Taufiq Cari 'Pendamping' Mega |
TAUFIQ Kiemas, suami Presiden Megawati Soekarnoputri, pada bulan Ramadan ini sibuk mencari calon wakil presiden pendamping istrinya dalam pemilu tahun depan. Ketua Umum PBNU K.H. Hasyim Muzadi termasuk yang dilirik, sampai ia menemuinya di Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur, Rabu pekan lalu. "Kunjungan Pak Taufiq memang untuk mencari siapa kira-kira tokoh yang cocok mendampingi Ibu Megawati," kata orang dekatnya, Tjahjo Kumolo, yang juga Ketua Fraksi PDIP DPR.
Taufiq lalu ke Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang, berdialog dengan sejumlah tokoh masyarakat di Hotel Wijaya. Tapi ia menolak menjawab wartawan. Saat itu ia didampingi Menteri Agama Said Agil Al-Munawar, Gubernur Jawa Timur Imam Oetomo, Pangdam V Brawijaya, dan Kepala Polda Jawa Timur.
Dua hari sebelumnya, tokoh PDIP itu menemui Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung. "(Kami) tidak membicarakan koalisi, hanya ada sinyal (ke sana)," kata Sekretaris Fraksi Partai Golkar, Yahya Zaini.
ICW Versus Jacob
INDONESIA Corruption Watch (ICW) tak gentar melawan Jacob Nuwa Wea, walau berkali-kali didemo kelompok pembela Menteri Tenaga Kerja itu. "Kami tetap meneruskan laporan ke Polda Metro Jaya, soal penghinaan dan perbuatan tak menyenangkan," kata Wakil Koordinator Badan Pekerja ICW, Danang Widoyoko, Jumat pekan silam. Ia baru saja menemui wakil kelompok yang menamakan Front Pemuda Nasionalis di kantornya.
Danang pun memenuhi panggilan polisi untuk diperiksa sebagai pelapor, didampingi pengacaranya, Iskandar Sonhaji, Senin siang pekan lalu. Lima hari sebelumnya, ia melaporkan Jacob ke polisi atas tindakan kasarnya dalam acara Today's Dialog di Metro TV, 5 November tengah malam lalu. Seusai diskusi tentang dana perlindungan TKI itu, Jacob mendorong kepala Danang, yang juga pembicara.
Mungkin anggota PDIP itu jengkel lantaran Danang kerap mengkritik departemennya. Salah satunya, menyebut indikasi korupsi dalam penunjukan PT Mitra Dhana Atmharaksa, yang tak pernah direkomendasi Direktur Asuransi Lembaga Keuangan Departemen Keuangan. Padahal Mitra memperoleh bagian premi terbesar: Rp 300 ribu dari Rp 400 ribu premi yang dibayar tiap TKI. "Akan saya hadapi," ujar Jacob di Istana Negara, pekan lalu.
Beras Maut
SATU wanita tewas dan 11 orang lainnya pingsan saat massa berimpitan berebut beras sedekah di halaman Padepokan Seni, Jalan Peta, Bandung, Minggu lalu. Korban tewas adalah Enah Sukenah, 56 tahun, warga Gang Bapa Nasi RT 02/RW 01, Kelurahan Babakan Ciparay, Bandung. Awalnya, acara pembagian 50 ribu ton beras buat 7.500 warga miskin berjalan serba lancar. Didahului pidato Pangdam III Siliwangi, Mayjen Iwan Ridwan Sulanjana, dan khotbah dai kondang Aa Gym.
Namun, menginjak siang, massa makin banyak dan mereka pun saling dorong berebut rezeki. Enah pun terjatuh di tengah lautan massa. Ia sempat dilarikan ke RS Immanuel, sebelum ajal menjemput. Menurut suaminya, Momo, 60 tahun, istrinya pamit antre beras pada pukul 10.00. "Sebenarnya istri saya sudah mendapat jatah, tapi tak biasa keluar dari kerumunan," kata tukang becak ini. Kejadian serupa terjadi di Pasar Minggu, Jakarta, 7 November silam. Akibatnya, empat orang tewas, satu koma, dan puluhan lainnya luka.
Poso Bergolak Lagi
SITUASI Kota Poso, Sulawesi Tengah, kembali membara. Ribuan warga mengepung Markas Polres Poso di Jalan Pulau Sumatera, Minggu pekan lalu. Massa yang kalap juga memblokir jalur masuk utama ke kota itu, hingga transportasi trans Sulawesi putus. Satu unit motor milik aparat juga dibakar massa, sebelum polisi membubarkan demonstrasi itu sekitar pukul 17.00 waktu setempat.
Mereka menuntut polisi segera membebaskan Irwan bin Rais, warga Desa Kasiguncu, Poso Pesisir, yang ditangkap sehari sebelumnya. Insiden yang mengakibatkan korban tewas itu berkaitan dengan penyerangan ke empat desa pada 12 Oktober pekan silam. Buntutnya, polisi meringkus tiga tersangka: Hamid Sudin, Irwan bin Rais, dan Sukri. Dalam penyergapan itu, Hamid tewas ditembus pelor polisi.
