Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 39/XXXII/24 - 30 November 2003
   
Indikator

Keluarga Istana Sebaiknya Mundur


Perlukah putra Presiden Megawati mundur dari proyek pembangunan pusat niaga Kemayoran?
(12-17 November 2003)
Ya
79,4%525
Tidak
18,5%122
Tidak tahu
2,1%14
Total100%661


Menteri Sekretaris Negara Bambang Kesowo menggelar konferensi khusus pada 7 November 2003 lalu, berkaitan dengan tudingan korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam proyek pembangunan pusat niaga di kawasan Bandar Kota Baru, Kemayoran. Dalam proyek itu ada nama Mohamad Rizki Pratama, putra Presiden Megawati Soekarnoputri.

Rencananya, proyek itu akan dibangun oleh PT Teda Pratama Nusantara. Di perusahaan inilah Pratama duduk sebagai wakil komisaris, yang lalu menimbulkan kecurigaan adanya patgulipat. Kesowo membantah keras tudingan adanya campur tangan keluarga Istana dalam soal ini. "Tidak ada. Itu saya jamin karena saya yang memutuskan," kata Kesowo.

Namun tak semua orang sepaham dengan Kesowo. Ikut terlibatnya keluarga Istana dalam suatu proyek, senormal apa pun prosedurnya, tak bisa membendung tudingan nepotisme. Karena itu, mayoritas responden menyarankan Pratama mundur dari proyek tersebut.





Indikator Pekan Ini:
"Tangkap calo dan dapatkan hadiah langsung Rp 220 ribu dan tiket KA mudik." Begitulah isi spanduk yang dipasang mencolok di depan gedung pemesanan tiket PT Kereta Api Indonesia di Jalan Juanda, Jakarta. Pesannya jelas: ini semacam sayembara bagi siapa saja untuk ikut memberantas calo.

Program untuk memberantas praktek percaloan itu bukan yang pertama. Tahun-tahun sebelumnya PT Kereta Api juga melakukan hal serupa. Namun selama ini masih banyak penumpang yang kecewa dan akhirnya menggerutu. Mereka tak mendapat tiket mudik, sementara banyak calo yang tetap melenggang aman di depan mata.

Apakah cara pemberian hadiah itu memang tak cukup efektif menekan praktek percaloan? Bagaimana sikap Anda? Kami tunggu pendapat Anda di www.tempo.co.id.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data