Hutan, Cermin, dan Filsuf Goethe Institut Jakarta memamerkan karya-karya Stefan Moses. Dia salah seorang fotografer terpenting Jerman yang dianggap mampu menangkap spirit manusia Jerman. |
Apakah arti hutan bagi seorang perenung?
Di Jawa, kisah wayang sering menggunakan metafor hutan sebagai tempat menempa diri. Ketika anak-anak Pandu terancam pembunuhan, mereka mengungsi ke belantara angker bernama Wanamarta. Mereka membersihkan pohon-pohon dan menghadapi marabahaya. Penderitaan menggembleng mereka. Sampai kini ungkapan babat alas wanawarta akan mengingatkan kita pada Pandawa yang tahan uji menghadapi kepahitan, dan inilah yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari orang Jawa. Di Jerman, mungkin hutan memiliki makna yang lebih dalam.
Lihatlah foto itu. Di tengah rimba Heidelberg, tahun 1983, berdirilah seorang Hans-Georg Gadamer pada usianya yang ke-83. Seluruh rambutnya memutih, ia mengenakan kemeja putih, dasi hitam, kaki kanannya menopang pada sebuah pokok pohon yang tertebang. Tangan kirinya memegang tongkat. Gadamer dikenal sebagai pemikir yang sangat prihatin terhadap dominasi teknologi yang dianggapnya memerosotkan kemampuan pemaknaan manusia. Tentu, filsuf yang meninggal dalam usia 102 tahun ini (Maret tahun lalu) saat dipotret tengah tak merenungkan hal itu. Namun keningnya berkerut. Apakah arti potret diri di hutan bagi seorang Gadamer?
Itulah sekilas pertanyaan yang muncul saat menyaksikan berbagai rangkaian foto filsuf kampiun Jerman hasil rekaman Stefan Moses yang digelar di Goethe Institut, Jakarta. Moses, kini 75 tahun, adalah salah satu fotografer terpenting Jerman. Setahun lalu, Museum Foto Munchner Stadtmuseum bekerja sama dengan Goethe Institut Inter Nationes mengadakan pameran restropeksinya bertema Deutsche Vita. Materi pameran itu kemudian dikelilingkan ke pelbagai Goethe Institut, termasuk di Jakarta. Salah satu seri terkenal foto Moses yang dapat kita saksikan adalah Die Grossen Alten im Wald (Orang-Orang Tua di Hutan).
Antara tahun 1963-1964 dan tahun 1980, Moses membawa banyak filsuf, novelis, jurnalis senior, ke hutan lalu memotretnya. Di samping Gadamer, ada Heinrich Boll, Hannah Hoch, dan Gunter Grass. Mereka berpose di antara kulit-kulit kayu.
Menurut ahli filsafat kelahiran Jerman, Frans Magnis-Suseno, bagi orang Jerman, hutan adalah sesuatu yang suci dan misterius. "Pada abad kesembilan, pasukan Jerman mengalahkan pasukan Romawi di hutan," katanya. Ahli Marxis itu mengingat betapa banyak lagu masa kecil Jerman tentang hutan. Hutan membuat kita kerasan; keluarga-keluarga Jerman gemar berjalan-jalan di hutan-hutan kecil.
Yang menarik, bagi Moses, seri para pemikir tua dilihatnya sebagai kelanjutan dari seri potretnya tentang dunia anak-kanak. Moses memulai karier fotografinya dengan me- motret anaknya, Manuel, pada 1965, saat Manuel berusia enam tahun. Sang bocah adalah hasil perkawinannya dengan seniwati Madga Junker. Manuel telanjang bulat bermain pasir, berjumpalitan di tikar, bermain kucing, menatap laut dari kaca rumah yang berembun, naik tangga kayu ke genting pondok. Ketika tahun 1971 berkelana ke Israel, Moses secara khusus juga memotret Israels kinder, anak-anak di pinggir jalan Tel Aviv, Nazareth, Ramallah.
