Retorika Bush, Mayat Para Serdadu Bom bunuh diri meledak di kawasan damai di Irak. Washington berencana mempercepat pembentukan pemerintah sementara Irak. |
RABU pagi pekan lalu, jalan di depan markas polisi militer Italia, Carabineri, di Nasiriyah, Irak, penuh penduduk yang berlalu-lalang. Tiba-tiba, bak adegan film aksi Hollywood, satu mobil pick-up menerobos masuk ke halaman gedung. Dari dalam mobil, seorang laki-laki memuntahkan peluru ke arah anggota polisi Italia yang menjaga gedung bagian depan. Beberapa anggota Carabineri membalas tembakan, tapi di belakang mobil itu meluncur truk yang kemudian hanya dalam hitungan detik meledak.
Bola api membubung ke udara, yang mengakibatkan bagian depan gedung berlantai tiga itu rontok dan membunuh 32 orang, termasuk 12 polisi Italia, empat tentara Italia, dan bayi berusia 10 tahun, serta 100 orang luka-luka. Kebanyakan anggota Carabineri itu adalah unit pertama yang sampai di Irak empat bulan silam, yang direncanakan akan dipulangkan ke Italia beberapa hari mendatang.
Inilah serangan kedua terburuk di Irak setelah pengeboman Masjid Imam Ali di Najaf, yang mengakibatkan 120 orang tewas pada Agustus silam. Kerusakan bangunan itu mirip hasil pengeboman Gedung Federal di Kota Oklahoma pada 1995. Bagian depan gedung itu rompal berkeping sehingga memperlihatkan ruangan dalam gedung. Hebatnya ledakan sampai menghantam jendela gedung pengadilan sekitar 800 meter dari ledakan, yang menerbangkan material bangunan menghujani pengunjung sidang. "Seperti bom nuklir. Gelombang apinya besar sekali," kata Hassam Abdul Wahid, satpam di Korps Medis Internasional, yang berkantor di dekat markas polisi Italia itu.
Di Roma, Italia, penduduk pun berduka. Padahal, dalam beberapa pekan sebelumnya televisi Italia menayangkan laporan yang menggambarkan pasukan Italia dengan ramah memberikan permen kepada anak-anak, membangun sekolah, dan memperbaiki jalan di Kota Nasiriyah. Pasukan Italia tampak santai berjalan-jalan di kota tanpa dibebani dengan topi baja di kepala, bahkan kadang terlihat tanpa menyandang senjata. Seolah mereka merasa aman berada di Kota Nasiriyah, yang mayoritas penduduknya muslim Syiah. Tapi kini bendera dikerek setengah tiang di seantero Italia.
Berbagai pertemuan, dan bahkan pertandingan sepak bola antara Italia dan Polandia, berhenti sejenak untuk mengheningkan cipta. Penduduk memenuhi gedung parlemen yang memperdebatkan penempatan pasukan Italia di Irak. "Tindakan tak bermoral mempertaruhkan nyawa ribuan pemuda Italia untuk perang preemptif Bush," kata Alfonso Pecoraro Scanio, anggota Partai Hijau. Tapi Perdana Menteri Silvio Berlusconi menolak desakan anggota parlemen dari partai oposisi untuk memulangkan 2.300 pasukan Italia dari Irak. "Kesalahan paling buruk jika kita menarik pasukan dari Irak sekarang," ujar Berlusconi.
Dari Gedung Putih di Washington, Presiden George Bush menyatakan dukanya. "Hari ini di Irak, satu anggota NATO, Italia, kehilangan beberapa putra kebanggaannya saat menjalankan tugas kebebasan dan perdamaian," kata Bush. Bush menghargai keputusan cepat Perdana Menteri Berlusconi yang menolak menarik pulang pasukan dan polisi Italia.
Namun, sehari setelah serangan di Nasiriyah itu, Jepang memutuskan menunda pengiriman 1.000 pasukan ke Irak, yang rencananya akan diberangkatkan pada akhir 2003 ini ke Nasiriyah. Penundaan itu hingga waktu yang tak ditentukan tahun depan. Itu pun jika situasi keamanan Irak terjamin. Sedangkan Presiden Korea Selatan Roh Moo-hyun buru-buru mengontak Washington untuk menyampaikan keputusannya membatasi pasokan 3.000 pasukan ke Irak. Padahal AS meminta lebih dari jumlah itu. Denmark, yang sudah mengirim 410 pasukan, menolak menambah 100 pasukan lagi.
Di Irak memang AS bergerak cepat sehari setelah pengeboman di Nasiriyah. Pasukan AS menggelar "Operasi Palu Besi" untuk memburu gerilyawan Irak, yang diperkirakan Jenderal John Abizaid, panglima operasi militer AS di Irak, ada 5.000 orang. Ledakan keras mengagetkan penduduk Bagdad usai magrib ketika pasukan AS menghujani pabrik semir rambut di selatan Bagdad dengan granat. Serangan yang sama juga dilakukan di beberapa pabrik kimia di Bagdad. Tapi pasukan AS hanya menemukan Kalashnikov, senjata umum yang dipakai rakyat Irak untuk berjaga-jaga.
