, kenikmatan membaca terutama berasal dari kepiawaian membangun alur, dan bukan dari suspense. Kemampuan membangun hubungan yang fantastis tetapi masuk akal itulah yang membuat novel ini lebih daripada sebuah novel misteri semata.
Entah kita hendak memasukkan Dewi ke dalam khazanah sastra nasional yang mana. Penulis yang tinggal di Australia dan menulis dalam bahasa Inggris tetapi membaca novelnya tetap membuat kita serasa "di rumah" ini memang menjadi bagian dari suatu perkawinan tradisi yang kaya. Snake secara konsisten juga dilatarbelakangi oleh kekayaan tradisi itu dan memantulkannya kembali kepada kita melalui kisah yang disuguhkannya.
Manneke Budiman (penulis)
|