Teroris di Rumah Sendiri Saudi pernah menyangkal menjadi "rumah" kelompok Usamah bin Ladin pasca-Afganistan. Sekarang, kelompok itu mengancam di depan mata. |
KOMPLEKS Al-Muhaya di Riyadh masih suram. Beberapa orang masih lalu-lalang, mengais sisa-sisa reruntuhan, siapa tahu masih ada korban yang belum ditemukan. Seorang warga yang selamat menunjuk rumahnya yang telah rata dengan tanah. "Itu rumah saya, hingga kemarin," ujarnya pekan lalu, beberapa hari setelah ledakan pada Sabtu sebelumnya. "Keluarga saya selamat, tapi tetangga saya tewas," ia menambahkan.
Inilah Ramadan terkelam dalam sejarah modern negeri penjaga Kota Suci, Arab Saudi. Rentetan kekerasan mewarnai berbagai kota beberapa pekan terakhir. Bahkan tanah haram, Kota Suci Mekah, tak kebal dari pertumpahan darah. Baku tembak antara aparat keamanan dan anggota kelompok militan meledak di Mekah, Riyadh, maupun Jeddah. Di Mekah, anggota militan yang mencoba lari dari kejaran aparat justru meledakkan dirinya.
Arab Saudi adalah arena sebuah pertempuran memuakkan. Akibatnya jelas: gedung, fasilitas kota, rumah yang porak-poranda, warga yang hangus dan berdarah. Tapi sosok si petarung tetap sebuah misteri besar. Terakhir, bom berkekuatan besar meluluh-lantakkan puluhan rumah di Kompleks Al-Muhaya. Setidaknya 17 orang tewas dan 122 lainnya cedera dalam insiden di Riyadh itu. Mereka, para korban, muslim warga Libanon, Mesir, Sudan, dan Saudi sendiri—di samping seorang Amerika dan seorang Kanada terluka.
Tentu, banyak tebak-tebakan di balik misteri si petarung yang tak kelihatan batang hidungnya. Sebagian warga menduga CIA di belakang serangan itu. Alasannya, beberapa hari sebelum serangan, kedutaan Amerika dan Inggris telah mengeluarkan peringatan akan adanya serangan. Tapi banyak pejabat Arab sendiri menyangkal jalan pikiran ini, seraya mengacungkan telunjuk ke kelompok Al-Qaidah, pimpinan Usamah bin Ladin, asli warga Saudi. Adel al-Jubeir, penasihat untuk urusan luar negeri Putra Mahkota Pangeran Abdullah Ibn Abdul Aziz, menyebut: 12 hingga 18 orang anggota sel Al-Qaidah melakukan serangan ke Kompleks Al-Muhaya.
Investigasi yang menunjukkan siapa sang teroris masih jauh dari selesai. Ada sebuah VCD yang menunjukkan beberapa aktivis memuji Usamah, seraya mengancam nonmuslim. Tak lebih dari itu. Namun, menurut seorang pejabat Amerika, Al-Qaidah telah menjadikan Saudi sebagai garis depan perjuangan mereka, bersama dengan Irak. "Afganistan dan Uni Soviet adalah menu pembuka," ujarnya. Lalu apa yang ingin mereka raih lewat teror?
Yang jelas, kejadian ini telah mendekatkan Amerika dengan pemerintah Kerajaan Saudi, dua sosok yang beberapa bulan belakangan agak renggang. Terang-terangan Deputi Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Richard Armitage, menilai bahwa itulah serangan untuk menentang pemerintah dan rakyat Saudi. Dari pihak Kerajaan sendiri, muncul suara senada. "Tujuan utama serangan ini adalah kehancuran Kerajaan," kata Pangeran Turki Al-Faisal, Duta Besar Saudi untuk Inggris. Kerajaan merasa inilah serangan terhadap mereka. Sebab, jarak antara sasaran dan kantor Raja Fahd serta Pangeran Abdullah cuma berselisih satu kilometer.
Usamah sendiri punya sejarah panjang ketidaksepahaman dengan Kerajaan. Ia, orang Wahabi konservatif, menuduh rezim Riyadh tidak Islami dan terlalu dekat dengan Barat, terutama Amerika.
Pada tahun 1990-an, Usamah mengeluarkan fatwa yang menyeru anggotanya untuk menahan diri tidak menyerang di tanah Saudi. Ini karena hasil industri minyak Saudi yang masih diperlukan untuk revolusi Islam. Tapi keputusan Kerajaan untuk membantu Amerika menginvasi Irak telah mengubah semuanya. Untuk pertama kalinya Usamah menyeru secara terbuka supaya menyerang di dalam tanah Saudi. Serangan ini merupakan tanda yang sangat jelas bagi penguasa bahwa Al-Qaidah mau dan bisa melakukan serangan di jantung Kerajaan, meskipun intelijen Saudi telah bekerja sama dengan CIA.
Al-Muhaya adalah sebuah titik "liberal" yang mendapat perlakuan khusus. Di sana gaya hidup Barat menjadi gaya hidup warganya. Bahkan orang-orang Saudi sendiri masuk ke kompleks ini kalau mereka mau kongko di kafe yang tidak memisahkan laki-laki dan perempuan. Atau juga kalau mereka mau minum alkohol di tempat terbuka. Selain itu, di website-nya, Al-Qaidah menuduh warga yang tinggal di Al-Muhaya bekerja untuk CIA dan FBI. Usamah bin Ladin telah berjalan jauh. Mungkin ia telah pulang kampung, mungkin pula tidak. Yang terang, pihak Kerajaan merasa melihat bayangannya.
Purwani Diyah Prabandari (AP, Arabnwes.com, Guardian, CBS)
|