Moses menganggap bahwa ada sebuah hubungan penting antara anak-anak dan keuzuran. Keduanya menunjukkan kenisbian. Karena itu, dapat dipahami jika saat memotret para seniman Jerman, Moses kerap menyuruh mereka mengenakan aneka topeng-topengan kertas, plastik, koran, atau dedaunan kering. Itu mungkin mengingatkannya pada polah anaknya saat main topeng kucing, topeng monyet. Lihatlah bagaimana Maria Lassing. Kaca matanya ditempeli kembang, Meret Oppenheim membungkus tubuhnya dengan gulungan kain, sementara perupa Otto Dix melingkari matanya dengan gagang gunting. Menyegarkan melihat bagaimana Moses memperlihatkan hubungan antara permainan kanak-kanak dan permainan identitas orang dewasa.
Selain hutan dan topeng, bagian yang paling menarik adalah seri foto Selbs im Spiegel (Diri di Dalam Cermin). Moses mengajak filsuf tua pada tahun 1964 seperti Karl Jasper dan Ernst Bloch untuk difoto dalam usia 80-an di hadapan cermin. Mereka seolah menatap misteri pikirannya masing-masing. Diri adalah konsep yang problematik dalam filsafat. Siapakah aku? Bentukan sosial, perkembangan pribadi yang murni, atau adakah campur tangan ilahi di dalamnya? Apakah yang disebut Cogito? Yang menarik, Moses memberikan timer kepada para filsuf ini. Mereka diberi kebebasan menentukan kapan bayangan diri sendiri di cermin mereka anggap paling tepat momennya direkam kamera.
Agaknya Moses sengaja memilih para filsuf yang memiliki pandangan manusia yang khas. Ernst Bloch (meninggal 1977) dikenal sebagai si bijak dari Tubingen. Ia seorang ateistik, tapi pemikirannya tentang manusia dan harapan justru banyak memberikan inspirasi bagi para teolog. "Seorang Marxis dengan Alkitab di tangannya" demikianlah sebutan baginya. Manusia, bagi Bloch, adalah homo abscondus, suatu keberadaan eksperimental yang terbuka, yang belum menemukan keberadaan sebenarnya dan terus-menerus dipenuhi kemungkinan baru, harapan baru mencari pemenuhan dirinya.
Akan halnya Jasper (meninggal 1969), yang terkenal pemikirannya akan adanya sandi-sandi transendensi yang tersembunyi di dunia ini. Manusia, menurut dia, demi penerangan batinnya, harus terus-menerus berjuang menemukan sandi-sandi yang tersembunyi di dalam cinta, kegagalan, penderitaan, perjuangan, dan kesalahan. Theodor W. Adorno (meninggal 1969) adalah tokoh mazhab Frankfurt yang pesimistis terhadap modernitas. Sedangkan Carl Off (meninggal 1982) adalah komposer yang populer karena karyanya yang berjudul Carmina Burana. Kantata ini berkisah tentang anggur, cinta, dan wanita berdasarkan manuskrip bahasa Latin di pertapaan Benedictin Beuren pada tahun 1280 (juga digunakan sebagai ilustrasi musik serial televisi populer Xena, Warrior Princess, yang ditayangkan di televisi Indonesia).
Karl Rahner (meninggal 1984), teolog terkenal dengan pendapatnya tentang Kristen anonim. Sejak Gereja mengakui ada keselamatan di luar Kristen, menurut Rahner, orang-orang non-Kristiani akan selamat sejauh mereka hidup penuh ketulusan terhadap Tuhan. Mereka, dalam istilah Rahner, adalah anonymous Christians. Semua pemikir kelas berat ini dipotret dengan gayanya sendiri-sendiri di depan cermin. Rahner oleh Moses direkam saat berusia 60 tahun, Adorno ketika berumur 61 tahun, dan Carl Off tatkala mencapai 68 tahun. Pada tahun 1998, untuk memperingati 50 tahun akademi seni Bayerischen Akademie der Schonen Kunste, Moses menjalankan proyek bertema Jeder Mensch ist eine Gesselschaft (Setiap Individu Adalah Masyarakat Kecil). Dalam proyek itu semua anggota civitas academica dibimbing untuk memotret dirinya sendiri di hadapan cermin.
