Keluarga Istana Sebaiknya Mundur |
Perlukah putra Presiden Megawati mundur dari proyek pembangunan pusat niaga Kemayoran? (12-17 November 2003) | | Ya |  | | 79,4% | 525 | | Tidak |  | | 18,5% | 122 | | Tidak tahu |  | | 2,1% | 14 | | Total | 100% | 661 |
Menteri Sekretaris Negara Bambang Kesowo menggelar konferensi khusus pada 7 November 2003 lalu, berkaitan dengan tudingan korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam proyek pembangunan pusat niaga di kawasan Bandar Kota Baru, Kemayoran. Dalam proyek itu ada nama Mohamad Rizki Pratama, putra Presiden Megawati Soekarnoputri.
Rencananya, proyek itu akan dibangun oleh PT Teda Pratama Nusantara. Di perusahaan inilah Pratama duduk sebagai wakil komisaris, yang lalu menimbulkan kecurigaan adanya patgulipat. Kesowo membantah keras tudingan adanya campur tangan keluarga Istana dalam soal ini. "Tidak ada. Itu saya jamin karena saya yang memutuskan," kata Kesowo.
Namun tak semua orang sepaham dengan Kesowo. Ikut terlibatnya keluarga Istana dalam suatu proyek, senormal apa pun prosedurnya, tak bisa membendung tudingan nepotisme. Karena itu, mayoritas responden menyarankan Pratama mundur dari proyek tersebut.
Indikator Pekan Ini:
"Tangkap calo dan dapatkan hadiah langsung Rp 220 ribu dan tiket KA mudik." Begitulah isi spanduk yang dipasang mencolok di depan gedung pemesanan tiket PT Kereta Api Indonesia di Jalan Juanda, Jakarta. Pesannya jelas: ini semacam sayembara bagi siapa saja untuk ikut memberantas calo.
Program untuk memberantas praktek percaloan itu bukan yang pertama. Tahun-tahun sebelumnya PT Kereta Api juga melakukan hal serupa. Namun selama ini masih banyak penumpang yang kecewa dan akhirnya menggerutu. Mereka tak mendapat tiket mudik, sementara banyak calo yang tetap melenggang aman di depan mata.
Apakah cara pemberian hadiah itu memang tak cukup efektif menekan praktek percaloan? Bagaimana sikap Anda? Kami tunggu pendapat Anda di www.tempo.co.id.
|
|
| |
|
|
| buatan Radja|endro |
Majalah
Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

|
|
| |
|
|
|
|