Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 39/XXXII/24 - 30 November 2003
   
Kriminalitas

Letupan dari Senayan

Anak Wakil Presiden Hamzah Haz sempat dikaitkan dengan kasus jual-beli mobil mewah yang diduga ilegal.

TIBA-TIBA nama Ivan Haz, 26 tahun, melambung lagi. Sekian bulan silam nama salah satu putra Wakil Presiden Hamzah Haz ini muncul dari mulut Ibra Azhari, yang dijerat kasus narkotik dan obatberbahaya. Ivan sempat disangkutkan dengan perkara Ibra, kendati takpernah terbukti sampai kini. Nah, pekan lalu, Ivan Haz kembali disebut khalayakramai. Kali ini dalam urusan jual-beli mobil mewah yang didugabodong alias tanpa dilengkap surat yang sah.

Kabar itu meletup pertama kalinya di gedung parlemen, Senayan, dalamrapat kerja para petinggi kepolisian dengan Komisi Pertahanan dan KeamananDPR Rabu pekan silam. Seorang politikus Partai Golkar, Yasril AnantaBaharuddin, mempertanyakan dugaan keterlibatan Ivan Haz dalam bisnis mobil ilegal."Sebelum rapat, saya mendapat informasi tentang hal itu. Saya cumameneruskan," kata Yasril. Saat itu, Kepala PoldaMetro Jaya, Irjen Makbul Padmanagara, membenarkan adanya kasus tersebut,tapi masih dalam proses penyelidikan. Status Ivan belum menjadi tersangka.

Usut punya usut, mobil yang menjadi pusat perkara berupaMercedes-Benz tipe C 240 keluaran tahun 2002 .Mercy bernomor polisi B 2145 BS ini telah dijual Ivan kepada Andi Siun lewat seorangperantara bernama Akian. Di show room, jenis ini biasa dijual Rp 600 juta, tapidalam transaksi tersebut hanya dihargai Rp 200 juta.

Masalah muncul ketika Andi Siun yang sedang mengendarai Mercy ituterkena razia polisi. Setelah diperiksa, ternyata surat tanda nomor kendaraan(STNK) yang dipegangnya aspal alias asli tapi palsu. Tentu saja Andi Siun ngototbahwa mobilnya itu resmi karena dibeli dari Ivan.

Agar polisi percaya, akhirnya Andi Siun mencari Akian. Tapi, karenakesal, begitu ketemu di kawasan Roxy, Jakarta Barat, ia langsung menghajar Akian.Akibatnya cukup serius. Akian mengalami luka di tubuh serta gegar otak, dansempat dirawat di Rumah Sakit TNI AL Mintohardjo, Jakarta, selama beberapahari. Tak terima atas perlakuan ini, Akian lalu melaporkan kasus penganiayaan ituke polisi.

Kasus itu kini masih ditangani polisi. Tapi, menurut MakbulPadmanagara, perkaranya tidak berkaitan denganjual-beli mobil bodong. "Ini adalahlaporan penganiayaan," katanya.

Begitu pula pernyataan Ajun Komisaris Besar Polisi Boy Rafli, KepalaUnit Pencurian Kendaraan Bermotor Polda Metro Jaya. "Sampai hari ini belumada laporan soal itu (Ivan). Kuncinya mungkin di Akian. Sampai sekarang kamibelum bisa memeriksa Akian karena katanya sedang berobat ke luar negeri,"ujar Boy.

Anehnya, sebagai tersangka kasus penganiayaan, Andi Siun justrudiperiksa di satuan pencurian kendaraan bermotor. Menurut Boy, pihaknyahanya menjalankan perintah pimpinan. "Soal pemeriksaan itu wewenangpimpinan. Pimpinan yang membagi. Mungkin beliau melihat satuan lain sedangmenangani banyak kasus," ujarnya.

Andi Siun sendiri memilih bungkam. Setelah diperiksa sejak pukul 16.00,Rabu pekan lalu, lelaki berbadan kekar ini dibawa ke ruangan Boy pada pukul22.00. Di tempat itu sudah menunggu Direktur Reserse Kriminal Polda Metro Jaya,Komisaris Besar Mathius Salempang, yang malam itu mendadak berkunjung kesatuan tersebut.

Sekitar 20 menit kemudian, Andi Siun, yang saat itu berkemeja putihlengan pendek dan dipadu celana jins, keluar. Ia langsung menuju taksi yang sudahmenunggunya sejak siang dengan argometer yang telah menunjuk angka Rp 116ribu. "Enggaklah, enggaklah," ujarnyaketika ditanya ketennya dalam pembelian mobil mewah yang diduga ilegal itu.

Bukan cuma dalam kasus tersebut nama Ivan Haz disebut. Sebelumnya,dia juga terlibat dalam sengketa mobil dengan jenis yang sama, Mercy tipe 240,dengan nomor polisi B 17 WQ atas nama Iskandar Syakur, kawan Ivan. Suatuketika Ivan "meminjam" mobil Mercy itu. Hanya, belakangan mobil keluarantahun 2000 itu dijual Ivan kepada Wahid Karwani seharga Rp 200 juta. Tentu sajaIskandar kelimpungan. Ketika dimintai tanggung jawab, Ivan selalumengelak. Akhirnya Iskandar menyandera sebuah mobil BMW B 9 HZ milik Ivan.

