Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 39/XXXII/24 - 30 November 2003
   
Luar Negeri

Lintas Internasional

Pemilihan Presiden Gagal

Untuk ketiga kalinya, pemilihan presiden di Serbia dinyatakan tidak sah karena jumlah orang yang menggunakan hak pilih Ahad lalu itu hanya 2,5 juta orang, 38,5 persen dari pemilih yang terdaftar. Syarat pemilu—minimal separuh warga—tak terpenuhi, tapi kecemasan membayang. Posisi kelompok ultranasionalis pendukung bekas Presiden Serbia Slobodan Milosevic semakin kuat.

Australia

Kurdi Diusir, Howard Dikritik

Kapal perang Australia mengusir sebuah perahu berpenumpang 14 orang Kurdi asal Turki. Perahu malang yang merapat di Melville, lepas pantai Darwin, dua pekan lalu itu akhirnya merapat di Maluku. Tapi Menteri Luar Negeri Alexander Downer membela tindakan Australia. Orang-orang Kurdi itu tidak mengajukan permintaan suaka. "Kami tidak harus memproses mereka," katanya. Namun, Kamis pekan lalu, ada perkembangan baru. Salah seorang Kurdi itu telah menunjuk kamus Turki-Inggris. Ia menunjuk kata "pengungsi" kepada tentara Australia, dari situ jelaslah mereka minta suaka.

Kritik, terutama dari kalangan oposisi, menuding Perdana Menteri Howard berbohong. Bukan kebohongan pertama, kata ketua oposisi, Simon Cran. Cran bercerita tentang para pengungsi yang melempar anak-anaknya ke laut. Waktu itu, Alexander Downer mengatakan bahwa pemerintah tidak berniat memelintir hal itu. Kini, Howard mengajukan alasan lain: ke-14 orang Kurdi itu menempuh jalan masuk yang salah sebelum merapat di Melville. "Mereka masuk melalui sekitar 4.000 pulau yang dinyatakan bukan wilayah imigrasi. Jadi, kami tidak bisa memproses pencari suaka," katanya.

Turki

Bom Meledak di Sinagoga

Dua bom meledak di Sinagoga Neve Shalom dan Beth Israel, Istanbul, Turki, Sabtu pekan lalu. Jantung komunitas Yahudi itu porak-poranda: 20 orang tewas seketika, 300 luka parah—lebih dari setengahnya orang Yahudi. Turki telah menahan tiga orang, termasuk wanita bercadar.

Pemerintah Turki sudah menyebut jaringan Al-Qaidah terlibat. Sebuah surat kabar berbahasa Arab juga menerima e-mail dari Brigade Abu Hafz al-Mashri, yang mengklaim tanggung jawab, kelompok yang menyebut dirinya kawan Al-Qaidah. "Kami katakan pada Bush beserta para pengekor Arabnya bahwa mobil kematian tak berhenti di Bagdad, Istanbul, Nashriyah, Jakarta, dan sebagainya," demikian pernyataan itu.

Awalnya, pemerintah Turki menyinggung ledakan berasal dari kendaraan bermuatan bahan peledak. Bom meledak lantaran diaktifkan melalui kendali jarak jauh atau pengatur waktu. Namun, belakangan pernyataan itu dibantah. Menteri Dalam Negeri Turki, Abdulkadir Aksu, yakin itulah "karya" pengebom bunuh diri. Dari rekaman sebuah kamera keamanan, tampak seorang memarkir sebuah mobil di luar bangunan dan meninggalkannya. Tidak lama kemudian mobil itu meledak.

Palestina

Siap Berdialog dengan Israel

Perdana Menteri Palestina yang baru, Ahmed Qorei, menggelar pertemuan pertama kabinet yang baru dibentuknya, Kamis pekan lalu. Dalam pertemuan itu, seperti diberitakan AP, Qorei mengungkapkan kesediaannya bertemu Perdana Menteri Ariel Sharon dalam sebuah konferensi tingkat tinggi. Tapi, hal itu hanya dapat terjadi jika pemimpin Israel itu sudi membuat konsesi kunci, seperti mengurangi pelarangan berkunjung warga Palestina ke Tepi Barat dan Jalur Gaza, yang ditutup Israel dengan pagar pemisah.

Timor Leste

Korban-Korban Santa Cruz

Sejumlah keluarga korban peristiwa pembantaian Santa Cruz, 12 November 1991 di Dili, membentuk sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM), Rabu pekan lalu. Mereka menuntut keadilan atas hilangnya anggota keluarga mereka dalam peristiwa berdarah itu. Tuntutan diajukan kepada Perdana Menteri Mari Alkatiri dan Ketua Parlemen Nasional Timor Leste, Francisco Gueteres, dalam peringatan 12 tahun Santa Cruz di ibu kota negara yang kini lepas dari pangkuan Ibu Pertiwi itu.

Dalam mengajukan tuntutannya, mereka sempat menggelar spanduk dan poster bergambar wajah sejumlah jenderal TNI dan mantan presiden Soeharto. "Tunjukkan di mana kubur keluarga kami. Para pelaku pembantaian Santa Cruz harus diseret ke pengadilan internasional," teriak mereka. Komisi Penyelidik Nasional (KPN) menyebut, 50 orang tewas dan 96 lainnya luka berat ketika terjadi insiden berdarah 12 November 1991 silam.

Telni Rusmitantri (AFP, AP, BBC, Tempo News Room)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data