Moses lahir pada 1928 di Liegnitz, Silesia (kini Legnica, Polandia). Esai foto pertamanya adalah seri bekas vila sastrawan Thomas Mann yang ditinggalkannya karena diusir oleh Nazi. Saat Nazi berkuasa, Moses sebenarnya mendapatkan sebuah visa untuk eksil ke AS, tapi itu tak digunakannya. Hidupnya seolah diabdikan untuk mengiringi perjalanan manusia Jerman dari waktu ke waktu. Tahun 1950 ia berkerja sebagai fotografer Neue Zeitung dan majalah Revue, lalu 10 tahun kemudian dia bekerja di majalah Stern. Tradisi memotret figur, individu di Jerman, awalnya dipelopori oleh August Sander dengan karya raksasanya, Menschen des 20 Jahrhunderts, yang juga pernah dipamerkan di Jakarta.
Banyak kritikus yang menganggap Moses sangat terpengaruh Sander. Namun, seperti dalam sebuah wawancaranya, Moses justru mengatakan bahwa ia banyak dipengaruhi karya fotografer Amerika Irving Penn dan Richard Avedon.
Ciri khas Moses adalah sering menempatkan individu di depan background kain abu-abu (kecuali seri potretnya di hutan). Seperti kebiasaan fotografer jalanan, ia bisa membentangkan layar abu-abunya di tempat mana pun, di toko, di galeri, stasiun kereta, trotoar. Dan itu digelar dengan tidak rapi, berjumbai-jumbai, kadang kontras dengan situasi sekitar, sehingga menghasilkan pemandangan yang unik. Beberapa pengamat menyebut Moses terpengaruh gagasan dramawan Marxis, Bertold Brecht: alienation (penjarakan). Membentangkan layar di tengah kota seperti menegaskan jarak individu dengan anonimitas orang ramai sekitar. Adapun Moses sendiri, karier awalnya bekerja di Nationaltheater di Weimar, sebagai pendokumentasi pertunjukan.
Saksikan bagaimana ia memotret keseharian masyarakat Jerman Barat dan Timur. Moses meletakkan background abu-abunya itu di dekat apartemen, di jalanan, di mana saja, lalu tukang sapu jalanan, pembersih cerobong asap, kernet trem, penjual koran jalanan, suster-suster, buruh bangunan, penjaga makam bergaya di depannya. Di tangan Moses, kamera menjadi alat berekspresi yang alamiah bagi keseharian masyarakat. Fotografi bukan hal yang luks atau asing bagi masyarakat akar rumput. Mereka semua mampu berekspresi, rileks, wajar, dengan kejenakaan, kepercayaan dirinya masing-masing.
Kanselir Jerman Gerhard Schroeder, dalam pembukan pameran restropeksinya setahun lalu itu, seperti dikutip, menyebut foto-foto Moses mampu menangkap jiwa orang Jerman. Di tengah perkembangan foto digital yang semakin canggih, foto hitam putih Moses, yang diproses manual di kamar gelap, seolah menampilkan kejujuran dan karakter yang lebih dalam. Foto hitam putih bisa menjadi semacam "epifani" yang menyingkap kenangan. Seperti Frans Magnis-Suseno yang kaget dan tertawa ketika membolak-balik halaman buku Stefan Moses, Die Monographie. Frans menemukan foto Marion Grafin Donhoff, seorang wartawati senior yang direkam di tengah hutan. "Wah, saya ingat, saya pernah makan siang bersamanya. Dulu dia adalah pacar Ayah," demikian katanya kepada TEMPO mengenang.
Seno Joko Suyono
|