|
Yassin al-Kadi, seorang biliuner dari Jeddah, merasa "gatal". Dia tak terima namanya dibawa-bawa dalam urusan terorisme internasional, apalagi dimasukkan ke daftar teroris versi Washington. Ia pernah terlibat organisasi bantuan kemanusiaan Muwaffaq—sekarang telah ditutup. Tapi ia yakin itu bukan alasan yang cukup untuk membekukan asetnya di Eropa dan Amerika.
Bulan lalu, melalui pengacaranya dari firma hukum Peter Carter Ruck, London, dia melayangkan surat keluhan ke pengadilan di Luksemburg. Menurut pengacaranya, hak asasinya dilanggar karena ia tak diberi kesempatan membela diri sebelum keputusan soal aset dikeluarkan. Dia juga mengajukan gugatan ke sebuah newsletter kecil, Africa Confidential, yang sempat memberitakan dirinya.
Yassin bukan satu-satunya konglomerat Saudi yang ingin membersihkan namanya. Daftar teroris, individu dan kelompok, berisi banyak nama dan organisasi kemanusiaan Saudi. Dan ini membuat pusing pemerintah Kerajaan Saudi dan menyebabkan ketegangan hubungan mereka dengan Washington. Tapi mereka yang merasa jadi korban pantang mundur.
Hujan gugatan dari negeri petrodolar ini dilakukan bersamaan dengan gugatan terhadap mereka di pengadilan Amerika. Keluarga korban tragedi 11 September mengajukan tuntutan ganti rugi sebesar US$ 1 triliun kepada para pengusaha Arab Saudi dan bangsawan kerajaan yang dituduh sebagai pemasok dana untuk serangan teroris. Tak aneh, para konglomerat petrodolar dan keluarga bangsawan juga mau habis-habisan membersihkan namanya. Apalagi kekayaan mereka telah dibekukan.
Orang-orang kaya Saudi ini memilih London sebagai tempat penggugatan karena kota ini dikenal ramah terhadap para korban kasus pencemaran nama baik, tak peduli berapa pun uang yang harus mereka rogoh. Yang penting, nama mereka bersih kembali dan harta pun kembali di tangan. Bayangkan saja, Carter Ruck, yang mewakili Yassin, adalah firma hukum yang terkenal sangat mahal. Dengan sistem no win, no fee, mereka bisa minta bayaran 700 poundsterling per jam. Bahkan, dalam kasus terakhirnya, mereka meminta bayaran 1 juta pound untuk kemenangan gugatan ganti rugi sebesar 60 ribu pound.
"Orang-orang Arab ini sedang menginvasi pengadilan," ujar seorang pengacara di London. "Dan orang-orang ini adalah biliuner petrodolar," ia menambahkan.
Mantan Kepala Bank Komersial Nasional Arab Saudi yang kemudian menjadi bankir The House of Saud, Khaled bin Mahfouz, adalah salah satu penggugat. Menyewa Kendall Freeman, dia menggugat The Mail on Sunday untuk artikel Oktober tahun lalu yang berjudul "Bankir Bin Ladin di Texas Menghantui Bush." Berdua dengan anaknya, Abdulrahman, dia juga melemparkan gugatan ke mantan ahli intelijen Prancis, Jean-Charles Brisard, yang menulis buku Forbidden Truth: US-Taliban Secret Oil Diplomacy dan The Failed Hunt for Bin Laden. Kebetulan, Brisard juga menjadi ketua investigasi tim pengacara korban tragedi 11 September.
Lewat pengacaranya di Amerika, Khaled mengakui bahwa dia memang menyumbangkan US$ 250 ribu untuk mendukung perlawanan Mujahidin Afganistan melawan pasukan pendudukan Uni Soviet pada 1980-an. Tapi dia menyangkal tuduhan Brisard bahwa dia merupakan pendukung utama Usamah bin Ladin.
Konglomerat Arab lainnya, Yousef Jameel dari Abdul Latif Jameel Group, menambah daftar pengusaha Saudi yang melayangkan gugatan. Pemegang franchise Toyota terbesar yang bermarkas di Jeddah ini juga menggunakan jasa Carter Ruck untuk melakukan gugatan. Korbannya adalah Wall Street Journal Eropa dan The Sunday Times. Sedangkan adiknya, Mohammed, dan Abdul Latif Jameel Co. Ltd. menggugat Wall Street Journal untuk artikel Februari 2002.
Wall Street Journal membuat laporan bahwa otoritas Saudi memonitor sekitar 150 rekening bank yang diduga digunakan dalam tindakan terorisme. Termasuk di daftar ini keluarga Jameel dan Al-Rajhi. Akibat artikel-artikel tentang mereka, menurut keluarga Jameel, perusahaan mereka kemudian diawasi oleh otoritas moneter Saudi atas permintaan Amerika. Sementara keluarga Jameel menyewa Carter Ruck, keluarga Al-Rajhi, yang memiliki Al-Rajhi Banking & Investment Corporation, mengunakan Eversheds untuk melakukan gugatan. Rentetan sidang gugatan dari negeri petrodolar pun akan segera digelar.
Purwani Diyah Prabandari (The Guardian, Newsweek)
|