Meskipun BMW miliknya sudah disita, Ivan tidak kunjung menyelesaikanurusannya. Akibatnya, Iskandar membawa masalah ini ke Polsek Pancoran,Jakarta Selatan.

Setelah ditangani polisi, Ivan baru bersedia menyelesaikan kasusnya. Ivanmenulis surat pernyataan di atas kertas bermeterai dan menyerahkan kepadapolisi agar Iskandar dapat mencabut tuntutannya. "Surat perjanjiannya dibuat disuatu tempat dan kita hanya menerimanya. Setelah itu kasusnya selesai," kataInspektur Satu Saenan Lubis, Kepala Unit Reserse Polsek Pancoran. Isi suratperjanjian itu, Ivan bersedia mengembalikan uang Rp 200 juta kepada Karwani.Pengaduan Iskandar No. LP/348/K/vi/2002 tanggal 6 Juni 2002 kepada polisi pundicabut dan mobil BMW miliknya dikembalikan.

Mobil yang menjadi sengketa itu, menurut MakbulPadmanagara, tidak bodong. Surat-suratnyakomplet dan dikeluarkan oleh dealer StarMotor, Jakarta. Begitu pula dengan Kurnia, saudaraIskandar. "Mungkin karena Ivan lagi kepepet dan butuhuang cepat, mobil milik Iskandar itu dijual," kata Kurnia.

Dilihat dari harganya yang murah, dua mobil Mercy yang sempat menyeretnama Ivan Haz cukup mencurigakan. Apalagi belakangan ini bisnismobil hasil penyelundupan memang sedang kambuh lagi. Ini juga diakuioleh sumber TEMPO di Polda Metro Jaya. Mobil itu biasanya dibeli dariSingapura dengan harga yang amat murah, lalu dibawa ke Jakarta melewati sejumlahpintu masuk. Agar kelihatan baru, mobil bekas ini dipoles dulu di bengkel sebelumdilempar ke pasar.

Namanya juga mobil selundupan, tak ada faktur pembeliannya sehinggasulit mendapatkan buku pemilik kendaraan bermotor (BPKB). Paling banter,mobil semacam itu hanya dilengkapi STNK palsu. Jadi, kalau polisi jeli, dengangampang pemilik mobil tersebut ditilang dan mobilnya disita. Karena merasatelah membeli secara sah, sang pemilik kerap marah-marah kepada penjual bilamobilnya disita polisi. Apalagi jika ia sebelumnya dijanjikan oleh penjualbahwa pengurusan BPKB-nya akan gampang.

Tapi benarkah Ivan Haz terlibat bisnis semacam itu? Ayahnya, WakilPresiden Hamzah Haz, membantahnya. "Tidak ada anak saya yang terlibat," ujarHamzah Haz. Di mata dia, berita itu kental muatan politiknya. Dirinya danpartainya (Partai Persatuan Pembangunan) yang sebenarnya jadi targetnya.

Ketika ditemui TEMPO saat mengadakan acara bukapuasa bersama di Kantor Pusat PPP, Jumat pekan lalu, Hamzahenggan menjelaskan lebih jauh. Dia menyarankan agar soal ituditanyakan langsung ke polisi. Yang pasti, "Itu semua fitnah," katanya.

Hal sama dikemukakan oleh Amir Sannang, staf pribadi Wakil Presiden.Menurut dia, sulit dipercaya jika Ivan Haz terlibat dalam bisnis seperti itu.Soalnya, Hamzah tak pernah lalai mengawasi dan mengarahkan anak-anaknya.Khususnya sembilan anak dari istri pertamanya. Ivan sendiri adalah anak lelaki bontot.

Sejak dulu, kata Amir, Hamzah punya kebiasaan mengumpulkan mereka dirumahnya di Jalan Tegalan, Matraman, Jakarta Pusat, saban Jumat. Merekadiajak salat Jumat dan dilanjutkan makan siang bersama. Kemudian Hamzahmenggiring anaknya ke ruang tamu dan pintunya ditutup. Tak ada orang lain yang hadir,termasuk istrinya. Saat seperti itulah Hamzah menumpahkan perhatiannyakepada anak-anaknya. "Semacam evaluasi,"tutur Amir.

Meskipun hubungan mereka sangat dekat,anak-anaknya juga dilarang datang ke kantor Hamzah Haz.Kebiasaan ini, menurut Amir Sannang, dijaga sejakHamzah masih menjabat Menteri Negara UrusanInvestasi/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal sampai wakil presiden.

Dari Ivan Haz sendiri tak ada jawaban. TEMPO sudah mengirim pertanyaankepadanya lewat Amir Sannang, tapi tidak dijawab. Persoalannya, menurutAmir, sudah selesai. "Semua kabar itu tak benar. Kapolda kan telah bicara bahwamobil itu tidak bodong," katanya.

Hanya secuil keheranan yang tersisa, kenapa letupan dari Senayan itubegitu cepat lenyapnya.

Agus S. Riyanto, Endri Kurniawati, Juli Hantoro, Sapto Yunus, Muchammad Nafi (Tempo News Room)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data