Menurut Andrew Krepinevich, Direktur Eksekutif Center for Strategic and Budgetary Assessments di Washington, perlawanan pejuang Irak secara fisik tak bertujuan memaksa militer AS hengkang dari Irak. "Yang mereka (pejuang Irak) lakukan adalah meyakinkan rakyat Amerika, adalah buruk mempertahankan kehadiran militer di Irak," kata Krepinevich. Maka serangan pun, selain diarahkan ke pasukan koalisi, juga ke lembaga bantuan internasional semacam Palang Merah Internasional, perwakilan PBB, dan negara pendukung pendudukan pasukan AS. Hasilnya lumayan. Sejumlah negara pendukung pendudukan AS seperti Spanyol, Bulgaria, dan Belanda, telah mengurangi misi diplomatiknya di Irak.
Perkembangan yang memburuk di Irak membuat Washington kalang-kabut. Presiden Bush segera memanggil L. Paul Bremer III, penguasa sipil AS di Irak, dan berbicara selama dua jam di Gedung Putih. Usai pertemuan, Bush menitahkan Bremer secepatnya kembali ke Bagdad dengan membawa pesan penting ke Dewan Pemerintahan Irak: bentuk pemerintahan fungsional secepatnya. Seorang sumber di Gedung Putih menyatakan, Bremer akan mengajukan beberapa skenario untuk mempercepat pengembalian kedaulatan Irak. Padahal selama ini, dengan berbagai dalih, Washington menolak mentah-mentah tuntutan pemulihan segera kedaulatan Irak. Sekarang, kata sumber itu, AS mempersilakan 24 anggota Dewan Pemerintahan Irak mengambil dan mengimplementasi rencana yang mereka pikir paling baik. "Itu negeri mereka. Kami ingin mendorong rakyat Irak memiliki tanggung jawab yang lebih untuk negeri mereka sendiri. Mereka yang akan memutuskan," kata Bremer sebelum terbang ke Bagdad.
Salah satu skenario Bremer adalah mendirikan pemerintahan sementara yang mirip pemerintahan sementara Afganistan di bawah Presiden Hamid Karzai. Setelah terbentuk pemerintahan sementara, langkah berikutnya adalah membentuk Undang-Undang Dasar dan menetapkan pemilihan umum, yang direncanakan pada Juni tahun depan. Setelah itu, rencananya, AS akan dengan mudah mengontrol pemerintahan sementara. Tapi hingga saat ini belum ada keputusan waktu pembentukan pemerintahan sementara. "Hal itulah yang akan kita putuskan," kata Bremer.
Kehadiran pemerintahan sementara menjadi penting. Sebab, hanya dengan pemerintahan sementaralah AS bisa memperoleh dukungan lebih luas dari dunia internasional dan rakyat Irak. Tapi baik Bremer maupun Menteri Luar Negeri Colin Powell mengindikasikan tak punya rencana membubarkan Dewan Pemerintahan Irak. AS justru akan memperkecil Dewan Pemerintahan Irak dari 24 anggota dewan menjadi hanya sekitar 10 anggota dengan peran yang lebih luas. Atau skenario lain dengan mengangkat satu orang kuat yang akan memimpin Dewan Pemerintahan Irak. Repotnya, berdasarkan resolusi PBB tentang bantuan internasional untuk pendudukan AS di Irak, disebutkan bahwa napas Dewan Pemerintahan Irak hanya sampai 15 Desember, dan selanjutnya harus dibentuk pemerintahan baru.
Sementara Washington mencoba merancang sesuatu untuk Irak, dua heli Black Hawk AS jatuh di Kota Mosul, Ahad pekan lalu, dan menewaskan 17 serdadu. Pada saat yang sama badan intelijen AS, CIA, mengeluarkan dokumen yang disebut AARDWOLF. Dokumen ini berisi penilaian terhadap situasi keamanan Irak yang semakin buruk. Laporan ini tentu saja secara telak menggulung retorika klise Presiden Bush setiap kali terjadi serangan terhadap pasukan AS di Irak, bahwa AS mampu mengendalikan situasi keamanan di Irak.
Dokumen CIA itu menandaskan bahwa rakyat kebanyakan di Irak sudah kehilangan kepercayaan kepada pasukan AS dan sekutunya untuk mengendalikan serangan yang semakin meningkat frekuensi dan kualitasnya. "Sangat jelas, kebijakan pemerintah (Bush) sedang menuju akhir yang mematikan," kata Geoffrey Kem, pakar Timur Tengah, kepada Nixon Center di Washington.
Raihul Fadjri (AP, USA Today, LA Times, New York Times)
|