Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 40/XXXII/01 - 7 Desember 2003
   
Album

La Rose, 70 tahun

Jenny Mercelina Laloan Sosrodanukusumo atau populer dengan nama La Rose meninggal dunia pada Sabtu, 22 November 2003, karena penyakit kanker tulang yang dideritanya sejak 1978.

La Rose dikenal sebagai novelis, penulis buku, penjaga rubrik Cinta Sejuta Rasa Bersama La Rose di majalah Kartini, dan penulis Makna Sebuah Rumah di majalah Asri. Ia juga aktif dalam pendidikan anak dan masyarakat miskin perkotaan yang buta huruf. Puluhan novel telah diterbitkannya, antara lain Mutiara Hitam (1986), Sekuntum Teratai (1999), dan Cinta, Ambisi dan Karier. Juga beberapa buku seperti Pandangan Perempuan tentang Soeharto (1999) dan Pandangan Perempuan tentang Habibie (1999), yang ditulisnya bersama Upi Sundari.

Melalui novelet Mutiara Hitam, La Rose pernah dicap sebagai penulis pop. Tapi Paus Sastra Indonesia, H.B. Jassin, mengatakan tak menemukan apa yang disebut pop itu setelah membaca novel tersebut.

"Roman reformasi" Sekuntum Teratai merupakan hasil wawancara La Rose dengan Soeharto setelah penguasa Orde Baru itu lengser pada 21 Mei 1998. La Rose juga sempat hadir dalam malam peringatan hari ulang tahun Soeharto ke-81, pada 2002. "Soeharto bisa duduk dan makan, tapi tidak ngobrol. Beliau kerap tersenyum karena memang senantiasa tersenyum apa pun kondisi dan situasinya," cerita La Rose kepada para wartawan yang mencegatnya malam itu.

La Rose, yang lahir di Pekalongan, 22 Desember 1933, dikenal sebagai pribadi yang gigih dan pantang menyerah. Titi Said, teman sesama penulis, mengaku terkesan dengan ide La Rose yang tak pernah habis. Bagi putri ketiganya, Jane Julita, almarhum adalah perempuan yang tak penah mengeluh dan tetap aktif menulis meski didera penyakit kanker tulang. Istri Dhamar Sosrodanukusumo yang telah menunaikan rukun haji ini meninggalkan empat putri. Jenazah dimakamkan di area pemakaman keluarga di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Pusat, pada Minggu siang.



"Pertama, saya ingin tahu bagaimana rasanya masuk Istana dan, yang kedua, saya ingin bertemu Mega."

—Simwan, pria 30 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai pengumpul barang bekas, tentang alasannya ikut hadir dalam acara open house di Istana Negara pada hari Lebaran pekan lalu.

"Saya merasa seperti dieksploitasi. Saya merasa tidak bahagia."

—Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Yusril Ihza Mahendra, seperti dikutip The Jakarta Post, Kamis pekan lalu, tentang gaji pokoknya yang dinilainya rendah, tak sebanding dengan beban kerjanya.



1 Desember 1909

Deganya Alef, kibbutz (permukiman pertanian kolektif) pertama Israel, diresmikan di Palestina.

1 Desember 1965

Pemerintah Afrika Selatan menyatakan bahwa anak yang berayah warga kulit putih termasuk berkulit putih.

2 Desember 1929

Tengkorak pertama manusia Peking ditemukan di Tsjoe Koe Tien, 50 kilometer di luar Peking (Beijing).

2 Desember 1961

Pemimpin Kuba, Fidel Castro, mendeklarasikan dirinya sebagai penganut Marxisme-Leninisme yang memimpin Kuba menuju komunisme.

3 Desember 1621

Galileo menemukan teleskop.

3 Desember 1975

Laos jatuh ke tangan pasukan komunis. Republik Demokratis Laos diproklamasikan.

4 Desember 1791

Surat kabar Minggu tertua di dunia, Observer, terbit untuk pertama kalinya di Inggris.

4 Desember 1971

India bergabung dengan Pakistan Timur yang berperang menuntut kemerdekaan dari Pakistan Barat. Pakistan Timur kemudian menjadi Republik Bangladesh.

5 Desember 1893

Mobil listrik pertama dibuat di Toronto.

6 Desember 1877

Edisi pertama The Washington Post diterbitkan.

6 Desember 1933

Amerika Serikat mencabut larangan terhadap novel Ulysses karya James Joyce.

7 Desember 1877

Thomas A. Edison mendemonstrasikan gramafon.

7 Desember 1945

Microwave dipatenkan. Penemunya, Percy Spencer, secara tak sengaja mengetahui bahwa microwave bisa juga digunakan untuk memanaskan makanan.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data