Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 39/XXXII/24 - 30 November 2003
   
Nasional

Episode Pisah Ranjang PKB

Puluhan kiai Tapal Kuda menyatakan keluar dari PKB, puluhan lainnya "menyeberang" ke PDIP. Masih bisa rujuk?

CAPEK juga menghadapi "kemelut keluarga" yang berlarut-larut. Setelah dua tahun didera kelelahan dan kejemuan lahir batin, K.H.R. Ahmad Fawaid As'ad Syamsul Arifin akhirnya memilih "cerai". Hal ini dicanangkan Selasa pekan lalu di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, yang menjadi miliknya. Bersama dengan 42 kiai anggota Forum Silaturrahmi Ulama se-Eks Karesidenan Besuki, ia menyatakan keluar dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ini berarti, dukungan mereka pada PKB dalam Pemilu 2004 akan di stop.

Warga nahdliyin pun tentu amat kaget. Mereka tahu, betapa kiai muda bertubuh besar dan bercambang lebat ini pernah turun langsung ke Jakarta untuk membela Gus Dur. Dengan bersorban dan bersarung, ia berjalan kaki berpanas berhujan di Jakarta bersama ribuan massa NU dari wilayah Tapal Kuda Jawa Timur, yang berunjuk rasa menentang pelengseran Presiden K.H. Abdurrahman Wahid.

Tapi masa dua tahun mengubah segalanya. Vonis talak usai silaturahmi ulama dan pengasuh pesantren sewilayah Tapal Kuda itu jelas karena mereka kecewa pada utusan pengurus PKB pusat dan daerah. Mereka sekaligus mengecam Gus Dur dan Choirul Anam yang Ketua Dewan Pengurus Wilayah PKB Jawa Timur. "Kami menganggap PKB dijalankan oleh kepemimpinan otoriter dan tak lagi menjunjung nilai-nilai akhlakul karimah," kata Kiai Fawaid. Katanya, pertemuan ini adalah tindak lanjut pertemuan 1.000 kiai di Batu Ceper, Banten, bulan lalu.

Padahal Gus Dur, sebagai Ketua Dewan Syuro PKB, terbiasa memperenteng tiap ancaman mufaraqah (pemisahan diri) dari para kiai. Pertemuan 1.000 kiai di Banten itu, misalnya, ia tuding cuma dihadiri mereka yang mengaku kiai dan lebih mementingkan uang. "Itu kan bangsanya kiai-kiai yang mau menjegal saya," ujarnya.

Kini berpatah arang, sikap para kiai berbuntut pembekuan Dewan Pengurus Cabang Situbondo lewat Surat Keputusan DPP 4 November 2003, yang diteken Gus Dur. Mereka menduga, SK ini—yang mencabut SK Kepengurusan PKB Situbondo—bertujuan menggusur Gus Fawaid selaku Ketua Dewan Syuro PKB Situbondo. Perintah pengurus pusat pun turun: mewakili pengurus pusat, dan bersama pengurus wilayah, Wakil Sekjen H. Amin Said Husni mengambil alih kepengurusan cabang Situbondo.

Kisruh bermula dari musyawarah cabang PKB Situbondo 2001. Saat itu, Kiai Fawaid dan Kiai Sofyan Miftakhul Arifin, Rais Syuriah NU Cabang Situbondo, berlomba memasukkan orang-orangnya di pengurus cabang. Kiai Fawaid akhirnya terpilih sebagai Dewan Syuro, sementara Ketua Tanfid-nya, Akik Jaman, adalah representasi Kiai Sofyan yang berada di luar struktur Partai. Pengisian jabatan se-kretaris Dewan Syuro pun ribut. Sialnya, konflik merembet ke bawah. Padahal keduanya masih kerabat. Kiai Sofyan adalah mertua K.H. Cholil As'ad Syamsul Arifin, adik lain ibu Kiai Fawaid.

"Karena sudah hampir Pemilu, pengurus pusat akhirnya membekukan kepengurusan cabang Situbondo, sampai terpilih yang baru," kata Wakil Ketua Pengurus Wilayah PKB Jawa Timur, Fathurrosjid. Ia menganggap putusan para kiai itu tidak mewakili arus bawah.

Sekretaris Jenderal PKB, Saifullah Yusuf, pun pusing. Gus Fawaid salah satu kiai muda yang cukup berpengaruh di Tapal Kuda, salah satu kantong suara NU. "Wah, mumet aku," ujarnya, menyadari bakal hilangnya suara PKB di sana.

Diduga, barisan Gus Fawaid bakal mara ke Partai Persatuan Pembangunan. Belakangan, ia tampak akrab dengan Ketua Umum PPP Hamzah Haz. Setelah sang Wakil Presiden ke Asembagus dua bulan lalu, Gus Fawaid giliran sowan ke Jakarta. "Terserah yang mau menafsirkan," katanya tertawa. "Pak Hamzah itu, selain wakil presiden, juga kader NU."

Saifullah tambah pusing setelah pekan lalu Pramono Anung mengklaim 25 kiai pengasuh pesantren di Jawa Timur juga akan menyeberang ke kandang Banteng. Tapi Wakil Sekjen PDIP itu tak mau membeberkan nama. "Enggak etis, dong," ujarnya.

Manuver Gus Fawaid itu mirip langkah ayahnya, almarhum K.H. As'ad Syamsul Arifin, yang pernah ber-mufaraqah dengan Gus Dur semasih Ketua Umum PBNU. Tapi Wakil Ketua Dewan Syuro PKB, K.H. Cholil Bisri, mengaku tenang-tenang saja. Ia menduga, yang pergi masih dapat diajak kembali. Yang ikut datang ke Asembagus pun belum tentu akan keluar dari PKB. Ibarat pasangan muda yang merajuk dan sedang pisah ranjang, katanya, "Isih iso diglembuki ben rujuk maneh (masih bisa dibujuk agar rujuk kembali)."

Hanibal W.Y. Wijayanta, Adi Mawardi (Surabaya), Mahbub Junaidi (Situbondo)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data