Insiden lain terjadi di Kampung Ratolene, Kelurahan Kasiguncu, Poso Pesisir. Dua warga ditemukan tewas ditembak orang tidak dikenal. Korban adalah Oranye Tajoja, 60 tahun, bendahara Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah, dan Yohanis Tajoja alias Buce, sopir dan keponakan Tajoja. Padahal baru beberapa minggu Poso tenang setelah penyerangan kelompok Islam ke perkampungan warga Kristen di Kabupaten Morowali dan Poso
Senin malam lalu, situasi Poso masih mencekam. Polres memberlakukan status siaga satu, sekitar 2.000 pasukan gabungan TNI dan Polri dikerahkan. "Situasi mulai terkendali dan warga bisa melakukan kegiatan agama dengan tenang," kata Kepala Polres Poso, KBP Abdi Darma, kepada Koran Tempo, Minggu lalu.
Pro-Kontra 'Sabotase Pemilu'
PANGLIMA TNI Jenderal Endriartono Sutarto membuat kaget, Selasa pekan lalu. Kata dia, menurut laporan intelijen, ada upaya-upaya menggagalkan Pemilu 2004. Ia menunjuk contoh: mensabotase agar Undang-Undang Pemilu tak bisa dilaksanakan, dan mengajukan uji material atas undang-undang itu. "Sasarannya petugas penghitung suara, yang dapat menyebabkan pemilu terpaksa diulang," ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi Pertahanan di Gedung MPR/DPR.
Namun pernyataan itu ditentang anggota DPR, tokoh LSM, dan akademisi. Pengamat politik CSIS, J. Kristiadi, menilai pernyataan Endriartono terlalu prematur. Ia berharap masyarakat tak percaya analisis intelijen itu. "Masa, judicial review indikasi sabotase. Memang proses memperbaiki undang-undang seperti itu," katanya.
Munir, aktivis hak asasi, menganggap militer tak berhak mendesain operasi intelijen untuk mengawasi kehidupan politik masyarakat. "Bukankah militer itu sudah kita taruh di pinggir," ucapnya. Anggota Komisi Pertahanan, Chotibul Umam Wiranu, malah menilai pernyataan itu tak proporsional.
Serangan Susulan Azahari
DOKUMEN milik Azahari dan Noordin M. Top yang ditemukan polisi di Bandung mengindikasikan akan adanya serangan susulan. Dugaan itu berdasarkan tanda-tanda hasil coretan dan pengakuan Ismal dan Tohir, tersangka peledakan bom Marriott yang sudah tertangkap. "Menurut pengakuan Tohir dan Ismail, mereka berencana melakukan aksinya kembali enam bulan setelah bom Marriott meledak," kata Kepala Polri, Jenderal Da'i Bachtiar, seusai rapat bidang politik dan keamanan di Jakarta, Kamis pekan lalu.
Kepala Polda Metro Jaya, Irjen Makbul Padmanegara, menyambut pernyataan pemimpinnya itu dengan siap menjaga 12 target bom yang direncanakan Azahari tersebut. Bahkan setiap tempat vital akan terus diawasi. "Tidak hanya itu, bisa saja dari 12 itu melencengnya ke tempat lain," katanya.
Ivan Haz dan Mobil Ilegal
Kepolisian Jakarta sampai kini belum juga memeriksa Ivan Haz, 26 tahun. Putra Wakil Presiden Hamzah Haz ini dituding terlibat bisnis mobil mewah ilegal. Ihwal keterlibatan Ivan dalam bisnis itu disampaikan Yasril Ananta Baharuddin, anggota Komisi I DPR, yang membidangi pertahanan-keamanan dan hubungan luar negeri, dalam sebuah rapat dengan petinggi kepolisian, Selasa pekan silam. Anggota Fraksi Golkar ini menanyakan kasus mobil bodong (tanpa surat) yang melibatkan Ivan. Yasril mempersoalkan hal itu karena kasus tersebut terjadi pada akhir Maret 2003 tapi tak jelas penanganannya.
Berdasarkan keterangan polisi, nama Ivan muncul setelah terjadi keributan antara Andi Siun dan Akian. Andi Siun membeli sebuah mobil Mercedes-Benz tipe C-240 keluaran 2002 berpelat nomor pejabat dengan akhiran BS lewat perantaraan Akian. Harganya sangat miring, Rp 200 juta, padahal harga resminya sekitar Rp 620 juta. Andi Siun baru tahu bahwa mobilnya ilegal saat tercegat razia polisi. Setelah diperiksa, ternyata surat-surat mobil itu aspal, asli tapi palsu. Andi Siun lalu mencari Akian dan berakhir dengan baku hantam. Akian masuk rumah sakit dan mengadukan kasus ini ke polisi.
Setelah baku hantam, Andi Siun mengetahui mobil tadi berasal dari Ivan Haz. Tapi kasus ini mandek di kantor polisi. Akian belum bisa diperiksa karena sedang berobat ke luar negeri. Polisi baru memeriksa Andi. Kepala Kepolisian Jakarta, Inspektur Jenderal Makbul Padmanagara, membenarkan bahwa ini cuma kasus penganiayaan. Dia menjelaskan bahwa polisi sudah menelusuri kasus ini dan menyimpulkan bahwa mobil tersebut bukan mobil bodong. Surat-suratnya lengkap dan mobil itu dikeluarkan melalui dealer Star Motor.
Bantahan juga disampaikan Hamzah. "Berita itu fitnah. Anak saya tidak terlibat," katanya. Ivan sendiri tak bisa dikontak. Di mata Hamzah, berita itu kental muatan politiknya. Dirinya dan partainya (Partai Persatuan Pembangunan) yang sebenarnya jadi targetnya. Tapi Yasril sendiri menolak tudingan itu. "Saya menerima pesan pendek (SMS) dan saya kemudian meneruskan saja," kata Yasril.
Jobpie dan Tempo News Room
|