|
Jenny Mercelina Laloan Sosrodanukusumo atau populer dengan nama La Rose meninggal dunia pada Sabtu, 22 November 2003, karena penyakit kanker tulang yang dideritanya sejak 1978.
La Rose dikenal sebagai novelis, penulis buku, penjaga rubrik Cinta Sejuta Rasa Bersama La Rose di majalah Kartini, dan penulis Makna Sebuah Rumah di majalah Asri. Ia juga aktif dalam pendidikan anak dan masyarakat miskin perkotaan yang buta huruf. Puluhan novel telah diterbitkannya, antara lain Mutiara Hitam (1986), Sekuntum Teratai (1999), dan Cinta, Ambisi dan Karier. Juga beberapa buku seperti Pandangan Perempuan tentang Soeharto (1999) dan Pandangan Perempuan tentang Habibie (1999), yang ditulisnya bersama Upi Sundari.
Melalui novelet Mutiara Hitam, La Rose pernah dicap sebagai penulis pop. Tapi Paus Sastra Indonesia, H.B. Jassin, mengatakan tak menemukan apa yang disebut pop itu setelah membaca novel tersebut.
"Roman reformasi" Sekuntum Teratai merupakan hasil wawancara La Rose dengan Soeharto setelah penguasa Orde Baru itu lengser pada 21 Mei 1998. La Rose juga sempat hadir dalam malam peringatan hari ulang tahun Soeharto ke-81, pada 2002. "Soeharto bisa duduk dan makan, tapi tidak ngobrol. Beliau kerap tersenyum karena memang senantiasa tersenyum apa pun kondisi dan situasinya," cerita La Rose kepada para wartawan yang mencegatnya malam itu.
La Rose, yang lahir di Pekalongan, 22 Desember 1933, dikenal sebagai pribadi yang gigih dan pantang menyerah. Titi Said, teman sesama penulis, mengaku terkesan dengan ide La Rose yang tak pernah habis. Bagi putri ketiganya, Jane Julita, almarhum adalah perempuan yang tak penah mengeluh dan tetap aktif menulis meski didera penyakit kanker tulang. Istri Dhamar Sosrodanukusumo yang telah menunaikan rukun haji ini meninggalkan empat putri. Jenazah dimakamkan di area pemakaman keluarga di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Pusat, pada Minggu siang.
"Pertama, saya ingin tahu bagaimana rasanya masuk Istana dan, yang kedua, saya ingin bertemu Mega."
—Simwan, pria 30 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai pengumpul barang bekas, tentang alasannya ikut hadir dalam acara open house di Istana Negara pada hari Lebaran pekan lalu.
"Saya merasa seperti dieksploitasi. Saya merasa tidak bahagia."
—Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Yusril Ihza Mahendra, seperti dikutip The Jakarta Post, Kamis pekan lalu, tentang gaji pokoknya yang dinilainya rendah, tak sebanding dengan beban kerjanya.
1 Desember 1909
Deganya Alef, kibbutz (permukiman pertanian kolektif) pertama Israel, diresmikan di Palestina.
1 Desember 1965
Pemerintah Afrika Selatan menyatakan bahwa anak yang berayah warga kulit putih termasuk berkulit putih.
2 Desember 1929
Tengkorak pertama manusia Peking ditemukan di Tsjoe Koe Tien, 50 kilometer di luar Peking (Beijing).
2 Desember 1961
Pemimpin Kuba, Fidel Castro, mendeklarasikan dirinya sebagai penganut Marxisme-Leninisme yang memimpin Kuba menuju komunisme.
3 Desember 1621
Galileo menemukan teleskop.
3 Desember 1975
Laos jatuh ke tangan pasukan komunis. Republik Demokratis Laos diproklamasikan.
4 Desember 1791
Surat kabar Minggu tertua di dunia, Observer, terbit untuk pertama kalinya di Inggris.
4 Desember 1971
India bergabung dengan Pakistan Timur yang berperang menuntut kemerdekaan dari Pakistan Barat. Pakistan Timur kemudian menjadi Republik Bangladesh.
5 Desember 1893
Mobil listrik pertama dibuat di Toronto.
6 Desember 1877
Edisi pertama The Washington Post diterbitkan.
6 Desember 1933
Amerika Serikat mencabut larangan terhadap novel Ulysses karya James Joyce.
7 Desember 1877
Thomas A. Edison mendemonstrasikan gramafon.
7 Desember 1945
Microwave dipatenkan. Penemunya, Percy Spencer, secara tak sengaja mengetahui bahwa microwave bisa juga digunakan untuk memanaskan makanan.
|